Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Emansipasi Perempuan Meningkat, Kekerasan Ikut Meledak

by Tabooo
April 19, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Emansipasi terhadap perempuan meningkat, tapi kekerasan justru ikut meledak. Perempuan hari ini terlihat lebih bebas, mereka sekolah tinggi, bekerja, bahkan memimpin. Namun di balik itu, muncul kegelisahan yang sulit diabaikan: kenapa semakin banyak perempuan melangkah maju, rasa aman justru terasa makin jauh?

Tahun 2026 memaksa kita berhenti mengabaikan kenyataan ini. Indonesia bukan hanya bicara soal kesetaraan gender di panggung nasional, tapi juga di mata dunia. Sebagai Presiden Dewan HAM PBB, sorotan global tertuju pada satu hal sederhana: apakah perempuan benar-benar terlindungi?

Masalahnya, jawabannya belum tentu iya.

Angka yang Tidak Sekadar Statistik

Data terbaru dari Komnas Perempuan mencatat 376.529 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan sepanjang 2025. Angka ini naik 14,07% dari tahun sebelumnya.

Satu angka mungkin terlihat seperti statistik. Tapi ratusan ribu? Itu adalah hidup yang retak, tubuh yang orang sakiti, dan suara yang orang abaikan.

Ini Belum Selesai

Ketika Riset Jadi Tiket Liburan ke Denmark

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

Mayoritas kasus justru muncul di ruang yang seharusnya paling aman: rumah. Pelaku paling sering menyerang istri. Lalu, kekerasan muncul dalam pacaran dan hubungan yang dulu orang sebut “cinta”.

Ironisnya, rumah yang seharusnya melindungi justru berubah jadi tempat paling berbahaya.

Kekerasan Berubah Wajah, Tapi Tidak Pernah Hilang

Dulu, kekerasan mungkin terlihat jelas. Sekarang, ia berubah bentuk.

Ruang digital menjadi arena baru. Kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO) terus meningkat. Pelaku tidak hanya menyerang perempuan secara fisik. Mereka juga menekan secara psikologis dan menyerang di ruang digital.

Bahkan, kekerasan ekstrem seperti femisida kini makin terlihat. Orang membunuh perempuan karena gendernya, dan itu bukan lagi cerita lama. Itu nyata, dan pelaku paling sering datang dari orang terdekat.

Masalahnya bukan hanya kekerasannya. Tapi bagaimana sistem masih gagal melindungi.

Hukum Ada, Tapi Belum Sepenuhnya Melindungi

Tahun 2026 juga menandai implementasi penuh KUHP baru. Di atas kertas, hukum terlihat rapi. Tapi di lapangan, muncul kekhawatiran. Sejumlah organisasi sipil menilai beberapa pasal berpotensi multitafsir dan bisa berdampak pada perempuan.

Namun, jika melihat berbagai, problem utamanya bukan hanya aturan, melainkan implementasi yang belum sepenuhnya berpihak pada korban.

Alih-alih melindungi, hukum justru berisiko menjadi alat kontrol sosial.

Ketimpangan Ekonomi yang Tidak Pernah Selesai

Di dunia kerja, perempuan memang hadir. Tapi apakah mereka setara?

Data menunjukkan perempuan hanya mendapatkan sekitar 0,82 dari setiap 1 dolar yang diterima laki-laki.

Semakin tinggi posisi, semakin besar jurangnya. Di level eksekutif, angka itu turun jadi 0,69.

Artinya sederhana: semakin sukses perempuan, semakin mahal harga yang harus mereka bayar.

Perempuan memikul beban ganda dan menghadapi sistem yang tidak netral. Tapi sistem itu terus menahan mereka. Kesetaraan bukan gagal datang, sistem sengaja menahannya.

Ruang Aman yang Masih Jadi Mimpi

Kampus, tempat kerja, bahkan ruang publik—semuanya belum sepenuhnya aman.

Satgas pencegahan kekerasan seksual di kampus masih belum optimal. Korban masih takut melapor. Pelaku sering punya posisi lebih kuat.

Di sisi lain, pekerja rumah tangga, yang mayoritas perempuan, masih belum memiliki perlindungan hukum yang jelas.

Ini bukan sekadar celah kebijakan. Ini adalah bukti bahwa sistem belum berpihak sepenuhnya.

Perempuan Bicara, Tapi Sistem Belum Mendengar

Aksi Hari Perempuan Internasional 2026 membawa 23 tuntutan. Mulai dari perlindungan korban kekerasan, hingga biaya visum yang harus ditanggung negara.

Tuntutan itu bukan sekadar suara. Itu adalah akumulasi dari pengalaman panjang yang tidak kunjung selesai.

Masalahnya, suara perempuan sering terdengar. Tapi belum tentu didengar.

Ini Bukan Sekadar Kemajuan, Ini Kontradiksi

Di satu sisi, perempuan Indonesia sudah melangkah jauh. Mereka hadir di ruang publik, memimpin, dan bersuara.

Namun di sisi lain, kekerasan meningkat. Ketimpangan tetap ada. Dan rasa aman belum menjadi hak yang pasti.

Ini bukan sekadar ironi.

Ini pola.

Sebuah sistem yang memberi kebebasan di satu tangan, tapi menahan perlindungan di tangan lain.

Dampaknya Buat Kamu

Kamu mungkin merasa punya pilihan. Tapi tetap takut dihakimi.

Kamu bisa menentukan jalan hidup. Tapi harus siap dikomentari.

Kamu bebas bicara. Tapi juga harus siap diserang.

Kebebasan itu ada. Tapi rasa aman belum tentu ikut datang.

Lalu, Kita Sebenarnya Sedang Ke Mana?

Emansipasi tidak lagi cukup diukur dari seberapa jauh perempuan bisa melangkah.

Pertanyaannya sekarang lebih dalam, apakah mereka bisa melangkah tanpa takut?

Kalau jawabannya masih ragu, mungkin ini saatnya berhenti merayakan kemajuan—dan mulai mempertanyakan sistemnya. @tabooo

Tags: emansipasi perempuanHari KartiniKesetaraan Genderkomnas perempuanTabooo Deep

Kamu Melewatkan Ini

Jangan Buang Ibu: Dicintai, Tapi Tetap Ditinggalkan

Jangan Buang Ibu: Dicintai, Tapi Tetap Ditinggalkan

by Tabooo
Juni 4, 2026

Jangan Buang Ibu membaca makna ibu lewat Ristiana, sosok yang dicintai anak-anaknya, tapi tetap tersingkir oleh karier, pernikahan, trauma, dan...

Di Balik MBG, Ada Ladang Korupsi

Di Balik MBG, Ada Ladang Korupsi

by Tabooo
Juni 4, 2026

MBG seharusnya hadir sebagai program gizi anak. Tapi kasus ini membuka sisi lain: titik layanan, yayasan, pengadaan, dan uang negara...

Otoriter Populis: Kediktatoran Berkedok Demokrasi

Otoriter Populis: Kediktatoran Berkedok Demokrasi

by Tabooo
Juni 2, 2026

Otoriter Populis adalah gaya kekuasaan yang memakai nama rakyat untuk melemahkan demokrasi dari dalam. Ia tetap bisa hidup lewat pemilu,...

Next Post
Soeara Boeroeh 1947: Mimpi Buruh yang Masih Relevan di 2026

Soeara Boeroeh 1947: Mimpi Buruh yang Masih Relevan di 2026

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id