Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Quarter-Life Crisis: Kenapa Usia 25 Terasa Paling Berat?

by Waras
April 20, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Usia 25 seharusnya jadi titik “mulai jadi”. Tapi kenapa justru terasa seperti kehilangan arah? Kalau kamu merasa tertinggal, bingung, dan terus membandingkan diri—kamu tidak sendirian.

Tabooo.id: Deep – Jam menunjukkan hampir tengah malam. Kamu masih terjaga, menatap layar ponsel yang tak memberi jawaban. Scroll demi scroll. LinkedIn penuh kabar promosi. Instagram penuh liburan dan pencapaian.

Sementara kamu? Masih bergulat dengan satu pertanyaan: hidup ini mau dibawa ke mana?

Itulah wajah paling jujur dari quarter-life crisis yaitu fase yang sering dipoles jadi “proses”, tapi terasa seperti kehilangan arah total.

Ini Bukan Sekadar Perasaan Lewat

Secara data, ini bukan ilusi.

Sekitar 75 persen anak muda usia 25–33 tahun mengaku pernah mengalami fase ini. Mereka merasa terjebak di persimpangan, tanpa peta, tanpa kompas.

Ini Belum Selesai

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggeledahan Ponpes, Ini Kronologi Lengkapnya

Kenduri Dawet: Etika Masyarakat Jatinom dalam Merawat Alam

Tapi persoalannya bukan sekadar “bingung”. Masalah utamanya: kamu hidup di era yang menuntut kepastian, di usia yang penuh keraguan.

Tekanan yang Jarang Dibicarakan

Dari kecil, kita dijejali satu jalur hidup: Sekolah → Kuliah → Kerja → Sukses. Terlihat rapi. Terlihat logis.

Tapi realitanya? Hidup tidak berjalan semulus itu. Sayangnya, standar sukses itu tidak ikut berubah.

Akibatnya, ketika hidupmu melenceng sedikit saja, kamu langsung merasa gagal. Padahal mungkin… kamu hanya sedang hidup secara realistis.

Sosial Media, Mesin Pembanding Tanpa Henti

Dulu, kamu hanya membandingkan diri dengan teman sekitar. Sekarang? dirimu membandingkan hidupmu dengan seluruh dunia. Setiap hari, disibukkan dengan melihat highlight kehidupan orang lain, tanpa tahu proses, tanpa tahu jatuhnya.

Ironisnya, saat membandingkan realita hidupmu dengan versi terbaik orang lain, secara perlahan kamu mulai merasa tertinggal… padahal kamu bahkan tidak tahu garis finishnya di mana.

Ketika Rasa Takut Mengalahkan Gerak

Di titik ini, banyak orang berhenti. Bukan karena malas. Tapi karena takut salah langkah. Takut memilih karier yang salah. Gagal. Tertinggal lebih jauh. Dan di situlah quarter-life crisis berubah jadi jebakan. Kamu tidak bergerak, bukan karena tidak mampu tapi karena terlalu banyak berpikir.

Lalu Muncul Mereka yang “Melompat”

Di tengah stagnasi itu, selalu ada sedikit orang yang memilih jalan berbeda.

Ezra Timothy Nugroho salah satunya. Di usia yang sama 25 tahun, usia yang bagi banyak orang penuh keraguan, ia justru mengambil keputusan besar yaitu melanjutkan studi ke Australia dan ikut ekspedisi ke Antartika. Tempat yang bahkan tidak pernah masuk dalam bayangan sebagian besar orang. Tapi ini bukan soal keberanian ekstrem. Ini soal satu hal yang jarang dibahas yakni ia bergerak meski belum sepenuhnya yakin.

Ini Bukan Cerita Tentang Dia

Kalau dilihat sekilas, ini cerita sukses. Tapi kalau ditarik lebih dalam, ini refleksi. Refleksi bahwa ada dua cara menghadapi ketidakpastian. Menunggu kepastian datang,
atau bergerak meski belum pasti. Dan kebanyakan dari kita memilih yang pertama.

Ini Bukan Krisis Pribadi

Selama ini, quarter-life crisis dianggap masalah individu. Padahal, ini lebih besar dari itu. Ini adalah hasil dari ekspektasi sosial yang terlalu tinggi, standar sukses yang sempit, dan sistem yang tidak memberi ruang untuk gagal.

Kamu tidak “tertinggal”, hanya hidup di sistem yang membuat semua orang merasa kurang. Jadi, kalau kamu sedang merasa tertinggal, tidak cukup, atau bingung arah hidup, itu bukan kelemahan. Itu reaksi normal terhadap tekanan yang tidak normal.

Tapi ada satu hal yang perlu jujur kamu tanyakan ke diri sendiri: Apakah kamu benar-benar tidak tahu jalanmu… atau hanya takut memilih?

Tidak semua orang harus ke Antartika.

Tapi semua orang akan sampai di fase yang sama yaitu bingung, ragu, dan takut salah jalan. Dan mungkin, masalah terbesar bukan karena kamu tidak tahu arah tapi karena kamu menunggu hidup terasa pasti, sebelum berani melangkah. Padahal, hidup tidak pernah benar-benar pasti.

“Kamu bukan tersesat, hanya terlalu lama menunggu arah yang tidak pernah datang.” @waras

Tags: Gen Zkariermental healthOverthinkingPsikologi

Kamu Melewatkan Ini

Perpustakaan Buku: Tempat Healing yang Sering Dilupakan

Perpustakaan Buku: Tempat Healing yang Sering Dilupakan

by teguh
Agustus 4, 2026

Biaya hidup terus naik. Tekanan kerja juga semakin padat. Banyak orang akhirnya mencari cara untuk healing. Ada yang memilih staycation,...

LinkedIn Isinya “Saya Bangga Mengumumkan” Dan Gen Z Mengatakan: Skip Dulu, Kak.

LinkedIn Isinya “Saya Bangga Mengumumkan” Dan Gen Z Mengatakan: Skip Dulu, Kak.

by teguh
Juli 26, 2026

Ketika "Open to Work" seperti yang ada di Linkedin kalah pamor dari "Close Friends". Dunia kerja tak lagi dimulai dari...

Gen Z Menggeser LinkedIn: Dunia Kerja Resmi Masuk Era Algoritma

Gen Z Menggeser LinkedIn: Dunia Kerja Resmi Masuk Era Algoritma

by teguh
Juli 26, 2026

Terlepas dari tampilannya, dunia kerja sedang mengalami perubahan besar. Dunia Kerja Resmi Masuk Era Algoritma. Dulu, satu profil LinkedIn yang...

Next Post
Saat AI Dijanjikan Tambah PDB, Kita Sedang Menjadi Apa?

Saat AI Dijanjikan Tambah PDB, Kita Sedang Menjadi Apa?

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id