Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Geger Cilegon 1888: Saat Doa, Golok, dan Harga Diri Memilih Melawan

by teguh
April 14, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Fajar 9 Juli 1888 di Cilegon pecah tanpa aba-aba. Udara membawa bisik doa, langkah kaki cepat, dan satu keputusan cukup.

Di saat sebagian orang masih terlelap, ratusan petani berbaju putih mulai bergerak. Mereka tidak menunggu perintah. Mereka sudah terlalu lama menahan diri.

Pagi itu, diam tidak lagi jadi pilihan. Mereka melawan.

Dari Bertahan Hidup ke Melawan Hidup

Awalnya, rakyat hanya ingin bertahan. Namun, tekanan ekonomi terus menekan tanpa henti.

Pemerintah kolonial menaikkan pajak tanah. Mereka menarik pajak hasil bumi. Mereka juga membebani ternak dengan pungutan tambahan.
Di waktu yang sama, wabah membunuh kerbau aset utama petani.

Ini Belum Selesai

Kolam Segaran: Jejak Majapahit di Atas Riak Air

Saujana Malam dan Monumen Perahu Penjaga Sejarah Mojokerto

Akibatnya, hidup berubah jadi perjuangan harian. Namun, persoalan tidak berhenti di ekonomi.

Kolonial mulai mengatur ruang ibadah. Mereka membatasi aktivitas masjid. Mereka mengawasi pesantren. Bahkan, mereka mempermasalahkan azan.

Bagi masyarakat Banten, tindakan ini jelas melampaui batas. Kemarahan pun tumbuh. Ia tidak meledak seketika, tapi menguat pelan-pelan hingga menyatu.

Sejarawan Sartono Kartodirdjo menjelaskan bahwa pemberontakan seperti ini muncul dari kesadaran kolektif yang dipicu tekanan sosial dan spiritual (1973).
Jadi, rakyat tidak sekadar lapar mereka sadar sedang diperlakukan tidak adil.

Para Kiai Mengubah Takut Jadi Keyakinan

Di tengah situasi itu, para kiai mengambil peran penting. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga menggerakkan.

Kiai Haji Wasid dan Kiai Haji Tubagus Ismail menyatukan keresahan yang tersebar. Mereka menanamkan makna jihad. Mereka membangun keberanian dari dalam diri rakyat.

Lewat zikir dan pengajian, mereka menguatkan mental. Sementara itu, latihan fisik berlangsung diam-diam di balik pesantren dan hutan.

“Gerakan di Banten menunjukkan bagaimana agama bisa menjadi energi sosial yang nyata,” tulis Anthony Reid (1987).

Perubahan pun terjadi secara bertahap. Rakyat mulai berdiri tegak. Keberanian menggantikan rasa takut.

Serangan Cepat yang Mengguncang Kolonial

Ketika fajar tiba, rencana langsung berubah jadi aksi. Pasukan rakyat menyerang secara serentak. Gerakan mereka cepat dan terarah. Mereka langsung menyasar pusat kekuasaan.

Dalam waktu singkat, mereka menguasai Cilegon. Mereka melumpuhkan pejabat kolonial. Mereka menewaskan Asisten Residen Gultman.

Kabar itu menyebar cepat hingga Batavia. Namun, kolonial segera membalas. Mereka mengirim pasukan tambahan dengan senjata modern. Mereka menyerang dengan kekuatan penuh.

Akhirnya, mereka berhasil memukul mundur perlawanan.

Keyakinan yang Mengalahkan Logika

Walau kalah secara militer, para pejuang tidak kehilangan keberanian. Coba bayangkan situasinya. Petani bersenjata golok berlari menuju senapan.

Secara logika, itu mustahil. Namun, keyakinan memberi mereka alasan untuk tetap maju.

Mereka percaya satu hal mati dalam perlawanan lebih mulia daripada hidup dalam penindasan.

Di titik ini, rasa takut kehilangan kuasa. Sebaliknya, keyakinan mengambil alih.

Tekanan Zaman Sekarang: Lebih Halus, Tapi Nyata

Hari ini, kita memang tidak hidup di bawah kolonial. Kita tidak menghadapi larangan azan. Kita juga tidak membayar pajak ternak yang mencekik. Namun, tekanan tidak pernah benar-benar hilang.

Sekarang, tekanan muncul lewat standar sosial. Ia hadir dalam ketimpangan ekonomi. Ia terasa dalam sistem yang kadang tidak adil.

Sayangnya, banyak orang menerima semua itu sebagai hal biasa. Kita menyebutnya “realita”.

Padahal, pertanyaannya masih sama kapan terakhir kali kamu berani menolak sesuatu yang jelas tidak adil?

Warisan yang Membentuk Mentalitas Perlawanan

Perlawanan ini tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari sejarah panjang.

Sejak era Maulana Hasanuddin, Banten telah membangun fondasi kuat agama, perdagangan, dan keberanian berpikir.

Warisan itu terus hidup dalam masyarakat. Nilai-nilai itu membentuk karakter yang tidak mudah tunduk.

Karena itu, ketika tekanan datang, mereka memilih berdiri dan melawan.

Penutup: Berani Itu Tidak Selalu Nyaman

Geger Cilegon bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah pengingat.

Tekanan bisa mengubah manusia. Keyakinan bisa melahirkan keberanian. Pilihan selalu ada, bahkan dalam kondisi paling sulit.

Diam memang terasa aman. Namun, keberanian selalu dimulai dari satu langkah kecil berhenti pura-pura tidak melihat. Sekarang, kamu mau tetap diam atau mulai bergerak?. @teguh

Tags: BantenBataviaCilegonDoaEkonomi IndonesiaIbadahKolonialmasyarakatModernpajakPesantrensejarawansenjataSosialSpiritual

Kamu Melewatkan Ini

Rupiah Rp15 Ribu: Target Berani atau Cara Halus Menenangkan Pasar?

Katanya Rupiah Mau ke Rp15.000, Kok Malah Nyasar ke Rp18.000?

by dimas
Juni 5, 2026

Pemerintah menargetkan rupiah kembali ke Rp15.000 per dolar AS. Namun pasar justru mendorongnya tembus Rp18.000. Salah strategi atau krisis kepercayaan?...

Ketika Negara Sibuk Memungut, Siapa yang Menjaga Dunia Usaha?

Ketika Negara Sibuk Memungut, Siapa yang Menjaga Dunia Usaha?

by dimas
Juni 3, 2026

Ketika Negara Sibuk Memungut, Siapa yang Menjaga Dunia Usaha? Revisi aturan pajak UMKM memunculkan pertanyaan: mengejar penerimaan negara atau menjaga...

Prabowonomics: Kedaulatan atau Taruhan Besar Ekonomi Indonesia?

Prabowonomics: Kedaulatan atau Taruhan Besar Ekonomi Indonesia?

by dimas
Juni 2, 2026

Prabowonomics menawarkan peran negara yang lebih kuat dalam ekonomi. Apakah ini jalan menuju kedaulatan nasional atau taruhan besar bagi masa...

Next Post
Stadion Wilis: Tempat Orang Sibuk Menciptakan Waktu yang Katanya Tidak Ada

Stadion Wilis: Tempat Orang Sibuk Menciptakan Waktu yang Katanya Tidak Ada

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id