Selasa, April 7, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Tabooo Today
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Entertainment Musik

Internasionale: Lagu Lama, Tapi Sistem yang Dilawan Masih Sama?

April 7, 2026
in Entertainment, Musik
A A
Internasionale: Lagu Lama, Tapi Sistem yang Dilawan Masih Sama?

Internasionale bukan sekadar nyanyian, ini amarah yang akhirnya punya bentuk. (Ilustrasi: Tabooo)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Musik – Pernah nggak sih kamu denger Internasionale, lagu yang bukan cuma masuk telinga, tapi langsung menusuk cara kamu melihat dunia? Lagu ini bukan sekadar nada, tapi terasa seperti tamparan halus pada realitas yang selama ini kamu anggap normal. Internasionale tidak datang untuk menghibur, tapi untuk membongkar.

Ketika orang menyanyikannya, yang terjadi bukan sekadar performa musik. Yang terjadi adalah transmisi gagasan, perpindahan energi kolektif dari satu generasi ke generasi lain. Lagu ini seperti pesan berantai lintas zaman yang terus mengingatkan: ada sesuatu yang tidak beres di dunia ini, dan seseorang harus berani mengatakannya.

Lahir dari Luka, Bukan Industri Hiburan

“Internasionale” tidak lahir dari industri musik, tidak dirancang untuk chart, dan tidak dibuat untuk viral. Lagu ini lahir dari reruntuhan harapan. Setelah jatuhnya Komune Paris tahun 1871, Eugène Pottier menulis liriknya dalam kondisi penuh kehilangan dan kemarahan. Ia tidak menulis untuk terkenal. Ia menulis karena tidak punya pilihan lain selain bersuara.

Beberapa tahun kemudian, Pierre De Geyter memberi nyawa pada kata-kata itu melalui musik. Tapi yang menarik, musik ini tidak menghilangkan rasa marahnya. Justru memperkuatnya. Nada-nadanya terdengar seperti ajakan, bukan hiburan. Seperti seruan, bukan pertunjukan. Ini bukan lagu yang ingin kamu nikmati diam-diam. Ini lagu yang ingin kamu nyanyikan bersama orang lain.

Dari Jalanan ke Dunia: Lagu yang Menolak Mati

Tidak banyak lagu yang mampu melampaui batas negara, bahasa, dan ideologi. Tapi “Internasionale” berhasil melakukannya. Lagu ini pernah menjadi lagu resmi negara di Uni Soviet, sebuah fakta yang menunjukkan betapa kuatnya pengaruhnya dalam politik global. Namun bahkan setelah tidak lagi menjadi lagu resmi, ia tidak pernah benar-benar hilang.

RelatedPosts

Dynasty Warriors: Kenapa Game Tebas Ribuan Musuh Ini Bikin Ketagihan?

Janji Setia – Tiara Andini: Cinta Abadi atau Ilusi yang Kita Rawat?

Lagu ini tetap hidup di jalanan, di demonstrasi, di ruang-ruang diskusi, bahkan di internet. Ia diterjemahkan ke puluhan bahasa, dinyanyikan dalam berbagai konteks, dan selalu menemukan cara untuk relevan. Seolah-olah dunia terus berubah, tapi masalah dasarnya tetap sama. Dan selama itu terjadi, lagu ini akan terus punya alasan untuk ada.

Ini Bukan Lagu, Ini Ide yang Menyamar Jadi Nada

Kalau kamu mendengarkan “Internasionale” dengan serius, kamu akan sadar satu hal, ini bukan sekadar lagu. Ini ideologi yang dikemas dalam bentuk yang paling mudah menyeba, yaitu musik. “Internasionale” tidak memaksa, tapi mempengaruhi. Ia tidak berteriak, namun menggema.

Pesan di dalamnya sederhana, tapi justru itu yang membuatnya kuat. Ia bicara tentang ketimpangan, tentang kekuasaan, tentang hak untuk melawan sistem yang tidak adil. Dan di sinilah letak ketegangannya, karena ide seperti ini selalu berada di wilayah yang dianggap “berbahaya”. Bukan karena salah, tapi karena terlalu jujur.

Dunia Berubah, Tapi Masalahnya Kenapa Masih Sama?

