Tabooo.id: Teknologi – Kalau kamu kira media sosial itu ruang bebas, mungkin sekarang waktunya mikir ulang. Pemerintah mulai masuk bukan buat ikut FYP kamu, tapi memastikan siapa yang sebenarnya ada di balik layar.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi menegaskan bakal menyisir dan memverifikasi akun anak di berbagai platform digital. Ini bukan sekadar wacana, tapi bagian dari implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2026 tentang Perlindungan Anak di Ruang Digital (PP Tunas).
Dunia Digital Tak Lagi “Sebebas Itu”
Lewat aturan ini, semua Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) mulai dari media sosial sampai platform game wajib mengidentifikasi layanan yang berpotensi diakses anak. Bukan cuma itu, mereka juga harus menerapkan sistem verifikasi usia yang lebih ketat.
Artinya? Bikin akun anonim ala “anak 12 tahun tapi ngaku 21” bakal makin susah.
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital, Alexander Sabar, menegaskan bahwa keberhasilan aturan ini bukan cuma soal aturan di atas kertas.
“Keberhasilan PP Tunas diukur dari dua indikator yang saling terkait. Pertama, tingkat kepatuhan platform digital dalam menerapkan sistem pelindungan anak secara menyeluruh,” ujar Alexander Sabar dalam keterangan tertulis, Sabtu, 11/04/2026.
Ia menambahkan “Kedua, dampak nyata di ruang digital, yaitu penurunan kasus eksploitasi, perundungan, dan paparan konten negatif pada anak,” tegasnya dalam keterangan resmi yang sama.
Platform Diawasi, Bukan Cuma Dikasih Imbauan
Dalam praktiknya, Komdigi melakukan verifikasi terhadap profil risiko Produk, Layanan, dan Fitur (PLF) dari tiap platform.
Hasilnya mulai terlihat:
- Meta → sudah dinyatakan patuh penuh
- Roblox & TikTok → masih tahap penyesuaian
- Google → kena teguran tertulis pertama
Bahkan, untuk platform yang belum patuh, pemerintah nggak main-main soal deadline.
“Google diminta untuk segera memenuhi kepatuhan PP Tunas dalam jangka waktu 7 hari sejak dikenakan sanksi administratif,” kata Alexander Sabar.
Singkatnya ini bukan sekadar imbauan moral. Ini regulasi dengan konsekuensi nyata.
Antara Proteksi dan Privasi: Kamu di Mana?
Di satu sisi, langkah ini terasa seperti “tameng digital” buat anak-anak. Kita tahu sendiri, internet bisa jadi tempat yang brutal dari cyberbullying sampai eksploitasi konten.
Tapi di sisi lain, muncul pertanyaan yang nggak kalah penting Seberapa jauh negara boleh masuk ke identitas digital kita?
Buat Gen Z dan milenial yang tumbuh dengan internet sebagai ruang ekspresi, verifikasi ini bisa terasa seperti pengawasan. Tapi buat orang tua, ini mungkin justru rasa aman yang selama ini hilang.
Scroll Lebih Aman, Tapi Lebih Terbatas?
Akhirnya, PP Tunas bukan cuma soal teknologi. Ini soal bagaimana kita mendefinisikan “aman” di era digital.
Apakah keamanan berarti pembatasan? Atau justru perlindungan yang selama ini kita butuhkan?
Satu hal jelas Ruang digital Indonesia sedang berubah dan kamu ada di tengahnya.
Lalu, menurutmu, ini langkah perlindungan atau awal dari kontrol yang lebih dalam?. @teguh






