Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ketika Grup Chat Kampus Berubah Jadi Ruang Pelecehan

by dimas
April 15, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Kampus selama ini dipahami sebagai ruang intelektual, tempat lahirnya insan berpendidikan dan beradab. Namun, bagaimana jika ruang yang seharusnya menjunjung etika justru justru berubah menjadi tempat percakapan yang merendahkan martabat manusia?

Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia kembali memunculkan pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar viral di media sosial. Publik kini tidak hanya melihatnya sebagai tindakan individu, tetapi juga mulai menyoroti pola budaya yang dibiarkan tumbuh tanpa kontrol yang tegas.

Pelecehan Mahasiswa Kok Bisa?

Kasus ini mulai mencuat setelah tangkapan layar percakapan dari grup yang diduga berisi mahasiswa FH UI menyebar luas di platform X melalui akun @sampahfhui pada Minggu (12/04/2026).

Percakapan tersebut memicu kemarahan publik karena mengandung dugaan unsur pelecehan dan objektifikasi terhadap perempuan. Salah satu kalimat yang paling banyak mendapat sorotan berbunyi “diam berarti dikabulkan” atau “diam berarti consent”, yang publik nilai menormalkan kekerasan seksual secara verbal.

Permintaan Maaf atau Pengalihan?

Sehari sebelum kasus ini viral, para mahasiswa angkatan 2023 menyampaikan permintaan maaf di grup percakapan internal. Namun, publik menilai permintaan maaf itu belum memberikan penjelasan yang utuh terkait konteks maupun tanggung jawab moral.

Ini Belum Selesai

Ketika Riset Jadi Tiket Liburan ke Denmark

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

Ketua BEM FH UI, Anandaku Dimas Rumi Chattaristo, menegaskan bahwa percakapan tersebut tidak bisa dianggap sebagai candaan biasa.

“Pesan-pesan itu merendahkan harkat martabat teman-teman di FH, dengan nuansa seksual,” ujarnya.

UI Turun Tangan: Kampus Mulai Mengambil Sikap

Universitas Indonesia merespons kasus ini dengan melibatkan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS UI).

Direktur Humas UI, Erwin Agustian Panigoro, menegaskan bahwa kampus tidak akan menoleransi pelanggaran jika terbukti benar.

“Termasuk sanksi akademik hingga pemberhentian sebagai mahasiswa,” ujarnya.

Suara Korban Mulai Terungkap: Luka yang Sudah Berjalan Lama

Pendamping korban, kuasa hukum Timotius Rajagukguk, mengungkap bahwa dugaan kekerasan ini sudah berlangsung sejak 2025 dan terjadi secara berulang.

Korban mengaku terus berada dalam tekanan psikologis setiap kali berada di lingkungan kampus.

“Setiap kali masuk kelas, mereka tahu kapan pun pelaku bisa membicarakan mereka,” katanya.

Data yang beredar menyebutkan 27 korban terdampak, terdiri dari 20 mahasiswa dan 7 dosen.

Ini Bukan Sekadar Viral: Pola yang Lebih Dalam dari Kasus Individu

Kasus ini tidak berhenti sebagai isu viral. Peristiwa ini menunjukkan pola yang lebih luas di dalam ekosistem pendidikan.

Masalah tidak hanya muncul dari percakapan yang tidak pantas, tetapi juga dari budaya yang membiarkan candaan melampaui batas, relasi kuasa yang tidak setara, serta normalisasi objektifikasi di ruang akademik.

Pengamat pendidikan dari JPPI, Ubaid Matraji, menyebut kondisi ini sebagai alarm serius.

“Kekerasan di dunia pendidikan sudah bergeser dari kasus per kasus menjadi pola sistemik,” ujarnya.

Kampus yang Kehilangan Rasa Aman

Kasus ini tidak hanya berdampak pada institusi, tetapi juga langsung memengaruhi rasa aman mahasiswa dan tenaga pendidik.

Korban kekerasan seksual di lingkungan pendidikan sering memilih diam karena tekanan sosial, rasa takut, dan ketimpangan relasi kuasa yang mereka hadapi setiap hari.

Dalam kondisi seperti ini, ruang kelas tidak lagi mereka rasakan sebagai tempat belajar, tetapi berubah menjadi ruang kewaspadaan.

Kekerasan yang Tumbuh di Ruang Terbuka

Kasus ini memperlihatkan bahwa kekerasan tidak selalu muncul dalam bentuk fisik atau ruang tersembunyi. Kekerasan justru tumbuh di ruang yang tampak normal, termasuk grup percakapan, organisasi, hingga ruang kelas.

Masalah utama tidak hanya terletak pada individu pelaku, tetapi juga pada sistem yang belum mampu menarik batas tegas antara candaan, pelecehan verbal, dan kekerasan.

Ironisnya, publik sering baru memberi perhatian serius setelah kasus ini viral di media sosial.

Pendidikan yang Perlu Kita Pertanyakan Ulang

Jika ruang pendidikan tidak lagi mampu memberikan rasa aman bagi warganya, maka kita perlu mempertanyakan ulang arah pendidikan itu sendiri.

Kasus ini tidak hanya berbicara tentang satu peristiwa. Kasus ini memaksa kita bertanya lebih jauh sebenarnya pendidikan sedang membentuk manusia seperti apa? @dimas

Tags: Kekerasan SeksualPelecehan SeksualPendidikan IndonesiaRelasi KuasaSatgas PPKS

Kamu Melewatkan Ini

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

by dimas
Juni 5, 2026

Pembodohan struktural dan kemiskinan bukan sekadar masalah sosial. Keduanya dapat menjadi alat politik yang melemahkan daya kritis warga dan menguntungkan...

Inflasi Cumlaude: Kenapa Nalar Kritis Justru Langka?

Inflasi Cumlaude: Kenapa Nalar Kritis Justru Langka?

by Waras
Juni 3, 2026

Dunia kerja sedang menghadapi paradoks baru: lulusan cumlaude semakin banyak, tapi perusahaan justru makin sulit menemukan orang yang benar-benar siap...

Sekolah atau Pabrik Pekerja? Mengajari Taat, Melupakan Berpikir

Sekolah atau Pabrik Pekerja? Mengajari Taat, Melupakan Berpikir

by dimas
Juni 3, 2026

Sekolah atau pabrik pekerja? Mengupas bagaimana pendidikan modern lebih menekankan kepatuhan daripada kemampuan berpikir kritis di tengah perubahan dunia kerja....

Next Post
Jejak Kasus Maidi Terbuka: Saksi Bertambah, Aset Mulai Ditelusuri

Jejak Kasus Maidi Terbuka: Saksi Bertambah, Aset Mulai Ditelusuri

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id