Tabooo.id: Sports – Di tengah debur ombak yang keras dan panggung kompetisi global yang kompetitif, muncul satu nama yang pelan tapi pasti mengguncang cara dunia melihat olahraga selancar Lamar Mufti. Bukan sekadar atlet, ia adalah simbol. Bukan sekadar peselancar, ia adalah narasi baru.
Nama Mufti mencuri perhatian saat tampil di ajang International Surfing Association (ISA) sebagai satu-satunya peselancar perempuan berhijab. Di dunia yang selama ini identik dengan kebebasan visual dan gaya hidup terbuka, kehadirannya justru membawa pesan berbeda identitas tidak harus dilepas untuk bisa melaju.
“Merupakan suatu kehormatan menjadi satu-satunya perempuan berhijab di ISA, dan saya bersyukur bisa tidak hanya mewakili negara saya, tetapi juga mewakili agama dan budaya,” tulis Mufti melalui Instagram pribadinya.
Kalimat itu sederhana, tapi dampaknya luas. Karena di olahraga, representasi bukan bonus itu kebutuhan.
Lebih dari Sekadar Kompetisi: Ini Soal Representasi
Mufti tidak datang hanya untuk mengejar skor atau podium. Ia datang membawa sesuatu yang lebih berat persepsi.
“Saya tidak hanya mewakili diri saya sendiri, tetapi juga sebuah negara Muslim. Saya mewakili agama dan budaya. Dan itu menarik perhatian,” jelasnya.
Dan benar saja perhatian itu datang. Banyak yang penasaran, bahkan skeptis. Bagaimana mungkin seorang perempuan berselancar dengan hijab? Apakah itu tidak membatasi?
Jawaban Mufti tidak datang lewat debat panjang, tapi lewat aksi di atas ombak.
Ia membuktikan satu hal batasan sering kali bukan berasal dari tubuh, tapi dari cara pandang.
Menurut laporan Vogue Arabia pada 13/04/2026, Mufti mengaku sering menerima pesan dari perempuan yang terinspirasi olehnya. Bahkan, beberapa di antaranya akhirnya mendapat izin dari orang tua untuk mulai berselancar.
“Saya sering menerima komentar dari perempuan yang ingin mencoba berselancar setelah melihat saya,” ungkapnya.
Di titik ini, olahraga berubah fungsi. Ia bukan lagi sekadar aktivitas fisik, tapi alat sosial.
Hijab Bukan Hambatan, Tapi Pernyataan
Di banyak tempat, olahraga sering dianggap menuntut kompromi terutama bagi perempuan dengan latar budaya tertentu. Mufti menolak narasi itu.
“Olahraga seharusnya tidak membuat seseorang harus mengorbankan agama atau identitasnya, tetapi justru memberdayakannya,” tegasnya.
Pernyataan ini bukan sekadar opini personal. Ini adalah kritik halus terhadap standar global yang sering kali tidak inklusif.
Dalam perspektif sport sociology, hal ini sejalan dengan pandangan pengamat olahraga global, Dr. Emma Sherry (Griffith University), yang pada 2021 menyebut bahwa “inklusi dalam olahraga bukan hanya soal akses, tapi soal penerimaan identitas.”
Artinya, kehadiran Mufti bukan kebetulan. Ia bagian dari gelombang perubahan.
Arab Saudi dan Ombak Perubahan Sosial
Cerita Mufti juga tidak bisa dilepaskan dari konteks negaranya.
Arab Saudi bukan negara dengan sejarah panjang dalam olahraga selancar. Ombaknya tidak selalu konsisten, infrastrukturnya masih berkembang. Tapi justru dari keterbatasan itu, lahir generasi pionir.
Bersama nama-nama seperti Leila Zahid dan Rmas Alhazmi, Mufti menjadi bagian dari fondasi awal tim selancar nasional Arab Saudi.
Mereka berlatih lintas negara, membangun komunitas, dan perlahan mengubah cara pandang masyarakat terhadap perempuan dan olahraga.
Fenomena ini juga sejalan dengan transformasi sosial yang lebih luas di Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir di mana ruang publik untuk perempuan mulai terbuka, termasuk di sektor olahraga.
Menurut pelatih surfing regional Timur Tengah, Ahmed Al-Sabah (wawancara komunitas surfing, 2024), “Perkembangan terbesar bukan di teknik, tapi di keberanian perempuan untuk hadir.” Dan Mufti adalah wajah dari keberanian itu.
Ombak yang Mengubah Narasi
Di atas papan selancar, semua orang terlihat sama melawan ombak, menjaga keseimbangan, dan mencari momen terbaik untuk berdiri.
Tapi di balik itu, setiap atlet membawa cerita yang berbeda. Lamar Mufti membawa cerita tentang identitas, keberanian, dan perubahan.
Ia tidak berteriak, tapi suaranya terdengar. Ia tidak melawan secara frontal, tapi dampaknya terasa. Dan mungkin, di situlah kekuatan sebenarnya.
Karena pada akhirnya, olahraga bukan cuma soal siapa yang paling cepat atau paling kuat. Tapi siapa yang berani mengubah permainan.
Lalu, kalau ombak saja bisa ditembus tanpa melepas identitas apa lagi yang sebenarnya selama ini kita takuti?. @teguh
![[Polling] Perempuan Sudah Merdeka atau Cuma Terlihat Merdeka?](https://tabooo.id/wp-content/uploads/2026/04/Polling-Perempuan-Sudah-Merdeka-atau-Cuma-Terlihat-Merdeka-350x250.jpg)





