Senin, April 20, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Geger Cilegon 1888: Saat Doa, Golok, dan Harga Diri Memilih Melawan

April 14, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Fajar 9 Juli 1888 di Cilegon pecah tanpa aba-aba. Udara membawa bisik doa, langkah kaki cepat, dan satu keputusan cukup.

Di saat sebagian orang masih terlelap, ratusan petani berbaju putih mulai bergerak. Mereka tidak menunggu perintah. Mereka sudah terlalu lama menahan diri.

Pagi itu, diam tidak lagi jadi pilihan. Mereka melawan.

Dari Bertahan Hidup ke Melawan Hidup

Awalnya, rakyat hanya ingin bertahan. Namun, tekanan ekonomi terus menekan tanpa henti.

Pemerintah kolonial menaikkan pajak tanah. Mereka menarik pajak hasil bumi. Mereka juga membebani ternak dengan pungutan tambahan.
Di waktu yang sama, wabah membunuh kerbau aset utama petani.

BacaJuga

Soeara Boeroeh 1947: Mimpi Buruh yang Masih Relevan di 2026

Kebaya Kartini: Warisan Kain atau Warisan Keberanian?

Akibatnya, hidup berubah jadi perjuangan harian. Namun, persoalan tidak berhenti di ekonomi.

Kolonial mulai mengatur ruang ibadah. Mereka membatasi aktivitas masjid. Mereka mengawasi pesantren. Bahkan, mereka mempermasalahkan azan.

Bagi masyarakat Banten, tindakan ini jelas melampaui batas. Kemarahan pun tumbuh. Ia tidak meledak seketika, tapi menguat pelan-pelan hingga menyatu.

Sejarawan Sartono Kartodirdjo menjelaskan bahwa pemberontakan seperti ini muncul dari kesadaran kolektif yang dipicu tekanan sosial dan spiritual (1973).
Jadi, rakyat tidak sekadar lapar mereka sadar sedang diperlakukan tidak adil.

Para Kiai Mengubah Takut Jadi Keyakinan

Di tengah situasi itu, para kiai mengambil peran penting. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga menggerakkan.

Kiai Haji Wasid dan Kiai Haji Tubagus Ismail menyatukan keresahan yang tersebar. Mereka menanamkan makna jihad. Mereka membangun keberanian dari dalam diri rakyat.

Lewat zikir dan pengajian, mereka menguatkan mental. Sementara itu, latihan fisik berlangsung diam-diam di balik pesantren dan hutan.

“Gerakan di Banten menunjukkan bagaimana agama bisa menjadi energi sosial yang nyata,” tulis Anthony Reid (1987).

Perubahan pun terjadi secara bertahap. Rakyat mulai berdiri tegak. Keberanian menggantikan rasa takut.

Serangan Cepat yang Mengguncang Kolonial

Ketika fajar tiba, rencana langsung berubah jadi aksi. Pasukan rakyat menyerang secara serentak. Gerakan mereka cepat dan terarah. Mereka langsung menyasar pusat kekuasaan.

Dalam waktu singkat, mereka menguasai Cilegon. Mereka melumpuhkan pejabat kolonial. Mereka menewaskan Asisten Residen Gultman.

Kabar itu menyebar cepat hingga Batavia. Namun, kolonial segera membalas. Mereka mengirim pasukan tambahan dengan senjata modern. Mereka menyerang dengan kekuatan penuh.

Akhirnya, mereka berhasil memukul mundur perlawanan.

Keyakinan yang Mengalahkan Logika

Walau kalah secara militer, para pejuang tidak kehilangan keberanian. Coba bayangkan situasinya. Petani bersenjata golok berlari menuju senapan.

Secara logika, itu mustahil. Namun, keyakinan memberi mereka alasan untuk tetap maju.

Mereka percaya satu hal mati dalam perlawanan lebih mulia daripada hidup dalam penindasan.

Di titik ini, rasa takut kehilangan kuasa. Sebaliknya, keyakinan mengambil alih.

