Tabooo.id: Global – Diam tidak selalu berarti damai. Begitulah yang terjadi di perbatasan Lebanon dan Israel, ketika gencatan senjata 10 hari resmi berlaku pada Jumat (17/4/2026). Warga memang mulai pulang, tapi suara tembakan masih terdengar di pinggiran selatan Beirut. Pertanyaannya ini damai, atau hanya jeda sebelum perang berikutnya?
Warga Pulang di Tengah Reruntuhan
Sejak pagi buta, ribuan kendaraan memadati jalur pesisir selatan Lebanon. Warga yang mengungsi sejak konflik pecah berusaha kembali ke rumah mereka, meski sebagian besar wilayah masih rusak berat akibat serangan.
Jembatan utama menuju Sungai Litani hancur. Warga terpaksa melintas melalui jalur darurat sambil membawa barang seadanya.
“Orang-orang mencintai tanah mereka. Meski takut, mereka tetap pulang,” kata Alaa Damash, salah satu pengungsi yang kembali ke selatan.
Suara Senjata Belum Benar-Benar Diam
Militer Lebanon memperingatkan warga untuk tidak terburu-buru kembali. Laporan dari AFP menyebutkan, suara tembakan masih terdengar di beberapa titik selatan Beirut yang menjadi wilayah pengaruh Hizbullah.
Ketegangan ini menunjukkan bahwa gencatan senjata masih rapuh, bukan jaminan akhir konflik.
Politik Global di Balik Gencatan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut kesepakatan ini sebagai langkah awal menuju stabilitas kawasan. Ia juga telah berkomunikasi dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun sebelum pengumuman resmi gencatan senjata.
Namun, di balik diplomasi itu, ada kepentingan yang lebih besar: upaya Amerika Serikat menekan konflik regional yang juga terkait dengan Iran.
Warga: Pulang Itu Indah, Tapi Tidak Aman
Di Sidon, warga terlihat mengemasi barang sambil menahan cemas.
“Rumah saya masih berdiri, tapi saya tidak yakin bisa tinggal lama di sana,” ujar Ali Hamza.
Di Nabatieh, sebagian warga bahkan memilih kembali mengungsi setelah melihat kondisi rumah yang rata dengan tanah.
“Semuanya hancur. Ini bukan kehidupan, ini sisa perang,” kata Fadel Bafreddine.
Analisis Tabooo
Ini bukan sekadar gencatan senjata. Ini adalah “pause” dalam konflik panjang yang belum menemukan ujung. Warga dipaksa memilih antara rumah yang hancur atau pengungsian yang tak berujung.
Damai 10 hari ini bukan jawaban. Ini hanya pertanyaan baru: siapa yang benar-benar diuntungkan ketika perang hanya berhenti sementara?
Di balik diplomasi dan pernyataan politik, ada satu hal yang tak berubah warga sipil tetap menjadi yang paling dulu kehilangan segalanya, dan paling terakhir mendapatkan kepastian.
Penutup
Kalau perang bisa dijeda, kenapa rasa takut tidak ikut berhenti? @dimas






