Minggu, April 19, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Emansipasi Perempuan Meningkat, Kekerasan Ikut Meledak

April 19, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Emansipasi terhadap perempuan meningkat, tapi kekerasan justru ikut meledak. Perempuan hari ini terlihat lebih bebas, mereka sekolah tinggi, bekerja, bahkan memimpin. Namun di balik itu, muncul kegelisahan yang sulit diabaikan: kenapa semakin banyak perempuan melangkah maju, rasa aman justru terasa makin jauh?

Tahun 2026 memaksa kita berhenti mengabaikan kenyataan ini. Indonesia bukan hanya bicara soal kesetaraan gender di panggung nasional, tapi juga di mata dunia. Sebagai Presiden Dewan HAM PBB, sorotan global tertuju pada satu hal sederhana: apakah perempuan benar-benar terlindungi?

Masalahnya, jawabannya belum tentu iya.

Angka yang Tidak Sekadar Statistik

Data terbaru dari Komnas Perempuan mencatat 376.529 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan sepanjang 2025. Angka ini naik 14,07% dari tahun sebelumnya.

Satu angka mungkin terlihat seperti statistik. Tapi ratusan ribu? Itu adalah hidup yang retak, tubuh yang orang sakiti, dan suara yang orang abaikan.

BacaJuga

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

37% ODHIV Tak Terdeteksi: Krisis HIV Indonesia

Mayoritas kasus justru muncul di ruang yang seharusnya paling aman: rumah. Pelaku paling sering menyerang istri. Lalu, kekerasan muncul dalam pacaran dan hubungan yang dulu orang sebut “cinta”.

Ironisnya, rumah yang seharusnya melindungi justru berubah jadi tempat paling berbahaya.

Kekerasan Berubah Wajah, Tapi Tidak Pernah Hilang

Dulu, kekerasan mungkin terlihat jelas. Sekarang, ia berubah bentuk.

Ruang digital menjadi arena baru. Kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO) terus meningkat. Pelaku tidak hanya menyerang perempuan secara fisik. Mereka juga menekan secara psikologis dan menyerang di ruang digital.

Bahkan, kekerasan ekstrem seperti femisida kini makin terlihat. Orang membunuh perempuan karena gendernya, dan itu bukan lagi cerita lama. Itu nyata, dan pelaku paling sering datang dari orang terdekat.

Masalahnya bukan hanya kekerasannya. Tapi bagaimana sistem masih gagal melindungi.

Hukum Ada, Tapi Belum Sepenuhnya Melindungi

Tahun 2026 juga menandai implementasi penuh KUHP baru. Di atas kertas, hukum terlihat rapi. Tapi di lapangan, muncul kekhawatiran. Sejumlah organisasi sipil menilai beberapa pasal berpotensi multitafsir dan bisa berdampak pada perempuan.

Namun, jika melihat berbagai, problem utamanya bukan hanya aturan, melainkan implementasi yang belum sepenuhnya berpihak pada korban.

Alih-alih melindungi, hukum justru berisiko menjadi alat kontrol sosial.

Ketimpangan Ekonomi yang Tidak Pernah Selesai

Di dunia kerja, perempuan memang hadir. Tapi apakah mereka setara?

Data menunjukkan perempuan hanya mendapatkan sekitar 0,82 dari setiap 1 dolar yang diterima laki-laki.

Semakin tinggi posisi, semakin besar jurangnya. Di level eksekutif, angka itu turun jadi 0,69.

Artinya sederhana: semakin sukses perempuan, semakin mahal harga yang harus mereka bayar.

Perempuan memikul beban ganda dan menghadapi sistem yang tidak netral. Tapi sistem itu terus menahan mereka. Kesetaraan bukan gagal datang, sistem sengaja menahannya.

Ruang Aman yang Masih Jadi Mimpi

Kampus, tempat kerja, bahkan ruang publik—semuanya belum sepenuhnya aman.

Satgas pencegahan kekerasan seksual di kampus masih belum optimal. Korban masih takut melapor. Pelaku sering punya posisi lebih kuat.

Di sisi lain, pekerja rumah tangga, yang mayoritas perempuan, masih belum memiliki perlindungan hukum yang jelas.

