Di tengah perjalanan panjang Indonesia melawan buta huruf, program pemberantasan aksara tidak lagi berdiri sekadar sebagai agenda pendidikan nasional. Ia menjelma menjadi upaya besar negara untuk membongkar ketimpangan pengetahuan yang selama puluhan tahun membatasi hak paling dasar warga: memahami dunia melalui tulisan.
Tabooo.id: Vibes – Perjuangan melawan buta huruf di Indonesia membuka babak penting dalam sejarah sosial bangsa. Dari ruang-ruang belajar sederhana di desa hingga program nasional seperti Kejar, upaya ini bukan hanya soal mengajarkan huruf, tetapi juga tentang merebut kembali hak dasar manusia: kemampuan membaca, memahami, dan menentukan masa depannya sendiri.
Di sebuah ruang belajar sederhana, seorang ibu menggenggam pensil dengan tangan yang gemetar. Di depannya, huruf-huruf Latin terasa asing, tapi sekaligus menjanjikan sesuatu yang baru: masa depan.
Ini bukan adegan fiksi. Ini potongan nyata sejarah Indonesia ketika jutaan orang dewasa kembali belajar membaca dan menulis dari nol.
Potret Awal: Saat Huruf Masih Jadi Kemewahan
Pada 1980, sekitar 28,8 persen penduduk Indonesia masih belum bisa membaca dan menulis. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan potret keterbatasan akses pendidikan yang tersisa setelah euforia kemerdekaan.
Namun perlahan, perubahan itu bergerak. Pada 1996, angka buta huruf turun drastis menjadi hanya 5,86 persen. Di balik penurunan itu, ada ribuan ruang kelas sederhana, kursus malam, dan kelompok belajar yang tumbuh dari desa hingga kota.
Ruang-ruang Belajar Yang Menjadi Titik Balik
Sejak awal 1950-an, pemerintah mulai menggerakkan program pemberantasan buta huruf secara masif. Di ruang-ruang sederhana balai desa, rumah warga, hingga sekolah darurat orang tua duduk sejajar dengan anak muda.
Mereka belajar mengeja huruf demi huruf. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga memandu tangan-tangan yang baru pertama kali menulis nama mereka sendiri.
Di masa itu, membaca bukan sekadar kemampuan teknis. Ia adalah lompatan sosial yang memisahkan masa lalu yang terbatas dengan masa depan yang lebih terbuka.
Program Kejar dan Lahirnya Generasi Aksara
Data pada 1971 mencatat sekitar 41,01 persen penduduk usia di atas 10 tahun masih tuna aksara. Pemerintah kemudian merespons dengan berbagai kebijakan, termasuk kewajiban belajar serta program Kejar (Kelompok Belajar) pada 1978.
Program ini tidak hanya menyasar pendidikan formal. Ia hadir untuk mereka yang terlewat dari sistem sekolah: buruh, petani, dan ibu rumah tangga yang selama ini hidup tanpa akses literasi dasar.
Buku Paket A1 hingga A100 menjadi alat utama. Dari mengenal huruf, hingga membuka jalan menuju pendidikan formal dan peluang sosial yang lebih luas.
Harga di Balik Sebuah Aksara
Namun perjuangan itu tidak ringan. Pada akhir 1970-an, kebutuhan buku untuk program ini mencapai ratusan juta eksemplar, dengan biaya lebih dari Rp 1 miliar angka yang sangat besar untuk ukuran masa itu.
Di balik angka-angka tersebut, ada satu hal yang jauh lebih mahal waktu, kesabaran, dan konsistensi manusia yang belajar dari nol di usia yang tidak lagi muda.
Kemerdekaan Kedua Yang Sunyi
Pemberantasan buta huruf bukan hanya proyek pendidikan. Ia adalah proyek kemanusiaan.
Di Blitar, Subang, hingga pelosok desa lainnya, orang-orang yang dulu tidak bisa menandatangani nama sendiri, perlahan mampu membaca surat kabar, menulis surat, bahkan memahami dunia yang lebih luas.
Namun perjalanan itu tidak berhenti di sana. Tantangan baru muncul minat baca yang rendah dan keterbatasan akses buku, yang perlahan menjadi wajah baru dari persoalan literasi.
Setelah Huruf Tak Lagi Asing
Meski Indonesia belum sepenuhnya bebas buta huruf, capaian besar sudah tercatat jelas. Dari hampir sepertiga penduduk pada 1980, menjadi hanya sebagian kecil pada akhir 1990-an.
Namun satu pertanyaan tetap menggantung di ruang sejarah ini setelah bisa membaca, apakah kita benar-benar membaca?
Perjuangan melawan buta huruf memang berhasil mengubah angka. Tapi tantangan berikutnya jauh lebih sunyi mengubah kebiasaan. Dari sekadar mampu membaca, menjadi benar-benar ingin membaca.
Dan di titik itulah, cerita ini belum benar-benar selesai. @dimas





