Tan Malaka bongkar diplomasi RI, dan yang ia temukan bukan kemenangan, tapi kemunduran yang pelan tapi pasti. Ia melihat kemerdekaan yang baru seumur jagung justru mulai terkikis, bukan oleh senjata, tapi oleh meja perundingan.

Tabooo.id: Deep – Indonesia pernah berdiri dengan keyakinan penuh: merdeka 100%. Bendera berkibar, rakyat bergerak, dan dunia akhirnya melihat Indonesia sebagai bangsa baru yang lepas dari penjajahan panjang. Namun hanya dalam waktu singkat, keyakinan itu mulai retak. Wilayah menyusut, kekuasaan melemah, dan arah politik ikut berubah.
Yang lebih mengejutkan, bangsa ini tidak kehilangan itu lewat kekalahan di medan perang. Para elite justru menggeser arah lewat meja perundingan yang seharusnya menjaga kedaulatan. Di titik ini, para pengambil keputusan tidak lagi mempertahankan kemerdekaan. Mereka mulai menukarnya sedikit demi sedikit.
Saat Dunia Dikuasai Kepentingan, Indonesia Masuk Permainan Besar
Berdasarkan sumber dokumen Tan Malaka – Sambutan Murba (1948), dunia pasca Perang Dunia II bukan ruang netral bagi negara baru seperti Indonesia. Kekuatan global sudah terbelah antara blok kapitalis dan sosialis. Namun dalam praktiknya, kekuatan kapitalis, terutama Amerika, memegang kendali lebih besar dalam forum internasional.
Dalam situasi seperti itu, Indonesia tidak berdiri sebagai pemain kuat. Kekuatan global langsung menempatkan Indonesia sebagai objek kepentingan. Setiap keputusan internasional tidak bergerak dari hukum atau keadilan, tetapi dari pengaruh, utang, dan tekanan. Negara kuat menentukan arah, sementara negara lemah mengikuti arus. Sejak awal, para aktor global sudah mengatur medan diplomasi ini agar tidak pernah benar-benar seimbang.
KTN: Penengah atau Pemain Berkepentingan?
Secara formal, Komisi Tiga Negara hadir sebagai penengah konflik antara Indonesia dan Belanda. Namun dalam praktiknya, posisi itu tidak pernah benar-benar netral. Tan Malaka menggambarkan bagaimana pihak-pihak ini bisa bersikap fleksibel, bahkan manipulatif, tergantung situasi yang menguntungkan mereka.
Mereka tampil ramah saat ingin menjaga citra, tetapi langsung menekan ketika kepentingan mereka terganggu. Mereka membangun ilusi seolah mendukung Indonesia, padahal mereka tetap mengarahkan kebijakan ke kepentingan kolonial. Dalam situasi ini, “penengah” tidak lagi netral. Mereka ikut mengatur hasil, bukan sekadar memfasilitasi proses.
Lebih jauh, Tan Malaka melihat fokus utama kekuatan asing tidak pernah benar-benar pada kemerdekaan Indonesia. Mereka membidik sumber daya, pasar, dan posisi strategis Indonesia dalam konflik global. Mereka memandang Indonesia sebagai alat ekonomi dan geopolitik. Ini bukan sekadar urusan politik, ini permainan kekuasaan jangka panjang.
Masalahnya Bukan Belanda. Tapi Mentalitas
Di titik ini, kritik Tan Malaka menjadi sangat personal dan tajam. Ia tidak hanya menyalahkan kekuatan asing. Ia justru menyorot kelemahan dari dalam. Ia melihat adanya rasa rendah diri yang kuat di kalangan elite diplomasi Indonesia saat berhadapan dengan pihak asing.
Rasa inferior ini membuat mereka cenderung patuh, berhati-hati berlebihan, dan takut mengambil posisi tegas. Mereka lebih khawatir pada penilaian luar daripada tekanan dalam negeri. Namun ironisnya, sikap ini berbalik ketika menghadapi rakyat sendiri. Terhadap kelompok yang lebih keras dan radikal, mereka justru menunjukkan sikap represif.
Situasi ini menciptakan ironi besar. Mereka yang berani melawan penjajah langsung dilabeli ekstrem. Sementara itu, para elite justru memuji mereka yang berkompromi dengan tekanan asing sebagai sosok “realistis”. Di sinilah Tan Malaka melihat adanya ketimpangan moral dalam cara negara memperlakukan lawan dan kawan.
Dari Linggarjati ke Renville: Kehilangan yang Tidak Terasa Seketika
Proses diplomasi yang berjalan tidak langsung terasa sebagai kekalahan. Justru terlihat seperti kemajuan, karena ada kesepakatan, pengakuan, dan komunikasi. Namun di balik itu, wilayah demi wilayah mulai lepas dari kendali Republik.
