Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tirto Dibungkam Kolonial, Ketika Pena dan Krtitik Lebih Ditakuti dari Senjata

by teguh
April 18, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Pada awal abad ke-20, Hindia Belanda tak hanya merampas tanah. Mereka juga menguasai suara. Penguasa menentukan siapa boleh bicara, siapa wajib diam, dan siapa pantas didengar. Dalam situasi itu, muncul Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, sosok yang memilih melawan lewat tulisan.

Tirto mendirikan Medan Prijaji pada 1907. Banyak sejarawan menilai surat kabar itu sebagai salah satu media pribumi modern pertama di Hindia Belanda. Namun fungsi koran ini jauh melampaui pemberitaan biasa. Tempat itu menjadi ruang aduan rakyat kecil, pedagang, pegawai rendahan, dan bumiputra yang mengalami ketidakadilan.

Kekuasaan selalu resah ketika rakyat mulai memegang mikrofon.

Sejarawan Prof. Dr. Taufik Abdullah menilai kebangkitan nasional tumbuh bukan hanya dari organisasi, tetapi juga dari pendidikan dan media. Dalam konteks itu, Tirto hadir bukan sekadar wartawan. Ia membuka jalan bagi kesadaran politik bumiputra.

Ia memahami satu hal penting penjajahan sering bertahan lama karena menguasai cerita.

Ini Belum Selesai

Ketika Riset Jadi Tiket Liburan ke Denmark

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

Pers Menjadi Senjata Kelas Bawah

Melalui Medan Prijaji, Tirto menyerang dua benteng sekaligus kolonialisme Belanda dan feodalisme lokal. Ia membela orang-orang yang tak punya pengacara, jabatan, atau akses ke pusat keputusan. Saat mayoritas rakyat tak bisa bicara, koran berubah menjadi pengeras suara.

Budayawan Goenawan Mohamad pernah menulis bahwa pers modern lahir dari keberanian “mengganggu kekuasaan.” Kalimat itu terasa tepat untuk Tirto. Pada masanya, menulis bukan sekadar profesi, tetapi tindakan berisiko.

Sosiolog Dr. Ignas Kleden menjelaskan bahwa media kolonial melahirkan ruang publik baru. Di sana, banyak orang sadar bahwa penderitaan mereka ternyata sama. Kesadaran bersama itu berbahaya bagi penjajah karena rakyat yang sadar sulit terus ditundukkan.

Karena itu, tiap tulisan Tirto ikut menyalakan solidaritas sosial.

Ketika Kritik Dijawab dengan Hukum

Pemerintah kolonial tak suka suara merdeka. Mereka menekan Tirto lewat sensor, perkara hukum, intimidasi, dan pengasingan ke Ambon. Pola itu terasa akrab sampai hari ini.

Sejarawan Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo menjelaskan bahwa kolonialisme bekerja bukan hanya lewat kekerasan fisik, tetapi juga lewat aturan administratif dan perangkat hukum. Artinya, penguasa kerap memakai hukum untuk menertibkan kritik.

Mereka tak selalu membungkam secara terang-terangan. Cukup dengan menebar rasa takut, banyak orang memilih diam.

Tirto kehilangan banyak hal. Hartanya menyusut. Kesehatannya turun. Namanya perlahan tersingkir dari panggung sejarah. Pada 07/12/1918, ia wafat di Batavia dalam keadaan miskin dan nyaris terlupakan.

Ironinya jelas. Sosok yang memperjuangkan martabat bangsa justru pergi tanpa penghormatan besar dari zamannya.

Dari Tirto ke Era Digital: Sensor Berganti Wajah

Kini zaman berubah. Gubernur jenderal sudah tak ada. Kantor sensor kolonial juga telah hilang. Semua orang bisa membuka akun dan berbicara. Namun kebebasan itu tak selalu utuh.

Sensor modern sering hadir lewat wajah baru:

  • serangan buzzer kepada pengkritik,
  • doxing terhadap jurnalis,
  • tekanan ekonomi kepada media independen,
  • gugatan hukum yang menguras tenaga,
  • algoritma yang menenggelamkan suara kritis,
  • cap bahwa pengkritik adalah musuh negara.

