Tabooo.id: Vibes – Di Istana, kamera tidak pernah berdiri netral. Justru sebaliknya, satu jepretan bisa mengubah posisi wartawan dalam hitungan menit.
Karena itu, di era Soekarno, wartawan tidak hanya meliput peristiwa. Mereka juga ikut menjaga citra yang tidak pernah tertulis di aturan resmi.
Peci Sebagai Simbol Yang Di Jaga Bersama
Pada masa Soekarno, wartawan Istana membangun kesepakatan diam yang mereka pahami tanpa perlu dokumen resmi. Mereka tidak memotret Presiden tanpa peci.
Selain itu, peci hitam tidak hanya berfungsi sebagai aksesori. Ia bekerja sebagai simbol wibawa, identitas, dan citra negara yang sedang dibentuk.
Namun demikian, karena tidak ada aturan tertulis, batas itu bergerak di ruang abu-abu. Akibatnya, interpretasi di lapangan sering berubah menjadi risiko.
Momen Kecil Yang Berubah Menjadi Ketegangan
Pada 1963, juru foto Mingguan Ujana, Alex Lumi, meliput peristiwa wafatnya Perdana Menteri Djuanda di Jalan Merdeka Selatan.
Kemudian, di tengah suasana duka, Soekarno datang melayat. Pada awalnya, situasi tampak normal hingga kamera Alex menyala.
“Ketika itu saya refleks memotret dengan lampu kilat,” kata Alex dalam catatan J. Osdar di Bung Karno di Antara Saksi dan Peristiwa.
Setelah itu, situasi berubah cepat. Soekarno menoleh karena ia tidak mengenakan peci saat momen itu terekam.
Tak lama kemudian, pengawal Presiden membawa Alex keluar dari lokasi. Selanjutnya, ia ditahan di fasilitas militer Jakarta selama 10 hari.
“Bung Karno tidak menyuruh menahan saya, tetapi pengawalnya yang bertindak berlebihan,” ujar Alex.
Hormat Yang Berubah Menjadi Sistem Kendali
Selain faktor kekuasaan, hubungan wartawan dan Istana saat itu juga dibentuk oleh rasa hormat yang kuat. Karena itu, batas tidak tertulis itu tetap bertahan.
Martin Aleida, mantan wartawan Harian Rakjat, menjelaskan bahwa wartawan ikut menjaga citra Presiden dalam praktik peliputan sehari-hari.
“Kami tidak ingin menampilkan Bung Karno dengan cara yang merendahkan citranya,” ujarnya dalam forum Historia.
Dengan kata lain, kontrol citra tidak hanya datang dari Istana, tetapi juga dari ruang redaksi itu sendiri.
Dekat, Tapi Tetap Terbatas
Di sisi lain, Soekarno dikenal dekat dengan wartawan. Ia sering mengundang mereka berdiskusi, minum teh, bahkan makan bersama tanpa jarak formal.
Edi Harsono dari Suara Merdeka mencatat bahwa akses peliputan pada masa itu relatif terbuka. Bahkan, wartawan kerap masuk ke ruang-ruang politik penting.
Namun demikian, kedekatan itu tidak menghapus batas yang bekerja secara tidak langsung.
Misalnya, fotografer Rachmat Soekarchi pernah berjoget bersama Soekarno di Istana Bogor. Tetapi, yang bereaksi keras justru pengawal Istana.
“Bung Karno tertawa, tetapi pengawalnya langsung menegur,” kenangnya.
Dengan demikian, terlihat jelas bahwa struktur di sekitar kekuasaan sering menentukan batas sebenarnya.
Setelah Sukarno, Jarak Itu Menjadi Sistem
Memasuki era Soeharto, pola hubungan itu berubah secara signifikan. Wartawan tidak lagi memiliki kedekatan yang sama dengan Presiden.
Sebaliknya, sistem pengamanan dan kontrol informasi menjadi lebih ketat dan formal. Karena itu, ruang abu-abu yang dulu ada perlahan menghilang.
Akhirnya, jarak antara Presiden dan wartawan tidak lagi bergantung pada kesepakatan, tetapi pada prosedur.
Twist
Namun, jika dilihat lebih dalam, cerita ini tidak hanya soal peci atau kamera.
Sebaliknya, ini tentang bagaimana citra seorang pemimpin dibentuk, dijaga, dan dibatasi oleh kesepakatan yang tidak pernah benar-benar ditulis.
Selain itu, muncul pertanyaan yang lebih besar siapa sebenarnya yang mengendalikan apa yang kita lihat dari seorang pemimpin?
Apakah Presiden, wartawan, atau sistem yang berdiri di antara keduanya?
Dampaknya
Hari ini, situasinya terasa sangat relevan. Karena setiap orang kini bisa memotret dan menyebarkan gambar dalam hitungan detik.
Namun demikian, satu hal tetap sama tidak semua gambar lahir dari ruang yang netral.
Oleh karena itu, kita perlu bertanya ulang, siapa yang memilih realitas mana yang akhirnya kita lihat?
Dan pada akhirnya, satu foto masih bisa mengubah persepsi publik lebih cepat daripada satu pernyataan resmi.
Analisis Tabooo
Relasi Soekarno dan wartawan menunjukkan pola yang kompleks antara kedekatan dan kontrol. Di satu sisi, akses terbuka menciptakan kesan kebebasan.
Namun di sisi lain, batas tidak tertulis menciptakan kontrol yang bekerja secara halus dan tidak selalu terlihat.
Dengan demikian, kekuasaan tidak hanya hadir melalui aturan formal, tetapi juga melalui kebiasaan yang disepakati tanpa debat.
Pada titik ini, jurnalisme tidak hanya berfungsi sebagai penyampai fakta, tetapi juga bagian dari pembentuk citra.
Penutup
Pada akhirnya, jika hari ini semua orang bisa merekam dan menyebarkan realitas, pertanyaan penting tetap sama.
Apakah kita benar-benar melihat dunia apa adanya, atau hanya melihat dunia yang sudah disetujui untuk kita lihat? @dimas







