Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Selat Malaka Mau Dipajaki? Usulan Purbaya Langsung Ditolak Negara Tetangga

by dimas
April 25, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Di tengah sensitifnya jalur perdagangan global yang melibatkan Indonesia, Malaysia, dan Singapura, sebuah wacana pajak kapal di Selat Malaka justru memicu gelombang penolakan dari dua negara tetangga.

Tabooo.id: Global – Wacana pungutan kapal di Selat Malaka memicu ketegangan diplomatik baru di kawasan Asia Tenggara. Ide ini langsung ditolak oleh Singapura dan Malaysia, dua negara yang berbagi jalur strategis tersebut bersama Indonesia.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memunculkan gagasan pengenaan biaya bagi kapal yang melintas di Selat Malaka. Ia menilai Indonesia punya posisi strategis dalam perdagangan global yang bisa dimanfaatkan lebih jauh. Namun, ide itu langsung memicu reaksi keras dari Singapura dan Malaysia.

Ide Pajak dari Selat Hormuz Jadi Perbandingan

Purbaya membandingkan Selat Malaka dengan Selat Hormuz yang menerapkan pungutan kapal. Ia menyebut skema serupa bisa memberi tambahan pemasukan bagi negara di kawasan.

Dalam forum di Jakarta, ia menjelaskan bahwa kapal yang melintas bisa dikenai biaya. Ia juga mengusulkan pembagian pendapatan antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

“Kalau kapal lewat Selat Malaka kita charge seperti Iran di Selat Hormuz, lalu dibagi tiga, lumayan kan,” kata Purbaya.

Ini Belum Selesai

Ketika Polisi Dilarang Nge-Vape, Siapa yang Mengawasi Pengawas?

Banjir Lahar Dingin Semeru Jebol Tanggul, Akses Jalan Lumajang Terputus

Pernyataan itu langsung memicu respons dari negara tetangga.

Singapura Tegaskan Penolakan

Singapura langsung menolak gagasan tersebut. Menteri Luar Negeri Vivian Balakrishnan menegaskan bahwa jalur pelayaran internasional harus tetap bebas.

Ia menyebut tidak ada ruang untuk pungutan sepihak di wilayah perairan strategis. Ia juga menekankan bahwa prinsip kebebasan navigasi melindungi semua negara.

“Kami tidak akan berpartisipasi dalam upaya apa pun untuk mengenakan tarif di wilayah sekitar kami,” tegasnya.

Malaysia Minta Keputusan Kolektif

Malaysia juga menolak ide tersebut. Menteri Luar Negeri Mohamad Hasan menegaskan bahwa Selat Malaka tidak bisa diatur sepihak.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand selama ini mengelola kawasan itu bersama. Mereka juga menjalankan patroli gabungan untuk menjaga keamanan jalur laut.

Ia menegaskan semua kebijakan baru harus melalui kesepakatan bersama agar stabilitas kawasan tetap terjaga.

Klarifikasi Purbaya: Bukan Rencana Pemerintah

Di tengah polemik, Purbaya meluruskan ucapannya. Ia menegaskan bahwa ide tersebut tidak mewakili kebijakan pemerintah.

“Bukan konteks serius. Kami tidak pernah merencanakan pungutan itu,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa Indonesia tunduk pada Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS). Aturan itu melarang negara mengenakan biaya sepihak pada kapal yang melintas.

Selat Malaka Bukan Jalur Biasa

Selat Malaka memegang peran penting dalam perdagangan global. Ribuan kapal melintas setiap tahun membawa energi dan barang kebutuhan dunia.

Setiap perubahan kebijakan di kawasan ini bisa memicu efek berantai. Harga barang, energi, hingga biaya logistik bisa ikut terdampak.

Pertanyaan yang Tersisa

Wacana ini membuka diskusi baru tentang bagaimana negara mengelola jalur strategis dunia. Di satu sisi, muncul peluang ekonomi. Di sisi lain, ada aturan internasional yang membatasi langkah sepihak.

Lalu, apakah jalur seperti Selat Malaka bisa berubah menjadi sumber pemasukan baru, atau tetap harus bebas demi menjaga stabilitas global? @dimas

Tags: ekonomi globalGeopolitik AsiaMalaysiaNasionalPurbaya Yudhi SadewaSelat HormuzSelat MalakaSingapura

Kamu Melewatkan Ini

Benarkah Purbaya Dipersiapkan Jadi Wapres?

Benarkah Purbaya Dipersiapkan Jadi Wapres?

by eko
Oktober 6, 2026

Benarkah Purbaya dipersiapkan jadi wapres? Cek fakta menunjukkan klaim tersebut belum memiliki bukti resmi. Purbaya memilih fokus bekerja. Tabooo.id -...

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Sentimen Malaysia Berlanjut

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Sentimen Malaysia Berlanjut

by eko
Oktober 6, 2026

Indonesia juara FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand. Sentimen Malaysia terhadap Indonesia masih berlanjut di media sosial. Tabooo.id -...

Seruan Boikot Brand Indonesia Muncul di Malaysia

Seruan Boikot Brand Indonesia Muncul di Malaysia

by eko
Oktober 6, 2026

Seruan boikot brand Indonesia muncul di Malaysia setelah Indonesia melaju ke final FIFA ASEAN Cup 2026. Rivalitas sepak bola ikut...

Next Post
Selat Malaka: Jalur Emas Dunia yang Tak Pernah Benar-Benar Dimiliki Siapa Pun?

Selat Malaka: Jalur Emas Dunia yang Tak Pernah Benar-Benar Dimiliki Siapa Pun?

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id