Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Beli Gas Pakai Sidik Jari: Solusi atau Masalah Baru?

by dimas
April 8, 2026
in Edge
A A
Home Edge

Tabooo.id: Edge – Bayangin beli gas 3 kg bukan cuma bawa tabung kosong.
Kini, prosesnya bisa berubah harus scan sidik jari, bahkan retina mata.

Sekilas terlihat modern.
Namun, pertanyaannya sederhana kita sudah siap belum?

Solusi di atas kertas

Usulan datang dari Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah. Ia mendorong penggunaan sistem biometrik untuk pembelian LPG subsidi agar lebih tepat sasaran.

Dengan mekanisme ini, hanya orang yang terdaftar yang bisa membeli.
Artinya, celah “pinjam identitas” bisa ditekan.

Di sisi lain, praktisi migas Hadi Ismoyo menilai langkah ini layak diuji coba.
“Menurut saya, cukup efektif untuk diuji coba dalam koordinat tertentu. Makin cepat makin bagus,” ujarnya.

Ini Belum Selesai

Dijanjikan Kerja, WNI Justru Direkrut ke Medan Perang Rusia

Tujuh Polisi Dimutasi Usai Ungkap Kasus Narkoba Anggota DPRD

Secara teknologi, Indonesia dinilai mampu.
Namun demikian, kesiapan teknis bukan satu-satunya masalah.

Saat negara masuk ke tubuh

Lebih dari sekadar kebijakan energi, ini menyentuh wilayah yang lebih personal.
Identitas tubuh sidik jari dan retina mulai jadi “akses” kebutuhan dasar.

Di titik ini, muncul dilema baru.
Apakah sistemnya benar-benar siap, atau hanya terlihat siap di atas kertas?

Realita lapangan nggak sesimpel itu

Menurut ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, biometrik hanya berfungsi sebagai verifikasi identitas.
Sayangnya, fungsi itu tidak otomatis memperbaiki distribusi.

Akibatnya, jika rantai distribusi masih bermasalah, kebocoran tetap bisa terjadi.
Selain itu, tantangan infrastruktur juga tidak kecil.

Di banyak daerah, listrik belum stabil dan internet sering terputus.
Ketika satu alat bermasalah, antrean bisa langsung mengular.

Bahkan, jika server melambat, proses pembelian bisa tersendat total.

Dari solusi ke potensi masalah

Di satu sisi, tujuan kebijakan ini jelas: menutup celah subsidi.
Namun di sisi lain, risiko baru ikut muncul.

“Jika tidak ada prosedur cadangan yang cepat, ini bisa memicu friksi sosial,” kata Syafruddin.

Misalnya, saat sidik jari gagal terbaca, apakah warga tetap bisa membeli?
Lalu, ketika sistem error, apakah transaksi harus berhenti?

Belum lagi soal antrean panjang.
Siapa yang menanggung waktu dan biaya tambahan?

Yang kena, kamu juga

Dampaknya tidak berhenti di kebijakan.
Justru, efeknya langsung terasa di level paling dekat kehidupan sehari-hari.

Tanpa kesiapan matang, pembelian gas bisa jadi lebih lama.
Selain itu, biaya waktu ikut meningkat.

Pada akhirnya, akses yang seharusnya mudah justru terasa makin jauh.
Ironisnya, sistem yang dirancang membantu malah berpotensi menyulitkan.

Masalahnya bukan teknologi

Sebenarnya, ide ini tidak keliru.
Bahkan, dalam konteks tertentu, langkah ini memang diperlukan.

Namun, akar masalahnya bukan di teknologi.
Melainkan di fondasi sistem yang belum sepenuhnya rapi.

Selama distribusi masih bocor dan data belum solid, teknologi hanya jadi pelengkap mahal.
Alih-alih menyelesaikan masalah, ia bisa menutupinya sementara.

Dan, pola seperti ini bukan hal baru.

Ujungnya siapa yang repot?

Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan soal bisa atau tidak.
Melainkan soal siap atau belum.

Jika sistem belum matang, dampaknya akan terasa lebih dulu di masyarakat kecil.
Mereka yang hanya ingin membeli satu tabung gas tanpa hambatan.

Jadi, ketika teknologi diterapkan terlalu cepat, satu hal perlu diingat yang paling dulu merasakan bukan sistem tapi manusia. @dimas

Tags: DistribusiEkonomi IndonesiaEnergierrorGasKebijakanKrisis GlobalLPGNasionalrakyatRealitaSistemSosial & PublikSubsidi

Kamu Melewatkan Ini

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Ekonomi Tumbuh, Kesejahteraan Masih Tertinggal

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Ekonomi Tumbuh, Kesejahteraan Masih Tertinggal

by dimas
Oktober 21, 2026

Dua tahun Prabowo-Gibran, ekonomi tumbuh di kisaran 5 persen. Namun, pekerjaan layak, daya beli kelas menengah, dan ketahanan energi masih...

Prabowo Klaim Banyak Capaian, Survei Publik Justru Menunjukkan Tren Menurun

Prabowo Klaim Banyak Capaian, Survei Publik Justru Menunjukkan Tren Menurun

by teguh
September 21, 2026

Presiden Prabowo klaim memasuki hampir dua tahun pemerintahannya dengan nada percaya diri. Di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu, 19/09/2026, ia menyebut...

Pengoplosan LPG Subsidi Muncul Lagi, Sukoharjo Perketat Pengawasan

Pengoplosan LPG Subsidi Muncul Lagi, Sukoharjo Perketat Pengawasan

by eko
September 7, 2026

Pengoplosan LPG subsidi kembali terbongkar di Sukoharjo. Diskopumdag kini memperketat pengawasan 26 agen dan 1.600 pangkalan. Tabooo.id: Sukoharjo - Pemerintah...

Next Post
Film Pertama Indonesia, Tapi Kita Lupa Sejarahnya?

Film Pertama Indonesia, Tapi Kita Lupa Sejarahnya?

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id