Tabooo.id: Deep – Emansipasi terhadap perempuan meningkat, tapi kekerasan justru ikut meledak. Perempuan hari ini terlihat lebih bebas, mereka sekolah tinggi, bekerja, bahkan memimpin. Namun di balik itu, muncul kegelisahan yang sulit diabaikan: kenapa semakin banyak perempuan melangkah maju, rasa aman justru terasa makin jauh?
Tahun 2026 memaksa kita berhenti mengabaikan kenyataan ini. Indonesia bukan hanya bicara soal kesetaraan gender di panggung nasional, tapi juga di mata dunia. Sebagai Presiden Dewan HAM PBB, sorotan global tertuju pada satu hal sederhana: apakah perempuan benar-benar terlindungi?
Masalahnya, jawabannya belum tentu iya.
Angka yang Tidak Sekadar Statistik
Satu angka mungkin terlihat seperti statistik. Tapi ratusan ribu? Itu adalah hidup yang retak, tubuh yang orang sakiti, dan suara yang orang abaikan.
Mayoritas kasus justru muncul di ruang yang seharusnya paling aman: rumah. Pelaku paling sering menyerang istri. Lalu, kekerasan muncul dalam pacaran dan hubungan yang dulu orang sebut “cinta”.
Ironisnya, rumah yang seharusnya melindungi justru berubah jadi tempat paling berbahaya.
Kekerasan Berubah Wajah, Tapi Tidak Pernah Hilang
Dulu, kekerasan mungkin terlihat jelas. Sekarang, ia berubah bentuk.
Ruang digital menjadi arena baru. Kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO) terus meningkat. Pelaku tidak hanya menyerang perempuan secara fisik. Mereka juga menekan secara psikologis dan menyerang di ruang digital.
Bahkan, kekerasan ekstrem seperti femisida kini makin terlihat. Orang membunuh perempuan karena gendernya, dan itu bukan lagi cerita lama. Itu nyata, dan pelaku paling sering datang dari orang terdekat.
Masalahnya bukan hanya kekerasannya. Tapi bagaimana sistem masih gagal melindungi.
Hukum Ada, Tapi Belum Sepenuhnya Melindungi
Tahun 2026 juga menandai implementasi penuh KUHP baru. Di atas kertas, hukum terlihat rapi. Tapi di lapangan, muncul kekhawatiran. Sejumlah organisasi sipil menilai beberapa pasal berpotensi multitafsir dan bisa berdampak pada perempuan.
Namun, jika melihat berbagai, problem utamanya bukan hanya aturan, melainkan implementasi yang belum sepenuhnya berpihak pada korban.
Alih-alih melindungi, hukum justru berisiko menjadi alat kontrol sosial.
Ketimpangan Ekonomi yang Tidak Pernah Selesai
Di dunia kerja, perempuan memang hadir. Tapi apakah mereka setara?
Semakin tinggi posisi, semakin besar jurangnya. Di level eksekutif, angka itu turun jadi 0,69.
Artinya sederhana: semakin sukses perempuan, semakin mahal harga yang harus mereka bayar.
Perempuan memikul beban ganda dan menghadapi sistem yang tidak netral. Tapi sistem itu terus menahan mereka. Kesetaraan bukan gagal datang, sistem sengaja menahannya.
Ruang Aman yang Masih Jadi Mimpi
Kampus, tempat kerja, bahkan ruang publik—semuanya belum sepenuhnya aman.
Satgas pencegahan kekerasan seksual di kampus masih belum optimal. Korban masih takut melapor. Pelaku sering punya posisi lebih kuat.
Di sisi lain, pekerja rumah tangga, yang mayoritas perempuan, masih belum memiliki perlindungan hukum yang jelas.
Ini bukan sekadar celah kebijakan. Ini adalah bukti bahwa sistem belum berpihak sepenuhnya.
Perempuan Bicara, Tapi Sistem Belum Mendengar
Tuntutan itu bukan sekadar suara. Itu adalah akumulasi dari pengalaman panjang yang tidak kunjung selesai.
Masalahnya, suara perempuan sering terdengar. Tapi belum tentu didengar.
Ini Bukan Sekadar Kemajuan, Ini Kontradiksi
Di satu sisi, perempuan Indonesia sudah melangkah jauh. Mereka hadir di ruang publik, memimpin, dan bersuara.
Namun di sisi lain, kekerasan meningkat. Ketimpangan tetap ada. Dan rasa aman belum menjadi hak yang pasti.
Ini bukan sekadar ironi.
Ini pola.
Sebuah sistem yang memberi kebebasan di satu tangan, tapi menahan perlindungan di tangan lain.
Dampaknya Buat Kamu
Kamu mungkin merasa punya pilihan. Tapi tetap takut dihakimi.
Kamu bisa menentukan jalan hidup. Tapi harus siap dikomentari.
Kamu bebas bicara. Tapi juga harus siap diserang.
Kebebasan itu ada. Tapi rasa aman belum tentu ikut datang.
Lalu, Kita Sebenarnya Sedang Ke Mana?
Emansipasi tidak lagi cukup diukur dari seberapa jauh perempuan bisa melangkah.
Pertanyaannya sekarang lebih dalam, apakah mereka bisa melangkah tanpa takut?
Kalau jawabannya masih ragu, mungkin ini saatnya berhenti merayakan kemajuan—dan mulai mempertanyakan sistemnya. @tabooo