Tekanan Zaman Sekarang: Lebih Halus, Tapi Nyata

Hari ini, kita memang tidak hidup di bawah kolonial. Kita tidak menghadapi larangan azan. Kita juga tidak membayar pajak ternak yang mencekik. Namun, tekanan tidak pernah benar-benar hilang.

Sekarang, tekanan muncul lewat standar sosial. Ia hadir dalam ketimpangan ekonomi. Ia terasa dalam sistem yang kadang tidak adil.

Sayangnya, banyak orang menerima semua itu sebagai hal biasa. Kita menyebutnya “realita”.

Padahal, pertanyaannya masih sama kapan terakhir kali kamu berani menolak sesuatu yang jelas tidak adil?

Warisan yang Membentuk Mentalitas Perlawanan

Perlawanan ini tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari sejarah panjang.

Sejak era Maulana Hasanuddin, Banten telah membangun fondasi kuat agama, perdagangan, dan keberanian berpikir.

Warisan itu terus hidup dalam masyarakat. Nilai-nilai itu membentuk karakter yang tidak mudah tunduk.

Karena itu, ketika tekanan datang, mereka memilih berdiri dan melawan.

Penutup: Berani Itu Tidak Selalu Nyaman

Geger Cilegon bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah pengingat.

Tekanan bisa mengubah manusia. Keyakinan bisa melahirkan keberanian. Pilihan selalu ada, bahkan dalam kondisi paling sulit.

Diam memang terasa aman. Namun, keberanian selalu dimulai dari satu langkah kecil berhenti pura-pura tidak melihat. Sekarang, kamu mau tetap diam atau mulai bergerak?. @teguh

Tags: BantenBataviaCilegonDoaEkonomiGolokHarga DiriHasil BumiIbadahJihadKolonialmasyarakatModernpajakPesantrensejarawansenjataSosialSpiritualZikir

REKOMENDASI TABOOO

Keributan EPA U-20, Nova Arianto: Kalau Pemain Timnas Terlibat, Ada Konsekuensi

Keributan EPA U-20, Nova Arianto: Kalau Pemain Timnas Terlibat, Ada Konsekuensi

by teguh
April 20, 2026

Sepak bola muda seharusnya melahirkan masa depan. Namun di Stadion Citarum, Minggu, 19 April 2026, yang muncul justru adegan chaos....

[Polling] Perempuan Sudah Merdeka atau Cuma Terlihat Merdeka?

[Polling] Perempuan Sudah Merdeka atau Cuma Terlihat Merdeka?

by Tabooo
April 18, 2026

Tabooo.id: Polling – Kalau R.A. Kartini masih hidup hari ini, mungkin dia akan tersenyum melihat perempuan-perempuan sudah merdeka. Tapi… belum tentu...

Tirto Dibungkam Kolonial, Ketika Pena dan Krtitik Lebih Ditakuti dari Senjata

Tirto Dibungkam Kolonial, Ketika Pena dan Krtitik Lebih Ditakuti dari Senjata

by teguh
April 18, 2026

Tabooo.id: Deep - Pada awal abad ke-20, Hindia Belanda tak hanya merampas tanah. Mereka juga menguasai suara. Penguasa menentukan siapa...

Next Post
Stadion Wilis: Tempat Orang Sibuk Menciptakan Waktu yang Katanya Tidak Ada

Stadion Wilis: Tempat Orang Sibuk Menciptakan Waktu yang Katanya Tidak Ada

Recommended

Isu Pelengseran Prabowo: Suara Rakyat atau Operasi Senyap?

Isu Pelengseran Prabowo: Suara Rakyat atau Operasi Senyap?

April 13, 2026
Harga Avtur Meledak, Seberapa Kuat Pariwisata Nasional Bertahan?

Harga Avtur Meledak, Seberapa Kuat Pariwisata Nasional Bertahan?

April 18, 2026

Popular

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

April 14, 2026

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

Perempuan Indonesia Sudah Maju, Masih Diragukan?

April 19, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id