Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Darah Muda Menjaga Warisan Tua di Singgasana

by sigit
November 17, 2025
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Opini – Rabu Legi, 5 November 2025, halaman Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dipenuhi duka, doa, dan sejarah yang berulang. Di tengah prosesi pelepasan jenazah Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XIII menuju makam raja-raja di Imogiri, Bantul, terdengar suara lantang nan bergetar:

“Ingsun Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram… hanglintir kaprabon Dalem minangka Sri Susuhunan Karaton Surakarta Hadiningrat kanthi sesebutan Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono kaping Patbelas (XIV).”

Tradisi yang Tidak Membeku

Dalam banyak narasi budaya, regenerasi sering dianggap ancaman bagi kesakralan. Tetapi sejarah selalu membuktikan, tradisi yang abadi adalah tradisi yang mau beradaptasi tanpa kehilangan ruh.
Itulah esensi dari momen ini.
Pengukuhan Pakubuwono XIV, seorang raja muda di era digital, menandai pertemuan antara mistisisme Jawa dan modernitas global.

Keraton bukan lagi sekadar simbol nostalgia atau peninggalan feodal. Dengan kepemimpinan muda, keraton berpotensi menjadi pusat dialog budaya  menghubungkan akar nilai Jawa dengan realitas zaman yang penuh algoritma dan kecerdasan buatan.

Raja Muda di Era Digital: Dari Pusaka ke Platform

Zaman berubah. Masyarakat di luar tembok keraton kini menilai seseorang bukan lagi dari garis keturunan, melainkan dari kemampuan berkomunikasi, membangun narasi, dan berkolaborasi.
Seorang raja di era digital harus pandai “nguwongke”  memanusiakan jarak antara istana dan rakyat, antara tradisi dan modernitas.

Ini Belum Selesai

LCC 4 Pilar atau Lomba Artikulasi? Ketika Pengetahuan Kalah oleh Teknis

Nobar Film Pesta Babi Dibubarkan, Ada Apa dengan Demokrasi Kita?

Hamangkunegoro dengan energi muda dan latar pendidikan modern berada di titik temu antara dua kutub besar:

  • di satu sisi, ia adalah penjaga pakem dan adat;
  • di sisi lain, ia punya peluang menjadi jembatan menuju pembaruan budaya Jawa melalui teknologi, media, dan pendekatan kontemporer.

Bayangkan bila keraton membuka ruang digital untuk mengarsipkan naskah kuno, menyiarkan upacara adat secara daring, atau mengajak generasi muda memahami filosofi Hamemayu Hayuning Bawana lewat konten modern.
Maka, kepemimpinan ini bukan sekadar melanjutkan tahta tetapi menghidupkan kembali roh kebudayaan di dunia maya.

Lintas Generasi: Antara Yang Luhur dan Yang Lincah

Keberadaan raja muda seperti Pakubuwono XIV adalah simbol “lintas generasi” yang sesungguhnya. Ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, menganyam kisah klasik dengan ritme zaman baru.
Jika generasi terdahulu menjaga nilai dengan ketenangan, maka generasi kini menjaga nilai dengan kecepatan dan konektivitas.

Keduanya tak bisa dipertentangkan.
Sebab keluhuran budaya Jawa bukanlah tentang menolak perubahan, melainkan menyucikan niat di tengah perubahan itu sendiri.
Kebijaksanaan leluhur Jawa yang menekankan harmoni dan keseimbangan  justru menemukan relevansinya di tengah hiruk pikuk dunia modern yang serba bising dan terpecah.

Kesakralan yang Tidak Retak

Banyak yang khawatir: apakah masuknya generasi muda ke takhta akan mengikis kesakralan?
Jawabannya: tidak, selama roh spiritual tetap menjadi panglima.
Kesakralan bukanlah benda rapuh yang hancur karena disentuh teknologi  ia adalah api yang justru bisa menyala lebih terang jika dijaga dengan niat yang tulus dan cara yang cerdas.

Ikrar di tengah prosesi duka itu mengandung lapisan makna yang dalam.
Bukan hanya tentang pewarisan darah, tetapi pewarisan visi.
Ketika Hamangkunegoro mengucapkan sumpahnya di hadapan jenazah ayahandanya, seolah sejarah berkata:

“Kini saatnya masa lalu beristirahat, dan masa depan mengambil peran.”

Rabu Legi, 5 November 2025, menandai bukan hanya hari ketika PB XIII dilepaskan menuju peristirahatan terakhirnya di Imogiri, tetapi juga lahirnya era baru kepemimpinan Surakarta era ketika darah muda memegang kendali, namun nilai-nilai tua tetap menjadi kompas arah.

Keraton Surakarta kini punya kesempatan emas: menjadi panggung pertemuan dua dunia yang sakral dan yang digital.
Dan bila berhasil, maka Hamangkunegoro bukan sekadar raja penerus tahta, melainkan arsitek peradaban baru, di mana budaya Jawa tak hanya dikenang, tapi dihidupkan kembali dengan cara yang tak pernah dibayangkan para leluhur. (Sig)

Tags: hadiningratKGPAA HamangkunagorokratonPB XIIIPB XIVRaja SoloSurakartatahta

Kamu Melewatkan Ini

Becak Tidak Mati. Mereka Hanya Disembunyikan.

Becak Tidak Mati: Mereka Hanya Disembunyikan

by jeje
Mei 6, 2026

Pagi belum benar-benar terang ketika Slamet mengayuh becaknya pelan di sudut kota. Roda tuanya berderit kecil. Tangannya kasar. Punggungnya sedikit...

Bukan Skill, Tapi Kepatuhan: Cara Baru Sistem Memilih Manusia

Bukan Skill, Tapi Kepatuhan: Cara Baru Sistem Memilih Manusia

by jeje
Mei 1, 2026

Kita selalu percaya pengalaman adalah kunci. Tapi di sini, tidak ada yang bertanya kamu sudah sejauh apa belajar. Sistem hanya...

Ikuti Aturan atau Ikut Ego: Kamu di Kubu Mana?

Ikuti Aturan atau Ikut Ego: Kamu di Kubu Mana?

by jeje
Mei 1, 2026

Kita sering bilang dunia kerja butuh orang pintar. Tapi kalau kamu diminta diam tanpa alasan, kamu masih mau ikut? Atau...

Next Post
Gubernur Riau Ditangkap KPK: Fee 2,5 Persen yang Menggerus Rasa Malu

Gubernur Riau Ditangkap KPK: Fee 2,5 Persen yang Menggerus Rasa Malu

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id