Senin, April 20, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Ketika Grup Chat Kampus Berubah Jadi Ruang Pelecehan

April 15, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Kampus selama ini dipahami sebagai ruang intelektual, tempat lahirnya insan berpendidikan dan beradab. Namun, bagaimana jika ruang yang seharusnya menjunjung etika justru justru berubah menjadi tempat percakapan yang merendahkan martabat manusia?

Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia kembali memunculkan pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar viral di media sosial. Publik kini tidak hanya melihatnya sebagai tindakan individu, tetapi juga mulai menyoroti pola budaya yang dibiarkan tumbuh tanpa kontrol yang tegas.

Pelecehan Mahasiswa Kok Bisa?

Kasus ini mulai mencuat setelah tangkapan layar percakapan dari grup yang diduga berisi mahasiswa FH UI menyebar luas di platform X melalui akun @sampahfhui pada Minggu (12/04/2026).

Percakapan tersebut memicu kemarahan publik karena mengandung dugaan unsur pelecehan dan objektifikasi terhadap perempuan. Salah satu kalimat yang paling banyak mendapat sorotan berbunyi “diam berarti dikabulkan” atau “diam berarti consent”, yang publik nilai menormalkan kekerasan seksual secara verbal.

Permintaan Maaf atau Pengalihan?

Sehari sebelum kasus ini viral, para mahasiswa angkatan 2023 menyampaikan permintaan maaf di grup percakapan internal. Namun, publik menilai permintaan maaf itu belum memberikan penjelasan yang utuh terkait konteks maupun tanggung jawab moral.

BacaJuga

Ketika Keyakinan Tidak Pernah Diuji: Apakah Itu Masih Kebenaran? – Madilog Series #1.4

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

Ketua BEM FH UI, Anandaku Dimas Rumi Chattaristo, menegaskan bahwa percakapan tersebut tidak bisa dianggap sebagai candaan biasa.

“Pesan-pesan itu merendahkan harkat martabat teman-teman di FH, dengan nuansa seksual,” ujarnya.

UI Turun Tangan: Kampus Mulai Mengambil Sikap

Universitas Indonesia merespons kasus ini dengan melibatkan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS UI).

Direktur Humas UI, Erwin Agustian Panigoro, menegaskan bahwa kampus tidak akan menoleransi pelanggaran jika terbukti benar.

“Termasuk sanksi akademik hingga pemberhentian sebagai mahasiswa,” ujarnya.

Suara Korban Mulai Terungkap: Luka yang Sudah Berjalan Lama

Pendamping korban, kuasa hukum Timotius Rajagukguk, mengungkap bahwa dugaan kekerasan ini sudah berlangsung sejak 2025 dan terjadi secara berulang.

Korban mengaku terus berada dalam tekanan psikologis setiap kali berada di lingkungan kampus.

“Setiap kali masuk kelas, mereka tahu kapan pun pelaku bisa membicarakan mereka,” katanya.

Data yang beredar menyebutkan 27 korban terdampak, terdiri dari 20 mahasiswa dan 7 dosen.

Ini Bukan Sekadar Viral: Pola yang Lebih Dalam dari Kasus Individu

Kasus ini tidak berhenti sebagai isu viral. Peristiwa ini menunjukkan pola yang lebih luas di dalam ekosistem pendidikan.

Masalah tidak hanya muncul dari percakapan yang tidak pantas, tetapi juga dari budaya yang membiarkan candaan melampaui batas, relasi kuasa yang tidak setara, serta normalisasi objektifikasi di ruang akademik.

Pengamat pendidikan dari JPPI, Ubaid Matraji, menyebut kondisi ini sebagai alarm serius.

“Kekerasan di dunia pendidikan sudah bergeser dari kasus per kasus menjadi pola sistemik,” ujarnya.

Kampus yang Kehilangan Rasa Aman

Kasus ini tidak hanya berdampak pada institusi, tetapi juga langsung memengaruhi rasa aman mahasiswa dan tenaga pendidik.