Perjanjian demi perjanjian tidak hanya mengatur konflik. Para perunding justru membuka jalan bagi lahirnya negara-negara baru di luar kendali Indonesia. Mereka memisahkan wilayah yang dulu berada dalam Republik, membentuk entitas baru, lalu mengarahkannya untuk melemahkan struktur negara.
Dalam waktu singkat, perubahan ini langsung terasa drastis. Indonesia yang sebelumnya mengklaim wilayah luas sebagai satu kesatuan kini hanya menguasai sebagian kecil. Negara tidak kehilangan semua itu dalam satu peristiwa besar. Para elite justru menggerus kedaulatan lewat rangkaian keputusan yang terlihat kecil, tapi berdampak besar.
Program Pemerintah: Solusi atau Jalan Mundur?
Di tengah wilayah yang terus menyempit, pemerintah tetap menjalankan program yang mereka anggap sebagai solusi. Mereka melanjutkan perundingan, mulai menyiapkan struktur negara federal, lalu menyesuaikan kebijakan ekonomi dan militer dengan arah baru.
Namun Tan Malaka melihat langkah-langkah ini sebagai kompromi yang berbahaya. Ia menilai pemerintah secara tidak langsung mengakui kondisi yang tidak adil lewat perundingan yang terus berulang. Ia juga melihat rencana negara federal sebagai langkah mundur yang membuka jalan bagi kontrol asing. Di saat yang sama, pemerintah melemahkan kekuatan sendiri lewat kebijakan rasionalisasi militer, padahal kekuatan itulah yang sebelumnya menjaga kemerdekaan.
Pembangunan ekonomi juga tidak luput dari kritik. Jika arah pembangunan bergantung pada modal asing, maka kemerdekaan ekonomi tidak pernah benar-benar tercapai. Dalam pandangan ini, pembangunan justru berpotensi menjadi pintu masuk bagi bentuk penjajahan baru yang lebih halus.
Bukan Sekadar Diplomasi, Tapi Pola Kekalahan Sistemik
Apa yang disampaikan Tan Malaka bukan sekadar kritik terhadap satu periode sejarah. Ia menunjukkan pola yang lebih besar. Ketika sebuah negara masuk ke dalam sistem global tanpa posisi tawar yang kuat, maka keputusan-keputusan yang diambil cenderung mengikuti arus, bukan menentukan arah.
Ini bukan hanya tentang satu perjanjian atau satu kebijakan. Ini tentang bagaimana sistem bekerja. Ketika tekanan luar lebih dominan daripada kekuatan internal, maka hasil akhirnya hampir selalu sama: kedaulatan dikompromikan sedikit demi sedikit, sampai akhirnya sulit dikenali lagi.
Seruan Murba: Lawan, Bukan Tawar
Di tengah kritik keras itu, Tan Malaka tetap menawarkan arah. Ia menyerukan perlawanan, bukan sekadar penolakan simbolik, tetapi perubahan strategi secara menyeluruh. Ia percaya bahwa kekuatan utama bangsa bukan pada diplomasi elit, tetapi pada rakyat itu sendiri.
Ia mendorong agar perjuangan tidak bergantung pada pengakuan luar, tetapi pada kekuatan internal yang terorganisir. Ia melihat bahwa selama rakyat masih memiliki semangat dan kesadaran, maka kemerdekaan masih bisa diperjuangkan, bukan dinegosiasikan.
Seruan ini bukan sekadar retorika. Ini adalah ajakan untuk mengubah cara berpikir. Dari bergantung menjadi mandiri. Takut menjadi berani. Dari kompromi menjadi perlawanan.
Kenapa Ini Masih Relevan?
Cerita ini tidak berhenti di tahun 1948. Pola yang sama bisa muncul dalam bentuk berbeda di masa sekarang. Ketika kebijakan ekonomi bergantung pada luar, ketika keputusan politik lebih mempertimbangkan tekanan global daripada kebutuhan rakyat, maka dampaknya akan terasa langsung.
Kamu mungkin tidak melihatnya sebagai kehilangan wilayah. Tapi kamu bisa merasakannya dalam bentuk lain. Harga yang naik, kesempatan yang terbatas, atau kebijakan yang terasa jauh dari kepentingan masyarakat.
Ini bukan lagi soal sejarah. Ini soal bagaimana keputusan dibuat, dan siapa yang benar-benar diuntungkan dari keputusan itu.
Apakah Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?
Tan Malaka melihat kemerdekaan sebagai sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar simbol. Ia melihatnya sebagai kemampuan untuk menentukan arah sendiri, tanpa tekanan yang menentukan hasil.
Pertanyaan itu masih relevan sampai hari ini. Apakah kita benar-benar berdiri di atas keputusan sendiri, atau hanya menyesuaikan diri dengan sistem yang lebih besar?
Jawabannya mungkin tidak sederhana. Tapi satu hal jelas: kemerdekaan tidak pernah benar-benar selesai. Ia selalu diuji, setiap kali keputusan besar diambil. @tabooo





