Tabooo.id: Nasional – Pagi belum sepenuhnya terang di Lumajang. Namun Gunung Semeru sudah lebih dulu memberi kabar lewat letusan berulang. Pada Kamis, 16/04/2026, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu tercatat erupsi lima kali hanya dalam rentang waktu 00.00 hingga 09.00 WIB.
Data dari Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru menunjukkan seluruh letusan terpantau visual, dengan tinggi kolom abu berkisar 500 hingga 1.200 meter di atas puncak.
Petugas PPGA Semeru, Liswanto, mencatat salah satu erupsi terbesar terjadi pagi hari.
“Terjadi erupsi Gunung Semeru pada hari Kamis, 16/04/2026, pukul 06.21 WIB, dengan tinggi kolom abu teramati 1.200 meter di atas puncak,” tulis Liswanto dalam keterangan tertulis, Kamis (16/04/2026).
Artinya jelas Semeru belum tenang, dan warga sekitar tak punya ruang untuk lengah.
Dampak Sementara Nihil, Tapi Ancaman Belum Hilang
Kepala BPBD Kabupaten Lumajang, Insugroho, menyampaikan hingga saat ini belum ada laporan kerusakan maupun korban akibat erupsi pagi ini.
“Laporan dampak sementara nihil, belum ada laporan yang masuk, tapi kalau arah anginnya ke timur sepertinya hujan abu terjadi di sekitar Pasrujambe,” kata Insugroho.
Meski belum ada dampak langsung, arah angin yang bergerak ke timur membuka potensi hujan abu vulkanik di wilayah Kecamatan Pasrujambe dan sekitarnya.
Ini yang sering dilupakan banyak orang bencana tak selalu datang lewat ledakan besar. Kadang ia turun perlahan, dalam bentuk abu yang masuk paru-paru, menutup jalan, dan mengganggu hidup harian warga.
Status Level III: Siaga, Bukan Sekadar Istilah
Saat ini aktivitas Gunung Semeru berada pada Level III (Siaga). Dalam sistem kebencanaan, status ini berarti aktivitas vulkanik tinggi dan berpotensi meningkat sewaktu-waktu.
Insugroho mengingatkan bahwa intensitas letusan yang masih sering terjadi bisa memicu ancaman lain yang tak kalah berbahaya.
“Secara jumlah letusan memang masih tinggi, ini bisa memicu banjir lahar dengan membawa material cukup banyak apabila terjadi hujan deras di sekitar gunung,” ujarnya.
Dengan kata lain, letusan di puncak bisa berubah menjadi ancaman di hilir saat hujan turun.
Besuk Kobokan Jadi Zona Merah
Pemerintah meminta warga tidak beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak.
Selain itu, masyarakat juga dilarang berada dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang jalur tersebut. Area ini berisiko terkena perluasan awan panas dan aliran lahar.
Bagi warga sekitar Semeru, sungai bukan hanya sumber air. Saat gunung aktif, sungai bisa berubah jadi jalur bahaya.
Hujan Lebat Tambah Risiko
Wilayah sekitar Gunung Semeru belakangan juga sering diguyur hujan deras. Kondisi ini meningkatkan ancaman banjir lahar, terutama di aliran sungai yang berhulu dari puncak.
“Waspada terhadap potensi awan panas guguran (APG), guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru,” pungkas Insugroho.
Apa yang Harus Dilakukan Warga?
- Hindari kawasan Besuk Kobokan dan zona larangan resmi
- Gunakan masker jika terjadi hujan abu
- Pantau informasi dari PVMBG, BPBD, dan pemerintah daerah
- Jauhi aliran sungai saat hujan deras
- Jangan percaya rumor liar di media sosial
Penutup
Gunung Semeru pagi ini meletus lima kali. Sebagian orang mungkin menganggapnya rutinitas alam. Tetapi bagi warga lereng gunung, setiap letusan adalah pengingat bahwa hidup berdampingan dengan alam berarti harus siap membaca tanda.
Semeru sudah bicara. Kini giliran manusia memilih waspada, atau menyesal belakangan. @teguh






