Kamis, Juni 11, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Percaya Diri Tanpa Syarat: Anak Difabel YPAC Surabaya Ajar Kita Arti Self-Love yang Sesungguhnya

by teguh
Mei 8, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Lifestyle – Bilang Kepercayaan Diri Harus Sempurna? Pernah nggak sih kamu ngerasa minder cuma karena jerawat nongol satu? Atau panik karena feed Instagram kamu nggak “estetik”?

Coba jika anda datang ke Gedung Jati Asih, YPAC Surabaya, Rabu (29/10/2025)sore kemarin. Di sana, ada anak-anak difabel yang tampil percaya diri di panggung dengan baju hasil rancangan tangan mereka sendiri. Langkahnya mungkin pelan, tapi auranya meledak. Bukan karena pencahayaan, tapi karena semangat yang nggak bisa diredupkan.

Acara bertajuk “Celebrate Creativity & Confidence” ini bikin siapa pun yang nonton mikir ulang tentang arti percaya diri. Nggak butuh tubuh sempurna, wajah glowing, atau gaya hidup fancy buat berani tampil. Kadang, cukup dengan senyum tulus dan niat kuat buat nunjukin siapa diri kamu sebenarnya.

Dari Panggung Fashion ke Panggung Kehidupan

Yesnow merek produk kecantikan lokal menggandeng YPAC Surabaya buat bikin acara yang nggak sekadar seremonial. Mereka datang bukan buat kasihan, tapi buat memberdayakan.

“Setiap manusia itu sama. Nggak ada beda,” kata Yulinar Ayu, Sekretaris Direktur Yesnow.
Kalimat itu sederhana, tapi ngena banget. Di tengah masyarakat yang masih suka mengkotakkan orang berdasarkan “normal” atau “tidak”, Yesnow justru ngajak kita buat berhenti ngelihat perbedaan sebagai batas.

Ini Belum Selesai

Tapa Bisu, Jejak Mindfulness dalam Tradisi Jawa

Vape Rasa Buah Terasa Manis, Tapi Kenapa Ribuan Gen Tubuh Ikut Berubah?

Selain peragaan busana, anak-anak YPAC juga ikut kegiatan membatik dan melukis di material ramah lingkungan. Karyanya keren-keren bukan cuma secara visual, tapi juga secara makna. Mereka membuktikan kalau kreativitas nggak kenal label, dan semangat bisa jadi alat pemberdayaan paling kuat.

Yesnow bahkan berencana ngajak mereka ikut jadi Sales Promotion Girl (SPG) dalam event mendatang. “Di sini mereka juga punya kelas advokasi, jadi memang disiapkan buat punya skill kerja,” lanjut Yulinar.
Artinya, inklusi bukan cuma slogan, tapi proses nyata buat bikin ruang yang adil bagi semua orang.

Ketika Self-Love Bukan Sekadar Caption Instagram

Salah satu momen paling hangat datang dari Zoe Levana, Brand Ambassador Yesnow. Gadis muda ini nggak bisa nahan haru saat lihat penampilan anak-anak difabel yang tampil tanpa ragu.
“Mereka keren-keren banget. Ramah, ceria, dan semangatnya tinggi,” katanya sambil tersenyum.

Zoe udah beberapa kali terlibat dalam kegiatan sosial bareng Yesnow. Tapi kali ini, katanya, rasanya beda.
“Di sini aku belajar makna self-love yang sesungguhnya. Anak-anak ini punya kekurangan, tapi tetap percaya diri dan mencintai diri mereka apa adanya,” ujarnya.

Coba bayangin di dunia yang sering nyuruh kita jadi “lebih putih”, “lebih kurus”, “lebih kaya”, anak-anak ini justru ngajarin hal paling dasar bahwa mencintai diri sendiri nggak butuh pembanding.
Self-love bukan soal jadi sempurna, tapi soal menerima diri, lengkap dengan cacat, luka, dan potensi yang kamu punya.

Ruang Aman untuk Tumbuh dan Percaya

Menurut Isrumella, Kepala Sekolah YPAC Surabaya, acara ini jadi momen penting buat siswa-siswanya.
“Harapan kami, kegiatan seperti ini bisa berkelanjutan. Anak-anak bisa eksplor, bisa aktualisasi diri, dan menunjukkan ke masyarakat kalau mereka juga hebat,” ujarnya.

Kata “hebat” di sini bukan basa-basi. Karena sering kali, tantangan terbesar buat anak difabel bukan pada fisik mereka, tapi pada cara masyarakat memandang mereka.
Kegiatan seperti Celebrate Creativity & Confidence jadi jembatan buat mengubah pandangan itu dari belas kasihan jadi penghargaan, dari stigma jadi peluang.

Dan kalau kita jujur, kadang yang paling butuh belajar soal percaya diri bukan mereka, tapi kita. Kita yang sering ngerasa kurang, padahal punya segalanya.
Kita yang sibuk cari validasi di dunia digital, tapi lupa validasi diri sendiri.

Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?

Di era media sosial, confidence sering diukur dari jumlah likes. Tapi di panggung kecil YPAC Surabaya, kepercayaan diri justru datang dari keberanian untuk tampil tanpa takut ditertawakan, tanpa perlu disetujui.

Anak-anak difabel di sana mungkin nggak punya follower ribuan, tapi mereka punya sesuatu yang lebih langka yaitu ketulusan dan keberanian serta keihklasan untuk jadi diri sendiri.

Dan mungkin itu yang sedang hilang dari banyak generasi muda sekarang. Kita terlalu sibuk menutupi kekurangan, sampai lupa bahwa justru di situlah letak keunikan kita.

Jadi lain kali kamu ngerasa nggak cukup keren, nggak cukup cantik, atau nggak cukup sukses ingat panggung di YPAC Surabaya.
Karena di sana, anak-anak dengan langkah tertatih justru mengajarkan kita cara berdiri tegak. @teguh


Tags: Difabel

Kamu Melewatkan Ini

Nathania Tuli, Dunia yang Bising: Siapa Sebenarnya yang Perlu Belajar Mendengar?

Nathania Tuli, Dunia yang Bising: Siapa Sebenarnya yang Perlu Belajar Mendengar?

by teguh
April 9, 2026

Tabooo.id: Life - Di ruangan yang ramai, suara biasanya jadi pusat segalanya. Orang berbicara, tertawa, lalu saling menimpali. Namun, bagi...

Siswi Difabel Diduga Jadi Korban Pelecehan Guru di SLB Yogyakarta

Siswi Difabel Diduga Jadi Korban Pelecehan Guru di SLB Yogyakarta

by dimas
Maret 8, 2026

Tabooo.id: Kriminal - Kasus dugaan pelecehan seksual terhadap seorang siswi difabel di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Yogyakarta...

G’Nots Indiefa: Band Difabel yang Suarakan Harapan dan Semangat

G’Nots Indiefa: Band Difabel yang Suarakan Harapan dan Semangat

by eko
Mei 8, 2026

Tabooo.id: Entertainment - Pernah nggak sih kamu kepikiran kalau penyandang disabilitas cuma bisa duduk manis sambil nonton orang lain perform...

Next Post
Bantengan: Ketika Banteng Menari, Magi dan Maskulinitas Mojokerto Bertemu di Panggung Rakyat

Bantengan: Ritual, Adrenalin, dan Nafas Leluhur

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id