Senin, Juni 15, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Komodo dan Otonomi yang Pincang: Siapa Sebenarnya Untung?

by teguh
April 25, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter
Taman Nasional Komodo terus menghasilkan uang untuk negara. Wisatawan datang, devisa masuk, PNBP menembus Rp100 miliar. Tapi di balik angka itu, Manggarai Barat justru bertanya satu hal sederhana daerah dapat apa? Di Labuan Bajo, tarik-ulur lama kembali muncul. Siapa yang berhak menentukan nasib kawasan strategis pusat saja, atau daerah yang menanggung dampaknya setiap hari?.

Tabooo.id: Nasional – Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi meminta rencana kajian ulang kuota pengunjung Taman Nasional Komodo tidak diputuskan sepihak. Ia menegaskan kebijakan sebesar itu harus melibatkan semua pihak, terutama pemerintah daerah. Pernyataan itu disampaikan saat kunjungan Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto bersama anggota dewan dan Wakil Kementerian Kehutanan Rohmat Marzuki di Labuan Bajo, Jumat (24/04/2026) hingga Sabtu (25/04/2026).

“Mesti ada rapat bersama karena kalau hanya Kementerian Kehutanan, tidak akan menyelesaikan persoalan,” kata Endi.

Menurutnya, pengaturan kuota bukan sekadar soal konservasi. Di dalamnya ada urusan transportasi, ekonomi warga, pariwisata, pelabuhan, hingga ekosistem laut. Karena itu, ia meminta keterlibatan lintas kementerian.

“Kementerian Kehutanan menetapkan terkait kuota, tapi ingat pintu masuknya tetap di Kementerian Perhubungan,” ujarnya.

Otonomi Daerah yang Sering Berhenti di Pintu Gerbang

Masalahnya bukan hanya jumlah wisatawan. Ini soal pola lama pusat mengambil keputusan, daerah menerima akibat.

Ini Belum Selesai

Kemasan Diseragamkan: Pemerintah Persempit Ruang Promosi Industri Rokok

77 Ribu Calon Siswa Belum Tertampung Sekolah Negeri Jabar Cari Solusi

Guru Besar Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. Agus Pramusinto pernah menegaskan bahwa desentralisasi akan kehilangan makna bila daerah hanya menjadi pelaksana teknis tanpa ruang menentukan kebijakan strategis (Seminar Nasional Tata Kelola Daerah, Yogyakarta, 12/08/2024).

“Otonomi daerah bukan hadiah administratif. Ia adalah hak mengelola kepentingan lokal secara rasional,” ujarnya. Kalimat itu terasa relevan di Komodo hari ini.

Manggarai Barat menghadapi lonjakan wisatawan, tekanan sampah, kemacetan kawasan, kebutuhan air bersih, hingga beban infrastruktur. Namun saat keputusan kuota dibahas, suara daerah justru kerap datang belakangan.

Rp100 Miliar Masuk Negara, Daerah Nol?

Dalam kesempatan yang sama, Endi menyoroti pembagian pendapatan dari kunjungan wisata Komodo. Menurutnya, penerimaan negara bukan pajak dari kawasan itu telah melampaui Rp100 miliar tahun lalu.

Namun daerah, kata dia, belum merasakan pembagian langsung.

“Kita tidak dapat apa-apa, bu. Nol bahkan buntung,” kata Endi.

Kalimat itu tajam karena sederhana. Negara menikmati pemasukan. Daerah menanggung beban pelayanan.

Ekonom pariwisata Universitas Indonesia Dr. Fithra Faisal Hastiadi dalam diskusi ekonomi kawasan, Jakarta (17/11/2025), menyebut destinasi premium hanya sehat jika nilai ekonomi mengalir ke masyarakat sekitar.

“Kalau uang berputar di pusat saja, daerah akan menjadi panggung tanpa pemain utama,” ujarnya.

Usul Destinasi Alternatif

Endi juga meminta Pemkab Manggarai Barat dilibatkan agar bisa menyiapkan titik wisata baru di luar kawasan inti Komodo. Tujuannya agar kunjungan tidak menumpuk di satu lokasi.

“Spot-spot yang belum dikelola karena keterbatasan sarana itu masih sangat banyak dan lebih indah dari yang ada ini,” katanya.

Artinya jelas daerah tidak hanya menuntut jatah. Daerah menawarkan solusi.

DPR Janji Bahas

Menanggapi keluhan itu, Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto menyatakan akan membahas persoalan tersebut dengan pemerintah pusat.

“Karena ini daerah pariwisata yang penting. Turisnya bisa banyak, devisa negaranya lebih banyak masuk. Pemerintah daerah harus kebagian,” ujarnya, Sabtu (25/04/2026).

Komodo Bukan Sekadar Soal Kadal Purba

Isu ini bukan cuma tentang satwa langka atau tiket wisata. Ini cermin hubungan pusat dan daerah di Indonesia.

Saat daerah diminta menjaga alam, merawat warga, dan menyambut wisatawan, logikanya daerah juga harus ikut menentukan arah kebijakan.

Kalau tidak, otonomi tinggal slogan. Dan Komodo hanya jadi etalase mahal yang keuntungannya pergi ke tempat lain. @teguh

Tags: DestinasiEkonomKebijakan PublikKementerian KehutananKomisi IV DPR RIKomodoLabuan BajoNegaraPariwisataPNBPSolusiTaman Nasional Komodo

Kamu Melewatkan Ini

Aksi Mahasiswa 12 Juni: Saat Generasi Membaca Kegelisahan Rakyat

Aksi Mahasiswa 12 Juni: Saat Generasi Membaca Kegelisahan Rakyat

by Tabooo
Juni 15, 2026

Mahasiswa turun ke jalan pada 12 Juni 2026 bukan hanya karena satu kebijakan. Mereka membawa kegelisahan yang lebih dalam tentang...

Sekolah Negeri Tak Cukup: 77 Ribu Calon Siswa Jadi Korban Sistem

Sekolah Negeri Tak Cukup: 77 Ribu Calon Siswa Jadi Korban Sistem

by teguh
Juni 14, 2026

Sabtu malam seharusnya menjadi momen lega bagi ribuan keluarga di Jawa Barat. Namun ketika hasil Penerimaan Calon Murid Baru (PCMB)...

Lima Juta Kendaraan Menunggak: Krisis Kepatuhan atau Daya Beli yang Melemah?

Lima Juta Kendaraan Menunggak: Krisis Kepatuhan atau Daya Beli yang Melemah?

by teguh
Juni 11, 2026

Lima juta kendaraan di Jawa Tengah tidak membayar pajak hingga akhir 2025. Angka itu bukan sekadar catatan administrasi. Nilainya mencapai...

Next Post
Raja Mogok: Bangsawan yang Mematikan Kekuasaan dengan Diamnya Buruh Jawa

Raja Mogok: Bangsawan yang Mematikan Kekuasaan dengan Diamnya Buruh Jawa

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id