Korban kekerasan seksual di lingkungan pendidikan sering memilih diam karena tekanan sosial, rasa takut, dan ketimpangan relasi kuasa yang mereka hadapi setiap hari.

Dalam kondisi seperti ini, ruang kelas tidak lagi mereka rasakan sebagai tempat belajar, tetapi berubah menjadi ruang kewaspadaan.

Kekerasan yang Tumbuh di Ruang Terbuka

Kasus ini memperlihatkan bahwa kekerasan tidak selalu muncul dalam bentuk fisik atau ruang tersembunyi. Kekerasan justru tumbuh di ruang yang tampak normal, termasuk grup percakapan, organisasi, hingga ruang kelas.

Masalah utama tidak hanya terletak pada individu pelaku, tetapi juga pada sistem yang belum mampu menarik batas tegas antara candaan, pelecehan verbal, dan kekerasan.

Ironisnya, publik sering baru memberi perhatian serius setelah kasus ini viral di media sosial.

Pendidikan yang Perlu Kita Pertanyakan Ulang

Jika ruang pendidikan tidak lagi mampu memberikan rasa aman bagi warganya, maka kita perlu mempertanyakan ulang arah pendidikan itu sendiri.

Kasus ini tidak hanya berbicara tentang satu peristiwa. Kasus ini memaksa kita bertanya lebih jauh sebenarnya pendidikan sedang membentuk manusia seperti apa? @dimas

Tags: Dunia AkademikFHU UIKampus AmanKampus UIKekerasan KampusKekerasan SeksualMahasiswa IndonesiaPelecehan SeksualPendidikan IndonesiaRelasi KuasaSatgas PPKSStop PelecehanUniversitas Indonesia

REKOMENDASI TABOOO

Incel: Ketika Kebencian pada Perempuan Lahir Diam-Diam di Ruang Tertutup

Incel: Ketika Kebencian pada Perempuan Lahir Diam-Diam di Ruang Tertutup

by dimas
April 18, 2026

Tabooo.id: Talk - Pertanyaan ini terasa tidak nyaman, tetapi penting kita ajukan sejak awal bagaimana mungkin calon penegak hukum justru...

Beasiswa untuk Siapa? Saat Bantuan Pendidikan Rentan Dikuasai Jalur Elite

Beasiswa untuk Siapa? Saat Bantuan Pendidikan Rentan Dikuasai Jalur Elite

by teguh
April 18, 2026

Tabooo.id: Deep - Beasiswa seharusnya menjadi tangga. Program ini dibuat agar anak dari keluarga biasa bisa naik kelas lewat pendidikan....

KPK Bongkar Celah KIP Kuliah: Beasiswa untuk Rakyat, atau Jalur Titipan Elite?

KPK Bongkar Celah KIP Kuliah: Beasiswa untuk Rakyat, atau Jalur Titipan Elite?

by teguh
April 18, 2026

Tabooo.id: Nasional - KPK meluncurkan lima rekomendasi setelah menemukan konflik kepentingan, dugaan suap, dan bantuan ganda dalam program KIP Kuliah....

Next Post
Jejak Kasus Maidi Terbuka: Saksi Bertambah, Aset Mulai Ditelusuri

Jejak Kasus Maidi Terbuka: Saksi Bertambah, Aset Mulai Ditelusuri

Recommended

Kapal Dagang Diserang di Selat Hormuz, Pasokan Minyak Global Terancam

AS Kepung Pelabuhan Iran: Strategi Nuklir atau Eskalasi Konflik?

April 14, 2026
Kenapa Manusia Lebih Suka Mitos daripada Realita? – Madilog Series #1.2

Kenapa Manusia Lebih Suka Mitos daripada Realita? – Madilog Series #1.2

April 13, 2026

Popular

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

April 14, 2026

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

Perempuan Indonesia Sudah Maju, Masih Diragukan?

April 19, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id