Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Lamar Mufti: Ketika Ombak Tak Lagi Membatasi Identitas

by teguh
April 14, 2026
in Reality, Sports
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Sports – Di tengah debur ombak yang keras dan panggung kompetisi global yang kompetitif, muncul satu nama yang pelan tapi pasti mengguncang cara dunia melihat olahraga selancar Lamar Mufti. Bukan sekadar atlet, ia adalah simbol. Bukan sekadar peselancar, ia adalah narasi baru.

Nama Mufti mencuri perhatian saat tampil di ajang International Surfing Association (ISA) sebagai satu-satunya peselancar perempuan berhijab. Di dunia yang selama ini identik dengan kebebasan visual dan gaya hidup terbuka, kehadirannya justru membawa pesan berbeda identitas tidak harus dilepas untuk bisa melaju.

“Merupakan suatu kehormatan menjadi satu-satunya perempuan berhijab di ISA, dan saya bersyukur bisa tidak hanya mewakili negara saya, tetapi juga mewakili agama dan budaya,” tulis Mufti melalui Instagram pribadinya.

Kalimat itu sederhana, tapi dampaknya luas. Karena di olahraga, representasi bukan bonus itu kebutuhan.

Lebih dari Sekadar Kompetisi: Ini Soal Representasi

Mufti tidak datang hanya untuk mengejar skor atau podium. Ia datang membawa sesuatu yang lebih berat persepsi.

Ini Belum Selesai

Mentan Tantang Kampus Wujudkan Swasembada Pangan

Harley, Valas, dan Uang Rp145 Miliar: Jejak Korupsi Silmy Karim

“Saya tidak hanya mewakili diri saya sendiri, tetapi juga sebuah negara Muslim. Saya mewakili agama dan budaya. Dan itu menarik perhatian,” jelasnya.

Dan benar saja perhatian itu datang. Banyak yang penasaran, bahkan skeptis. Bagaimana mungkin seorang perempuan berselancar dengan hijab? Apakah itu tidak membatasi?

Jawaban Mufti tidak datang lewat debat panjang, tapi lewat aksi di atas ombak.

Ia membuktikan satu hal batasan sering kali bukan berasal dari tubuh, tapi dari cara pandang.

Menurut laporan Vogue Arabia pada 13/04/2026, Mufti mengaku sering menerima pesan dari perempuan yang terinspirasi olehnya. Bahkan, beberapa di antaranya akhirnya mendapat izin dari orang tua untuk mulai berselancar.

“Saya sering menerima komentar dari perempuan yang ingin mencoba berselancar setelah melihat saya,” ungkapnya.

Di titik ini, olahraga berubah fungsi. Ia bukan lagi sekadar aktivitas fisik, tapi alat sosial.

Hijab Bukan Hambatan, Tapi Pernyataan

Di banyak tempat, olahraga sering dianggap menuntut kompromi terutama bagi perempuan dengan latar budaya tertentu. Mufti menolak narasi itu.

“Olahraga seharusnya tidak membuat seseorang harus mengorbankan agama atau identitasnya, tetapi justru memberdayakannya,” tegasnya.

Pernyataan ini bukan sekadar opini personal. Ini adalah kritik halus terhadap standar global yang sering kali tidak inklusif.

Dalam perspektif sport sociology, hal ini sejalan dengan pandangan pengamat olahraga global, Dr. Emma Sherry (Griffith University), yang pada 2021 menyebut bahwa “inklusi dalam olahraga bukan hanya soal akses, tapi soal penerimaan identitas.”

Artinya, kehadiran Mufti bukan kebetulan. Ia bagian dari gelombang perubahan.

Arab Saudi dan Ombak Perubahan Sosial

Cerita Mufti juga tidak bisa dilepaskan dari konteks negaranya.

Arab Saudi bukan negara dengan sejarah panjang dalam olahraga selancar. Ombaknya tidak selalu konsisten, infrastrukturnya masih berkembang. Tapi justru dari keterbatasan itu, lahir generasi pionir.

Bersama nama-nama seperti Leila Zahid dan Rmas Alhazmi, Mufti menjadi bagian dari fondasi awal tim selancar nasional Arab Saudi.

Mereka berlatih lintas negara, membangun komunitas, dan perlahan mengubah cara pandang masyarakat terhadap perempuan dan olahraga.

Fenomena ini juga sejalan dengan transformasi sosial yang lebih luas di Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir di mana ruang publik untuk perempuan mulai terbuka, termasuk di sektor olahraga.

Menurut pelatih surfing regional Timur Tengah, Ahmed Al-Sabah (wawancara komunitas surfing, 2024), “Perkembangan terbesar bukan di teknik, tapi di keberanian perempuan untuk hadir.” Dan Mufti adalah wajah dari keberanian itu.

Ombak yang Mengubah Narasi

Di atas papan selancar, semua orang terlihat sama melawan ombak, menjaga keseimbangan, dan mencari momen terbaik untuk berdiri.

Tapi di balik itu, setiap atlet membawa cerita yang berbeda. Lamar Mufti membawa cerita tentang identitas, keberanian, dan perubahan.

Ia tidak berteriak, tapi suaranya terdengar. Ia tidak melawan secara frontal, tapi dampaknya terasa. Dan mungkin, di situlah kekuatan sebenarnya.

Karena pada akhirnya, olahraga bukan cuma soal siapa yang paling cepat atau paling kuat. Tapi siapa yang berani mengubah permainan.

Lalu, kalau ombak saja bisa ditembus tanpa melepas identitas apa lagi yang sebenarnya selama ini kita takuti?. @teguh

Tags: Arab SaudiBudayaHijabIdentitasInstagramISAKebebasanMomenMuslimNegaraPerubahanPeselancarSosialSurfing

Kamu Melewatkan Ini

Malam Satu Suro: Antara Spiritualitas, Tradisi, dan Pencarian Makna Hidup

Malam Satu Suro: Antara Spiritualitas, Tradisi, dan Pencarian Makna Hidup

by dimas
Juni 2, 2026

Malam Satu Suro bukan sekadar tradisi atau mitos yang hidup di masyarakat Jawa. Di balik keheningannya, tersimpan makna refleksi diri,...

Ketika Waktu Dijual: Siapa yang Sebenarnya Memiliki Hidup Para Pekerja?

Ketika Waktu Dijual: Siapa yang Sebenarnya Memiliki Hidup Para Pekerja?

by teguh
Juni 2, 2026

Lampu minimarket yang biasanya menyala hampir tanpa jeda mendadak padam saat libur nasional 31 Mei hingga 1 Juni 2026 karena...

Kenyamanan: Sangkar yang Paling Sulit Ditinggalkan

Kenyamanan: Sangkar yang Paling Sulit Ditinggalkan

by dimas
Mei 30, 2026

Kenyamanan sering terasa aman, tetapi diam-diam membatasi keberanian. Mengapa begitu banyak orang memilih sangkar daripada kebebasan? Tabooo.id - Seekor burung...

Next Post
Ini Bukan Sekadar Data Kemiskinan. Ini Pola Ketimpangan yang Berulang

Angka Bisa Berubah, Tapi Ketimpangan Tetap Sama: Ada Apa dengan Papua?

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id