Rabu, Juli 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tirto Bukan Nama Jalan, Tapi Alarm Demokrasi yang Masih Berbunyi

by teguh
April 18, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Di banyak kota, nama Tirto Adhi Soerjo hanya terpampang di papan jalan. Banyak orang melintas tanpa menoleh. Padahal di balik nama itu, berdiri sosok yang pernah membuat pemerintah kolonial gelisah hanya lewat tulisan.

Ia bukan jenderal. Bukan pemilik pabrik. Juga bukan bangsawan yang hidup nyaman di dekat kekuasaan. Ia wartawan. Justru karena itu, penjajah menganggapnya berbahaya.

Saat Tinta Lebih Menakutkan daripada Senjata

Pada awal abad ke-20, Hindia Belanda tidak hanya menguasai tanah. Mereka juga menguasai cerita. Selain itu, mereka menentukan siapa yang boleh bicara dan siapa yang harus diam. Namun Tirto datang membawa gangguan.

Pada 1907, ia mendirikan Medan Prijaji, media yang banyak orang sebut sebagai surat kabar pribumi modern pertama. Koran ini bukan sekadar tempat memuat berita. Sebaliknya, koran ini berubah menjadi ruang perlawanan.

Rakyat kecil datang membawa keluhan tentang pungutan liar, ketidakadilan hukum, dan arogansi pejabat kolonial.

Ini Belum Selesai

Gerwani: Saat Propaganda Mengalahkan Fakta

Divide et Impera: Warisan Kolonial yang Masih Membelah Indonesia

Sejarawan Taufik Abdullah menjelaskan bahwa awal abad ke-20 menjadi masa tumbuhnya kesadaran modern bumiputra lewat organisasi dan pers. Karena itu, Tirto hadir sebagai pemantik perubahan.

Ia paham satu hal penjajahan selalu bermula dari penguasaan narasi. Maka, ia merebut ruang bicara.

Tirto Menulis Saat Menulis Mengandung Risiko

Hari ini banyak orang menulis demi angka tayangan. Sementara itu, Tirto dulu menulis sambil menanggung ancaman pengasingan.

Melalui Medan Prijaji, ia menyerang feodalisme lokal dan kolonialisme Belanda sekaligus. Ia juga membela pedagang kecil, pegawai rendahan, dan warga desa yang tak punya akses kuasa.

Budayawan Goenawan Mohamad pernah menulis bahwa pers modern lahir dari keberanian mengganggu kekuasaan. Kalimat itu terasa melekat pada Tirto.

Selain itu, sosiolog Ignas Kleden menilai media dalam masyarakat kolonial membuka ruang publik baru. Di sana, orang sadar bahwa nasib mereka sama-sama tertindas.

Dengan kata lain, Tirto membantu rakyat mengenali luka bersama.

Kekuasaan Menyerang Suara yang Jujur

Kekuasaan jarang suka kritik. Dulu begitu. Bahkan sekarang pun sering tetap sama.

Tirto menghadapi sensor, perkara hukum, intimidasi, dan pengasingan ke Ambon. Penguasa menghukumnya bukan karena kejahatan, melainkan karena keberanian berpikir dan menulis.

Sejarawan Sartono Kartodirdjo menjelaskan bahwa kolonialisme bekerja bukan hanya lewat senjata, tetapi juga lewat aturan dan tekanan hukum.

Artinya sederhana penguasa kadang memukul pena memakai pasal. Karena itulah, kisah Tirto terasa dekat dengan zaman ini.

Mati Miskin, Menang di Sejarah

Pada 07/121918, Tirto wafat di Batavia dalam kondisi miskin dan nyaris terlupakan, Ironis.

Ia memperjuangkan martabat publik, tetapi zamannya tak memberi penghormatan layak. Meski begitu, sejarah punya ingatan panjang.

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer menghidupkan kembali sosok Tirto lewat buku Sang Pemula pada 1985. Dari riset itu, publik mengetahui bahwa tokoh Minke dalam tetralogi Bumi Manusia terinspirasi dari Tirto.

Pramoedya menyebut Tirto sebagai perintis pers nasional dan perintis kesadaran modern bumiputra.

Kemudian negara memberi pengakuan. Melalui Keputusan Presiden RI Nomor 85/TK/2006 tanggal 03/11/2006, pemerintah menetapkan Tirto Adhi Soerjo sebagai Pahlawan Nasional. Mungkin terlambat Namun tetap penting.

Kenapa Generasi Sekarang Harus Kenal Tirto?

Karena kita hidup di zaman banjir informasi, tetapi kekurangan keberanian.

Semua orang bisa bicara. Banyak orang mengunggah opini. Namun hanya sedikit yang mau membela yang lemah atau menanggung risiko kebenaran.

Akademisi komunikasi Ashadi Siregar menegaskan bahwa pers sehat harus berpihak pada warga, bukan tunduk pada modal dan kekuasaan.

Nilai itu sudah Tirto jalankan lebih dari seabad lalu. Ia mengingatkan bahwa jurnalisme bukan panggung narsisme. Bukan pabrik sensasi. Juga bukan lomba viral.

Sebaliknya, jurnalisme adalah keberanian berdiri di sisi yang tak punya suara.

Tirto Bukan Masa Lalu

Ia alarm. Saat pers dijual, rakyat kehilangan telinga. Ketika kritik dibungkam, kekuasaan bicara sendirian. Jika publik berhenti peduli, demokrasi mulai sekarat.

Nama Tirto mungkin ada di jalan. Namun semangatnya seharusnya hidup di kepala. @teguh

Tags: BukuBumi ManusiaDemokrasiFeodalismeInformasiJurnalisJurnalismeKolonialismeKomunikasiKritikpahlawan nasionalpemerintahPerlawananRuang PubliksejarawanSensorSosiolog

Kamu Melewatkan Ini

Agama Berhenti Melawan: Ibadah Dirayakan, tapi Suara Kritis Dibungkam?

Agama Berhenti Melawan: Ibadah Dirayakan, tapi Suara Kritis Dibungkam?

by dimas
Juli 21, 2026

Agama lahir sebagai kekuatan perlawanan terhadap ketidakadilan. Mengapa kini ritual lebih dirayakan, sementara suara kritis justru semakin dibungkam? Tabooo.id -...

Rasisme Tidak Lahir dari Kebencian, tetapi dari Kekuasaan

Rasisme Tidak Lahir dari Kebencian, tetapi dari Kekuasaan

by dimas
Juli 20, 2026

Rasisme tidak lahir dari kebencian semata, tetapi dari sistem kekuasaan yang membangun hierarki manusia. Mengapa warisan itu masih bertahan di...

Hotman Paris Hina Wartawan, Saat Kritik Dibalas Penghinaan

Hotman Paris Hina Wartawan, Saat Kritik Dibalas Penghinaan?

by dimas
Juli 22, 2026

Hotman Paris menuai kecaman setelah menghina wartawan dalam konferensi pers. Insiden ini memicu perdebatan tentang etika narasumber, kebebasan pers, dan...

Next Post
KPK Bongkar Celah KIP Kuliah: Beasiswa untuk Rakyat, atau Jalur Titipan Elite?

KPK Bongkar Celah KIP Kuliah: Beasiswa untuk Rakyat, atau Jalur Titipan Elite?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id