Tabooo.id: Lifestyle – Kita tumbuh dengan dongeng bahwa cinta itu buta. Tapi di era milenial dan Gen Z yang mulai ikut main di gelanggang asmara cinta bukan cuma buta. Ia juga mahal, repot, dan kadang bikin limit kartu kredit menjerit lebih dulu sebelum hati sempat berdebar.
Bayangkan makan malam romantis di rooftop, bunga mawar yang dikirim dadakan, tiket konser yang “nggak boleh dilewatkan”, dan pesan manis yang ditutup dengan notifikasi dari aplikasi bank, “Saldo Anda tidak mencukupi.”
Selamat datang di era di mana dating life dan financial life resmi berpacaran dan hubungan mereka toxic banget.
“Sayang, Aku Nge-Cicil Perasaan Ini di Kartu Kredit, Ya?”
Menurut survei LendingTree, hampir seperempat milenial di Amerika Serikat mengaku pernah berutang demi kencan dari dinner fancy sampai hadiah romantis.
Dan yang bikin ngakak sekaligus nangis 10% dari mereka pernah kena declined pas kencan pertama.
Bayangin aja, lo mau bayar makan malam buat impress gebetan, eh mesin EDC bilang, “Transaksi gagal.”
Seketika semua obrolan soal “kita tuh cocok banget, ya?” berubah jadi “ada QRIS-nya nggak, ya?”
Tapi ini bukan cuma soal gengsi. Banyak yang menganggap kencan itu bentuk investasi emosional bahwa cinta butuh effort, dan effort itu ya kadang bayar parkir juga.
Survei Forbes tahun 2023 bahkan menemukan setengah dari responden pernah minjam uang dari teman atau keluarga buat kencan atau beli hadiah romantis.
37% bahkan nekat ngajukan pinjaman pribadi.
Dan 40% lainnya ngandelin kartu kredit demi menjaga “momen spesial” tetap hidup meski tagihannya ikut hidup di bulan berikutnya.
Inflasi pun ikut berperan jadi pihak ketiga. Sekitar 60% responden mengaku inflasi bikin mereka kesulitan ngatur uang buat kencan.
Gen Z malah paling sengsara: 79% bilang cinta makin sulit kalau harga kopi susu naik terus.
Cinta Itu Butuh Kejujuran, Termasuk Soal Dompet
Kita sering bilang cinta itu komunikasi. Tapi jarang yang bilang, komunikasi juga berarti ngomong jujur soal uang.
Ada tekanan tak kasat mata untuk tampil “mampu” padahal kenyataannya, banyak yang justru nyicil biar terlihat seperti “the 1% of romantic people.”
Sebuah riset dari Psychology Today menyebutkan, banyak orang menutupi kondisi keuangan di awal hubungan karena takut terlihat “nggak menarik” atau “nggak mapan”.
Ironisnya, justru sikap itulah yang bikin hubungan rentan. Karena bagaimana bisa membangun masa depan bersama, kalau masa kini aja masih dicicil?
Mungkin ini kenapa hubungan banyak yang terasa “habis manis, tagihan datang.”
Kita ingin jadi versi ideal pasangan romantis, tapi lupa jadi versi realistis dari diri sendiri.
Romansa di Tengah Krisis: Cheap Date Bukan Dosa
Tapi bukan berarti romansa harus dikubur bareng tagihan listrik.
Ada banyak cara buat tetap hangat tanpa harus membakar saldo.
Yahoo Finance kasih beberapa ide, tapi Tabooo akan bantu kasih bumbu realita-nya biar lebih membumi:
1. Jalan-jalan ke pasar lokal.
Di sana, lo bisa makan jajanan lima ribuan, ngobrol santai, sambil lihat-lihat dunia nyata yang nggak penuh filter.
Kadang cinta memang lahir dari obrolan random di depan tukang sate, bukan di restoran fine dining.
2. Jadi turis di kota sendiri.
Setiap kota punya kejutan kecil dari taman kota yang tiba-tiba bagus, sampai festival budaya yang gratis tapi seru.
Lo nggak butuh paspor buat jatuh cinta ulang ke seseorang. Kadang cukup ongkos Transportasi Lokal.
3. Nonton musisi lokal.
Karena siapa tahu lagu yang mereka bawain di kafe kecil itu jadi soundtrack hubungan kalian.
Dan kalau hubungan itu bubar? Ya, setidaknya lo sudah dapat konser murah dan satu kenangan absurd buat diceritain ke teman.
Cinta Nggak Harus Mahal, Tapi Harus Sadar
Kita hidup di zaman di mana segalanya bisa dicicil HP, motor, bahkan rasa bahagia. Tapi ada satu hal yang nggak bisa dicicil yaitu keikhlasan.
Kencan seharusnya bukan arena pembuktian status finansial, tapi ruang buat saling lihat apa adanya. Sayangnya, banyak dari kita masih menukar “rasa diterima” dengan “bukti kemampuan bayar.”
Cinta jadi kompetisi halus siapa yang paling romantis, paling mapan, paling Instagrammable.
Padahal, cinta yang sehat seharusnya bukan tentang siapa yang bisa bayar duluan, tapi siapa yang bisa bertahan saat pay later mulai menagih.
Dan Pada Akhirnya…
Mungkin cinta di generasi sekarang bukan lagi tentang bunga dan lilin, tapi tentang saling transfer kejujuran.
Tentang berani bilang, “Gue lagi nggak punya banyak, tapi gue pengen tetap ada buat lo.”
Karena kalau cinta sejati itu katanya tulus, maka tulus itu nggak butuh limit.
Dan siapa tahu, justru di tengah krisis dan saldo tipis itu, lo akhirnya nemu hal paling mahal di dunia yaitu seseorang yang tetap tinggal, walau dompet dan hati sama-sama sedang kosong.
“Kadang yang bikin kita jatuh cinta bukan restoran mahal, tapi keberanian seseorang buat bilang, ‘Mau makan di warung aja nggak?” @teguh





