Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

by dimas
April 20, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Pantai, sesaji, dan barisan abdi dalem bergerak perlahan menuju laut. Sebagian orang melihatnya sebagai ritual tahunan yang sakral. Banyak juga yang menganggap tradisi ini tidak pernah berubah.
Namun, di balik prosesi itu, muncul satu pertanyaan penting, apakah labuhan hanya ritual, atau kita mulai kehilangan maknanya?

Tabooo.id: Deep – Selama ini, masyarakat memahami labuhan sebagai warisan budaya Jawa yang sarat nilai spiritual. Tradisi ini juga hidup dalam ingatan kolektif sebagai simbol hubungan manusia dengan alam dan leluhur.

Akan tetapi, ada satu kemungkinan yang jarang muncul ke permukaan: bagaimana jika makna labuhan perlahan bergeser, dari ruang sakral menjadi sekadar tontonan?

Tradisi Kembali Digelar

Kraton Surakarta Hadiningrat kembali menggelar Labuhan Uborampe Adang untuk menyambut Tahun Dal 1959 dalam penanggalan Jawa. Prosesi berlangsung di Pantai Parangkusumo, Minggu (19/4/2026), setelah sempat tertunda sejak Desember 2025.

Kraton menunda pelaksanaan karena kondisi kesehatan SISKS Pakoe Boewono XIII. Selain itu, agenda kraton yang padat, Ramadhan, dan Syawal membuat pelaksanaan harus menunggu waktu yang tepat.

Rombongan berangkat dari kraton menuju pantai sambil membawa uborampe atau perlengkapan sesaji. Setibanya di lokasi, para abdi dalem langsung melarung sesaji ke Laut Selatan.

Ini Belum Selesai

Ketika Riset Jadi Tiket Liburan ke Denmark

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

Simbol Leluhur yang Terjaga

Prosesi berlangsung khidmat. Sejumlah tokoh kraton hadir, mulai dari KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo, Gusti Kanjeng Ratu Alit, hingga Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kirono.

Dipokusumo menjelaskan bahwa labuhan menjadi bagian dari rangkaian upacara Adang yang rutin hadir setiap Tahun Dal. Ia menegaskan bahwa uborampe yang dilarung menyimpan nilai historis, termasuk adang Kanjeng Kyai Duda yang berkaitan dengan kisah Jaka Tarub.

“Labuhan hari ini merupakan pelarungan uborampe perangkat ketika upacara Adang setiap Tahun Dal,” ujarnya.

Ia juga menegaskan makna utama labuhan sebagai ungkapan syukur atas rezeki dari alam.

“Kita menerima dari alam, lalu kita kembalikan sebagai bentuk penghormatan,” katanya.

Tafsir yang Mulai Bergeser

Seiring waktu, cara orang memaknai tradisi ini ikut berubah.

Banyak pengunjung datang untuk menyaksikan prosesi secara langsung. Mereka mengangkat ponsel dan merekam setiap momen. Ritual sakral kini berdampingan dengan budaya dokumentasi digital.

Di satu sisi, kondisi ini membuka peluang wisata budaya. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan baru apakah sakralitas masih menjadi inti, atau justru bergeser menjadi konsumsi publik?

Sebagian orang masih mengaitkan labuhan dengan mitos Kanjeng Ratu Kidul. Padahal, kraton menekankan bahwa inti tradisi ini terletak pada filosofi keseimbangan hidup, bukan sekadar unsur mistis.

Lebih dari Sekadar Seremoni

Labuhan mengajarkan hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Manusia mengambil dari alam, lalu mengembalikannya sebagai bentuk kesadaran.

Konsep ini terdengar sederhana. Namun dalam praktik modern, banyak orang justru melupakannya.

Di tengah gaya hidup yang cenderung konsumtif, pesan labuhan terasa semakin relevan. Sayangnya, banyak orang hanya melihat simbolnya, tanpa menjalankan maknanya.

Tradisi ini akhirnya tidak hanya berdiri sebagai ritual budaya, tetapi juga menjadi cermin sosial.

Ketika Makna Dipertanyakan

Kraton Surakarta terus menjaga tradisi ini sebagai bagian dari warisan budaya Jawa. Namun tantangan terbesar tidak terletak pada keberlangsungan ritual, melainkan pada cara generasi baru memahaminya.

Apakah mereka melihatnya sebagai nilai hidup, atau sekadar peristiwa tahunan?

Tradisi mungkin tetap bertahan. Tetapi cara kita memaknainya terus berubah.

Yang berubah bukan tradisinya, tapi cara manusia memahaminya. @dimas

Tags: Budaya IndonesiaKraton Surakarta

Kamu Melewatkan Ini

Kolam Segaran: Jejak Majapahit di Atas Riak Air

Kolam Segaran: Jejak Majapahit di Atas Riak Air

by teguh
Juni 5, 2026

Fajar baru saja menyentuh langit Trowulan ketika cahaya keemasan perlahan memantul di permukaan Kolam Segaran. Udara pagi masih terasa sejuk....

Ketika Franky Sahilatua Menulis Luka Bangsa dari Sebuah Terminal

Ketika Franky Sahilatua Menulis Luka Bangsa dari Sebuah Terminal

by teguh
Juni 4, 2026

Suara mesin bus meraung memecah siang. Debu beterbangan mengikuti langkah para penumpang yang datang dan pergi di sebuah terminal. Matahari...

Dari Kapiten Cina ke Bupati Jawa: Jejak Tan Jin Sing yang Tenggelam dalam Sejarah

Jejak Tan Jin Sing yang Tenggelam dalam Sejarah

by teguh
Juni 2, 2026

Ketika orang membicarakan penemuan kembali Borobudur, satu nama hampir selalu muncul Thomas Stamford Raffles. Namun sejarah sering menyimpan ironi. Di...

Next Post
Quarter-Life Crisis: Usia 25 ke Antartika

Quarter-Life Crisis: Usia 25 ke Antartika

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id