Senin, April 20, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Pantai, sesaji, dan barisan abdi dalem bergerak perlahan menuju laut. Sebagian orang melihatnya sebagai ritual tahunan yang sakral. Banyak juga yang menganggap tradisi ini tidak pernah berubah.
Namun, di balik prosesi itu, muncul satu pertanyaan penting, apakah labuhan hanya ritual, atau kita mulai kehilangan maknanya?

Tabooo.id: Deep – Selama ini, masyarakat memahami labuhan sebagai warisan budaya Jawa yang sarat nilai spiritual. Tradisi ini juga hidup dalam ingatan kolektif sebagai simbol hubungan manusia dengan alam dan leluhur.

Akan tetapi, ada satu kemungkinan yang jarang muncul ke permukaan: bagaimana jika makna labuhan perlahan bergeser, dari ruang sakral menjadi sekadar tontonan?

Tradisi Kembali Digelar

Kraton Surakarta Hadiningrat kembali menggelar Labuhan Uborampe Adang untuk menyambut Tahun Dal 1959 dalam penanggalan Jawa. Prosesi berlangsung di Pantai Parangkusumo, Minggu (19/4/2026), setelah sempat tertunda sejak Desember 2025.

Keraton menunda pelaksanaan karena kondisi kesehatan SISKS Pakoe Boewono XIII. Selain itu, agenda keraton yang padat, Ramadan, dan Syawal membuat pelaksanaan harus menunggu waktu yang tepat.

Rombongan berangkat dari keraton menuju pantai sambil membawa uborampe atau perlengkapan sesaji. Setibanya di lokasi, para abdi dalem langsung melarung sesaji ke Laut Selatan.

BacaJuga

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

37% ODHIV Tak Terdeteksi: Krisis HIV Indonesia

Simbol Leluhur yang Terjaga

Prosesi berlangsung khidmat. Sejumlah tokoh keraton hadir, mulai dari KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo, Gusti Kanjeng Ratu Alit, hingga Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kirono.

Dipokusumo menjelaskan bahwa labuhan menjadi bagian dari rangkaian upacara Adang yang rutin hadir setiap Tahun Dal. Ia menegaskan bahwa uborampe yang dilarung menyimpan nilai historis, termasuk adang Kanjeng Kyai Duda yang berkaitan dengan kisah Jaka Tarub.

“Labuhan hari ini merupakan pelarungan uborampe perangkat ketika upacara Adang setiap Tahun Dal,” ujarnya.

Ia juga menegaskan makna utama labuhan sebagai ungkapan syukur atas rezeki dari alam.

“Kita menerima dari alam, lalu kita kembalikan sebagai bentuk penghormatan,” katanya.

Tafsir yang Mulai Bergeser

Seiring waktu, cara orang memaknai tradisi ini ikut berubah.

Banyak pengunjung datang untuk menyaksikan prosesi secara langsung. Mereka mengangkat ponsel dan merekam setiap momen. Ritual sakral kini berdampingan dengan budaya dokumentasi digital.

Di satu sisi, kondisi ini membuka peluang wisata budaya. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan baru apakah sakralitas masih menjadi inti, atau justru bergeser menjadi konsumsi publik?

Sebagian orang masih mengaitkan labuhan dengan mitos Kanjeng Ratu Kidul. Padahal, keraton menekankan bahwa inti tradisi ini terletak pada filosofi keseimbangan hidup, bukan sekadar unsur mistis.

Lebih dari Sekadar Seremoni

Labuhan mengajarkan hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Manusia mengambil dari alam, lalu mengembalikannya sebagai bentuk kesadaran.

Konsep ini terdengar sederhana. Namun dalam praktik modern, banyak orang justru melupakannya.

Di tengah gaya hidup yang cenderung konsumtif, pesan labuhan terasa semakin relevan. Sayangnya, banyak orang hanya melihat simbolnya, tanpa menjalankan maknanya.

Tradisi ini akhirnya tidak hanya berdiri sebagai ritual budaya, tetapi juga menjadi cermin sosial.

Ketika Makna Dipertanyakan

Kraton Surakarta terus menjaga tradisi ini sebagai bagian dari warisan budaya Jawa. Namun tantangan terbesar tidak terletak pada keberlangsungan ritual, melainkan pada cara generasi baru memahaminya.

Apakah mereka melihatnya sebagai nilai hidup, atau sekadar peristiwa tahunan?

Tradisi mungkin tetap bertahan. Tetapi cara kita memaknainya terus berubah.

Yang berubah bukan tradisinya, tapi cara manusia memahaminya. @dimas

Tags: Budaya Indonesiabudaya nusantaraFilosofi JawaKanjeng Ratu KidulKraton SurakartaLabuhan ParangkusumoLaut SelatanRitual JawaTradisi JawaTradisi KratonWarisan BudayaWisata Budaya

REKOMENDASI TABOOO

Pakai Kebaya Setahun Sekali, Tapi Sudahkah Memakai Semangatnya Setiap Hari?

Kebaya Kartini: Warisan Kain atau Warisan Keberanian?

by eko
April 19, 2026

Tabooo.id: Vibes - Bayangkan pagi di masa lalu. Udara masih dingin, cahaya matahari menyelinap lewat jendela kayu. Seorang perempuan duduk...

Rewang: Tradisi Lama atau Kebersamaan yang Kita Tinggalkan?

Rewang: Tradisi Lama atau Kebersamaan yang Kita Tinggalkan?

by eko
April 17, 2026

Tabooo.id: Talk - Kadang, yang menghangatkan hajatan bukan tenda besar atau katering mahal. Justru suara pisau beradu dengan talenan, obrolan...

Jenang Bukan Sekadar Makanan. Ini Cara Tradisi Bertahan Diam-Diam

Jenang Bukan Sekadar Makanan. Ini Cara Tradisi Bertahan Diam-Diam

by Anisa
April 15, 2026

Tabooo.id: Food - Tidak semua makanan berhenti di lidah.Sebagian di antaranya bergerak lebih jauh masuk ke ingatan, kebiasaan, bahkan cara...

Next Post
Quarter-Life Crisis: Usia 25 ke Antartika

Quarter-Life Crisis: Usia 25 ke Antartika

Recommended

Joko Anwar: Anak Medan yang Mengubah Wajah Film Horor Indonesia

Joko Anwar: Anak Medan yang Mengubah Wajah Film Horor Indonesia

April 18, 2026
Slank Naik Volume Kritik: Ini Masih Musik atau Sindiran Terbuka?

“PPN 12%”: Lagu Slank yang Menyentil Judi Online dan Legalitas yang Abu-abu

April 18, 2026

Popular

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

April 14, 2026

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

Perempuan Indonesia Sudah Maju, Masih Diragukan?

April 19, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id