Ini bukan sekadar celah kebijakan. Ini adalah bukti bahwa sistem belum berpihak sepenuhnya.

Perempuan Bicara, Tapi Sistem Belum Mendengar

Aksi Hari Perempuan Internasional 2026 membawa 23 tuntutan. Mulai dari perlindungan korban kekerasan, hingga biaya visum yang harus ditanggung negara.

Tuntutan itu bukan sekadar suara. Itu adalah akumulasi dari pengalaman panjang yang tidak kunjung selesai.

Masalahnya, suara perempuan sering terdengar. Tapi belum tentu didengar.

Ini Bukan Sekadar Kemajuan, Ini Kontradiksi

Di satu sisi, perempuan Indonesia sudah melangkah jauh. Mereka hadir di ruang publik, memimpin, dan bersuara.

Namun di sisi lain, kekerasan meningkat. Ketimpangan tetap ada. Dan rasa aman belum menjadi hak yang pasti.

Ini bukan sekadar ironi.

Ini pola.

Sebuah sistem yang memberi kebebasan di satu tangan, tapi menahan perlindungan di tangan lain.

Dampaknya Buat Kamu

Kamu mungkin merasa punya pilihan. Tapi tetap takut dihakimi.

Kamu bisa menentukan jalan hidup. Tapi harus siap dikomentari.

Kamu bebas bicara. Tapi juga harus siap diserang.

Kebebasan itu ada. Tapi rasa aman belum tentu ikut datang.

Lalu, Kita Sebenarnya Sedang Ke Mana?

Emansipasi tidak lagi cukup diukur dari seberapa jauh perempuan bisa melangkah.

Pertanyaannya sekarang lebih dalam, apakah mereka bisa melangkah tanpa takut?

Kalau jawabannya masih ragu, mungkin ini saatnya berhenti merayakan kemajuan—dan mulai mempertanyakan sistemnya. @tabooo

Tags: emansipasi perempuanHari Kartiniisu perempuan indonesiakartini 2026kbgokekerasan genderKesetaraan Genderketimpangan genderkomnas perempuanTabooo Deep

REKOMENDASI TABOOO

37% ODHIV Tak Terdeteksi: Epidemi yang Tak Pernah Benar-Benar Terlihat

37% ODHIV Tak Terdeteksi: Krisis HIV Indonesia

by Tabooo
April 19, 2026

37% ODHIV Tak Terdeteksi. Angka ini bukan sekadar statistik, tapi alarm keras tentang bagian epidemi yang tidak pernah benar-benar terlihat....

Tanpa Kartini, Ketimpangan Bisa Jadi Normal Sampai Hari Ini

Tanpa Kartini, Ketimpangan Bisa Jadi Normal Sampai Hari Ini

by eko
April 19, 2026

Bayangkan dunia tanpa satu suara yang pernah mengganggu sunyi sejarah: RA Kartini tidak pernah menulis, tidak pernah bertanya, dan tidak...

Perempuan Bicara, Sistem Menekan: Siapa Takut Suara Mereka?

Patriarki Masih Dominan: Perempuan Harus Diam atau Melawan?

by dimas
April 19, 2026

Tabooo.id: Deep - Ruang publik terlihat terbuka, tetapi tidak semua suara benar-benar bebas.Perempuan yang berani bicara sering menghadapi tekanan, ancaman,...

Next Post
Soeara Boeroeh 1947: Mimpi Buruh yang Masih Relevan di 2026

Soeara Boeroeh 1947: Mimpi Buruh yang Masih Relevan di 2026

Recommended

Serial Baru Netflix Ini Buktikan Film Kuliner Bisa Punya Cerita Dalam

Serial Baru Netflix Ini Buktikan Film Kuliner Bisa Punya Cerita Dalam

April 18, 2026
Mengapa Klub Indonesia Sering Miskin di Balik Nama Besar?

Mengapa Klub Indonesia Sering Miskin di Balik Nama Besar?

April 15, 2026

Popular

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

April 14, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Perempuan Indonesia Sudah Maju, Masih Diragukan?

April 19, 2026

The Mummy Versi Baru: Horor Keluarga atau Trauma yang Bangkit?

April 17, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id