Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gol Jadi Harapan: Eksel, Netizen, dan Mimpi Lama Sepak Bola Indonesia

by teguh
April 12, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu, 11/04/2026, langsung terasa berbeda. Persija memang menang 3-0 atas Persebaya. Tapi lebih dari itu, dua gol Eksel Runtukahu memantik sesuatu yang lebih besar dari sekadar kemenangan.

Di timeline, di grup WhatsApp, hingga kolom komentar nama Eksel mendadak ramai. Netizen tidak sekadar merayakan. Mereka mulai berharap. Dan di titik itu, sepak bola kembali berubah jadi ruang mimpi.

Gol yang Menghidupkan Harapan Lama

Eksel mencetak dua gol pada menit ke-53 dan 75. Ia membaca ruang dengan tepat, lalu menuntaskan umpan Allano Lima tanpa ragu.

Namun, publik tidak berhenti di situ. Mereka langsung mengaitkan performa itu dengan satu kata Timnas.

Di media sosial, dorongan terus bermunculan. Banyak yang menyebut Eksel layak mendapat kesempatan. Bahkan, sebagian netizen mulai membandingkannya dengan striker lain di liga.

Ini Belum Selesai

Gerwis: Dari Medan Revolusi Menuju Perjuangan Kesetaraan

Peristiwa Madiun 1948: Sejarah yang Belum Selesai

Fenomena ini terus berulang. Setiap kali pemain lokal tampil menonjol, publik langsung mendorongnya ke panggung nasional. Karena itu, momen seperti ini selalu terasa lebih emosional.

Kenapa Pemain Lokal Sering Terlambat Diapresiasi?

Namun, di balik euforia itu, muncul pertanyaan yang lebih dalam. Kenapa pemain seperti Eksel baru benar-benar dilirik setelah momen besar?

Padahal, ia sudah mencatat enam gol dan dua assist dari 18 laga. Selain itu, ia hanya butuh 912 menit untuk membuktikan kualitasnya. Artinya, performa itu tidak datang tiba-tiba.

Sayangnya, perhatian publik sering bergerak lambat. Banyak orang baru menyadari kualitas pemain setelah momen viral muncul. Akibatnya, konsistensi sering kalah oleh momentum. Pengamat sepak bola Indonesia, Akmal Marhali, menegaskan hal itu:

“Kita sering terlambat menghargai pemain lokal. Mereka baru dilirik setelah viral, bukan setelah konsisten,” ujar Akmal Marhali, 15 Januari 2024. Karena itu, kisah Eksel terasa familiar dan sedikit ironis.

Netizen, Emosi, dan Sepak Bola sebagai Ruang Pelarian

Di sisi lain, reaksi publik tidak muncul tanpa alasan.

Sepak bola di Indonesia bukan sekadar hiburan. Ia menjadi tempat orang melampiaskan emosi, membangun harapan, bahkan mencari pelarian.

Ketika realitas terasa berat, kemenangan tim kesayangan memberi jeda. Selain itu, kisah pemain seperti Eksel terasa dekat dengan kehidupan banyak orang.

Ia sempat tersisih. Ia menunggu. Lalu, ia membuktikan diri. Karena itu, publik tidak hanya melihat gol. Mereka melihat perjuangan.

Rendah Hati di Tengah Sorotan

Namun, di tengah sorotan besar itu, Eksel tetap memilih jalan yang sederhana.

“Saya tidak berharap untuk ke situ. Tapi saya akan memberikan yang terbaik untuk tim. Kalau memang dari Tuhan ada kesempatan buat ke Timnas Indonesia, saya akan memberikan yang terbaik untuk itu,” ujar Eksel Runtukahu, Sabtu, 11/04/2026.

Ia tidak mengejar panggung. Sebaliknya, ia fokus pada proses. Dan justru karena itu, banyak orang semakin percaya.

Siklus yang Terus Berulang

Jika dilihat lebih jauh, cerita ini sebenarnya bukan hal baru. Pola yang sama terus terjadi:

  • Pemain tampil bagus
  • Publik mulai percaya
  • Netizen mendorong ke Timnas
  • Harapan membesar

Namun, sistem sering terlambat merespons. Karena itu, pertanyaannya kini berubah. Bukan lagi soal layak atau tidak.

Melainkan apakah sepak bola kita siap memberi ruang sebelum pemain harus viral lebih dulu?

Closing: Lebih dari Sekadar Dua Gol

Dua gol di GBK mungkin akan lewat begitu saja dalam statistik. Namun, rasa yang muncul setelahnya tidak mudah hilang.

Karena pada akhirnya, publik tidak hanya ingin melihat kemenangan. Mereka ingin merasa yakin bahwa harapan itu masih ada.

Dan lewat momen kecil seperti ini, sepak bola kembali mengingatkan satu hal:

kadang, kita tidak butuh keajaiban besar cukup satu momen yang membuat kita percaya lagi. @teguh

Tags: fokusGBKGolHarapanMimpiNasionalNetizenPengamatPersebayaPersijaprosesSepak BolaSosial & PublikStadionStrikerTimnas

Kamu Melewatkan Ini

Nama Jampidsus Disebut, Febrie Pertanyakan Kaitannya dengan Blackout PLN

Nama Jampidsus Disebut, Febrie Pertanyakan Kaitannya dengan Blackout PLN

by Tabooo
Juli 11, 2026

Nama Jampidsus Febrie Adriansyah ikut disebut dalam pusaran pengusutan dugaan korupsi BUMN. Ia mempertanyakan kaitannya dengan kasus blackout PLN yang...

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

by jeje
Juni 2, 2026

Bagaimana mungkin seseorang menulis tentang Indonesia sebelum Indonesia benar-benar ada? Pertanyaan itu muncul ketika membaca Naar de Republiek Indonesia, karya Tan...

Next Post
Ini Bukan Sekadar Es di Puncak Jaya, Ini Alarm Krisis Iklim Global

Ini Bukan Sekadar Es di Puncak Jaya, Ini Alarm Krisis Iklim Global

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id