Dulu penguasa menyita koran. Kini reputasi orang bisa dihancurkan. Dulu aparat mengawasi redaksi. Sekarang kebisingan memenuhi linimasa. Bentuk berubah, tetapi tujuan tetap sama membuat publik ragu bicara.

Banyak pengamat komunikasi politik mengingatkan bahwa demokrasi tak selalu runtuh lewat kudeta. Demokrasi juga melemah ketika warga takut mengkritik.

Sejarah Menemukan Tirto Lagi

Untungnya, sejarah kadang terlambat, tetapi tidak hilang.

Pramoedya Ananta Toer menghidupkan kembali nama Tirto lewat buku Sang Pemula pada 1985. Dari riset panjang itu, publik mengenal bahwa tokoh Minke dalam tetralogi Bumi Manusia banyak terinspirasi dari Tirto.

Pramoedya menyebut Tirto sebagai perintis pers nasional sekaligus perintis kesadaran modern bumiputra. Penilaian itu menempatkan Tirto sebagai tokoh penting dalam perjalanan bangsa.

Kemudian negara menetapkan Tirto sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres RI Nomor 85/TK/2006 tertanggal 03/11/2006. Pengakuan itu datang terlambat, tetapi tetap berarti.

Kenapa Kritik Masih Sering Dicurigai?

Kritik mengusik kenyamanan kekuasaan. Suara kritis membuka celah masalah. Tuntutan publik menagih janji. Sorotan tajam menunjukkan jarak antara citra dan kenyataan. Karena itu, sejak era kolonial hingga era digital, banyak pihak sering melabeli kritik sebagai gaduh, berlebihan, tidak loyal, bahkan berbahaya.

Padahal kritik sehat bukan ancaman negara. Kritik justru menjadi alarm negara.

Jika orang mematikan alarm, kebakaran tetap terjadi. Hanya saja semua sadar ketika semuanya sudah terlambat.

Warisan Tirto untuk Hari Ini

Tirto mengajarkan bahwa pers bukan pabrik sensasi. Pers adalah alat bela warga. Menulis bukan soal viralitas, melainkan keberanian membela mereka yang tak terdengar.

Ia wafat dalam kemiskinan, tetapi meninggalkan warisan moral. Zamannya membungkam dirinya, tetapi gagasannya terus hidup. Penguasa pernah menekannya, tetapi sejarah akhirnya memenangkannya.

Pertanyaannya sekarang bukan siapa Tirto. Pertanyaannya saat kritik kembali dicurigai, masih adakah keberanian seperti Tirto hari ini?. @teguh

Tags: BudayawanBukuDemokrasiFeodalismeKolonialismeMartabatMediaModernpahlawan nasionalPersSejarahsejarawanSensorSosiolog

Kamu Melewatkan Ini

Demokrasi atau Ilusi Pilihan? Saat Popularitas Mengalahkan Pengetahuan

Demokrasi atau Ilusi Pilihan? Saat Popularitas Mengalahkan Pengetahuan

by dimas
Juni 5, 2026

Demokrasi menjanjikan kesetaraan, tetapi apakah suara terbanyak selalu melahirkan keputusan terbaik? Saat emosi mengalahkan pengetahuan, bencana bisa terjadi. Tabooo.id -...

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

by dimas
Juni 5, 2026

Pembodohan struktural dan kemiskinan bukan sekadar masalah sosial. Keduanya dapat menjadi alat politik yang melemahkan daya kritis warga dan menguntungkan...

Tabooology: Merdeka Berpikir di Negeri yang Terlalu Lama Dipaksa Tunduk

Tabooology: Merdeka Berpikir di Negeri yang Terlalu Lama Dipaksa Tunduk

by Tabooo
Juni 4, 2026

Tabooology melawan feodalisme bukan dengan membenci tradisi, tapi dengan membongkar rasa takut yang terlalu lama disamarkan sebagai tata krama.

Next Post
Ronaldo Kembali ke Jakarta: Il Fenomeno Datang, GBK Bersiap Bergemuruh

Ronaldo Kembali ke Jakarta: Il Fenomeno Datang, GBK Bersiap Bergemuruh

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id