Kita hidup di era teknologi, di mana semuanya terasa lebih modern, lebih cepat, lebih canggih. Tapi coba lihat lebih dalam. Apa ketimpangan benar-benar hilang? Apakah buruh benar-benar sejahtera? Dan apakah sistem sudah benar-benar adil?

Jawabannya sering kali tidak nyaman. Kita hanya mengganti bentuknya. Eksploitasi tidak hilang, hanya berganti wajah. Ketidakadilan tidak hilang, hanya lebih halus. Dan di titik ini, “Internasionale” terasa seperti lagu yang menolak menjadi usang. Ia terus relevan bukan karena dunia tidak berubah, tapi karena perubahan itu belum menyentuh akar masalah.

“Internasionale” Bukan Cerita Orang Lain, Ini Tentang Kamu

Mungkin kamu merasa lagu ini jauh dari kehidupanmu. Kamu bukan aktivis, bukan buruh pabrik, bukan bagian dari gerakan politik. Tapi coba lihat lagi hidupmu. Ketika kamu merasa kerja keras tidak sebanding dengan hasil. Saat kamu melihat harga naik lebih cepat daripada penghasilan. Atau ketika kamu merasa sistem tidak benar-benar berpihak.

Di situ, “Internasionale” mulai terasa dekat. Lagu ini tidak lagi menjadi simbol sejarah, tapi menjadi refleksi. Ia menunjukkan, apa yang dulu diperjuangkan, sekarang masih menjadi pertanyaan. Dan tanpa sadar, kamu sudah menjadi bagian dari narasi itu.“Internasionale”

“Internasionale” Bukan Nostalgia, Tapi Alarm yang Terus Berbunyi

Banyak orang menganggap “Internasionale” sebagai peninggalan masa lalu, sesuatu yang hanya relevan dalam konteks sejarah. Tapi justru di situlah kesalahannya. Lagu ini bukan nostalgia, ini adalah alarm.

Ia terus berbunyi setiap kali ketimpangan terjadi. Setiap kali suara rakyat diabaikan dan sistem berjalan tanpa koreksi. Lagu ini tidak pernah benar-benar berhenti, karena alasan untuk menyanyikannya tidak pernah benar-benar hilang.

Musik Bisa Lebih Berbahaya dari Berita

Kita sering menganggap berita sebagai alat perubahan, sebagai medium untuk menyampaikan fakta dan membuka mata publik. Tapi “Internasionale” menunjukkan sesuatu yang berbeda. Musik bisa lebih dalam. Lebih halus. Lebih sulit dilawan.

Karena musik tidak hanya masuk ke kepala, tapi juga ke emosi. Dan ketika sebuah ide sudah masuk ke emosi, ia tidak mudah hilang. Mungkin itu sebabnya lagu ini bertahan begitu lama. Bukan karena dipaksakan, tapi karena dirasakan.

Kalau Lagu Ini Masih “Ngena”, Apa yang Sebenarnya Salah?

Kalau sebuah lagu dari abad ke-19 masih terasa relevan di abad ke-21, ada dua kemungkinan. Entah lagunya yang terlalu kuat, atau dunia yang terlalu lambat berubah.

Dan mungkin, jawaban yang paling jujur… bukan yang paling nyaman. @tabooo

Tags: gerakan buruhInternasionalelagu revolusilagu sosialismusik politikpop culture historysejarah musik

Recommended

Becak Tua di Madiun: Bertahan atau Sekadar Menunggu Waktu?

Becak Tua di Madiun: Bertahan atau Sekadar Menunggu Waktu?

April 2, 2026
El Nino Datang Lagi: Petani Terancam Gagal Panen?

El Nino Datang Lagi: Petani Terancam Gagal Panen?

April 6, 2026

Popular News

  • Tan Malaka Tidak Kehilangan Cinta, Dia Kalah oleh Sistem

    Tan Malaka Tidak Kehilangan Cinta, Dia Kalah oleh Sistem

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kalau Syarifah Menikahi Tan Malaka, Apakah Indonesia Akan Tetap Sama?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yang Kita Hafal Pancasila, Tapi Lupa Intinya: Gotong Royong

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kerajaan Kehilangan Tanah atau Negara “Sengaja” Mengubah Statusnya?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yang Menarik Menang Duluan, Sisanya Harus Berjuang Lebih Keras

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.