Setiap 2 Mei Hari Pendidikan Nasional kembali memunculkan satu pertanyaan yang belum selesai: apakah kita benar-benar memahami arah pendidikan Indonesia hari ini, atau hanya menjadikannya seremoni tahunan tanpa membaca ulang ketimpangan sistem yang terus diwariskan?
Tabooo.id: Vibes – Selama ini kita mengenang 2 Mei sebagai hari lahir Ki Hadjar Dewantara. Kita mengisinya dengan upacara bendera dan pidato formal tentang pentingnya pendidikan. Namun jika kita tarik lebih dalam, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) bukan sekadar ritual negara. Ia lahir dari sejarah panjang perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial yang eksklusif, yang hanya membuka akses bagi segelintir orang, sementara yang lain tertinggal di luar pagar pengetahuan.
Setiap 2 Mei, Indonesia tidak hanya mengibarkan bendera di sekolah. Momen ini juga mengajak kita berhenti sejenak dan bercermin. Hardiknas tidak berdiri sebagai agenda tahunan semata. Ia mengingatkan bahwa pendidikan tumbuh dari luka sejarah, perjuangan sosial, dan harapan yang belum selesai.
Di balik tanggal ini, nama Ki Hadjar Dewantara terus hidup dalam ingatan bangsa. Ia bukan hanya Bapak Pendidikan Nasional, tetapi juga simbol perlawanan terhadap sistem yang dulu menentukan siapa yang boleh belajar dan siapa yang tidak.
Dari Taman Siswa hingga Ruang Kelas Hari Ini
Jauh sebelum kata inklusi menjadi kebijakan resmi, Ki Hadjar Dewantara sudah menjalankannya. Ia mendirikan Taman Siswa pada 1922. Lembaga ini membuka ruang belajar bagi mereka yang tersingkir dari sistem kolonial.
Pendidikan saat itu tidak memberi ruang yang setara. Ki Hadjar Dewantara menolak kondisi itu. Ia tidak melawan dengan senjata, tetapi dengan ruang kelas sederhana yang memberi kesempatan anak bangsa untuk tumbuh dan berpikir merdeka.
Ia juga meninggalkan nama lahirnya, Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia memilih menjadi Ki Hadjar Dewantara. Perubahan itu tidak hanya simbolik. Ia menandai perubahan arah sejarah pendidikan Indonesia.
Hardiknas: Dari Seremoni ke Kesadaran
Hardiknas ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Penetapan ini bertepatan dengan hari lahir Ki Hadjar Dewantara. Negara mengabadikan gagasannya setelah ia wafat pada 1959.
Namun cara bangsa ini memperingatinya terus berubah.
Pada masa Orde Lama dan Orde Baru, Hardiknas berjalan kaku. Negara mengisinya dengan upacara dan pidato resmi. Setelah Reformasi, maknanya mulai bergeser. Pendidikan tidak lagi berhenti di podium. Ia hadir di ruang diskusi, festival, hingga ruang digital yang lebih terbuka.
Kini Hardiknas menyentuh isu yang lebih kompleks. Kita berbicara tentang transformasi digital, kesenjangan akses, dan kualitas pendidikan yang belum merata di banyak daerah.
Pendidikan di Era Baru: Tantangan yang Berbeda
Dunia berubah cepat. Pendidikan Indonesia ikut terdorong perubahan itu. Teknologi masuk ke ruang kelas dengan cepat. Namun tidak semua wilayah mampu mengikutinya.
Sebagian sekolah sudah menggunakan sistem digital. Sebagian lain masih berjuang dengan fasilitas dasar. Kesenjangan ini membuat makna “pendidikan untuk semua” kembali dipertanyakan.
Akibatnya, pendidikan hari ini tidak hanya soal kurikulum dan ruang kelas. Ia juga soal akses yang tidak merata, kualitas yang timpang, dan kemampuan beradaptasi yang belum selesai. Pendidikan tidak hanya menjadi alat mobilitas sosial. Ia juga menjadi cermin untuk melihat apakah bangsa ini benar-benar belajar dari sejarahnya.
Semboyan yang Masih Hidup
“Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”
Semboyan ini tidak hanya terpajang di dinding sekolah. Ia memuat cara pandang tentang pendidikan. Pemimpin harus memberi teladan, membangun semangat di tengah, dan mendorong dari belakang.
Namun kita perlu bertanya jujur. Apakah sistem pendidikan hari ini masih menjalankan nilai itu dengan utuh?
Lebih dari Sekadar Peringatan
Hardiknas bukan sekadar hari seremonial. Ia menjadi ruang untuk bertanya ulang arah pendidikan bangsa.
Kurikulum terus berubah. Teknologi bergerak lebih cepat. Dunia menuntut lebih banyak. Namun satu hal tetap sama: pendidikan menjadi fondasi utama sebuah bangsa.
Setiap 2 Mei seharusnya tidak hanya mengingat masa lalu. Kita juga perlu menagih masa depan yang lebih adil dan merata.
Karena jika pendidikan adalah cermin bangsa, pertanyaannya sederhana tapi tajam: kita sedang melihat kemajuan, atau hanya bayangan yang belum berubah? @dimas





