Tabooo.id: Vibes – Kalau kamu berjalan santai di sudut Kota Tua Surabaya, ada satu bangunan yang diam-diam mencuri perhatian. Bukan karena keramaian, justru karena kesunyiannya. Di pintu masuknya, dua patung singa bersayap duduk diam wajahnya tegas, sedikit muram, seperti penjaga waktu yang tidak pernah tidur.
Orang-orang menyebutnya sederhana Gedung Singa.
Namun, di balik nama yang terdengar biasa itu, tersimpan cerita yang jauh dari kata biasa. Ini bukan sekadar bangunan tua. Ini semacam kapsul waktu yang menyimpan jejak dunia di satu titik kota.
Jejak Arsitek Dunia di Sudut Surabaya
Gedung ini mulai dibangun pada 1901 dan rampung dua tahun kemudian. Awalnya, desain pertama sempat ditolak. Lalu datang nama besar: Hendrik Petrus Berlage arsitek Belanda yang karyanya bahkan masih jadi rujukan arsitek modern hari ini.
Bayangkan, di tengah Surabaya, ada karya seorang arsitek kelas dunia yang biasanya kita bayangkan berdiri di Eropa.
Pada masa kolonial, gedung ini berfungsi sebagai kantor perusahaan asuransi jiwa besar Hindia Belanda. Fungsinya terdengar “serius”, bahkan kaku. Namun justru di situlah menariknya karena bangunan ini tidak hanya bicara soal fungsi, tapi juga soal rasa, simbol, dan identitas.
Seiring waktu, gedung ini berpindah tangan dan akhirnya dikelola oleh PT Jiwasraya. Ketika perusahaan itu runtuh, nasib gedung ini ikut tergantung. Ia sempat masuk daftar lelang, seperti benda mati yang bisa diperjualbelikan begitu saja.
Padahal, yang dipertaruhkan bukan sekadar aset.
Arsitektur yang Bukan Sekadar Bentuk
Kalau kamu mendekat, Gedung Singa tidak terasa seperti bangunan biasa. Ia seperti hasil pertemuan banyak dunia. Berlage tidak hanya membawa gaya Eropa, tetapi juga menyisipkan sentuhan Timur Tengah dan Mesir Kuno.
Dua singa bersayap di depan itu bukan ornamen sembarangan. Seniman Joseph Mendes Da Costa merancangnya dengan inspirasi dari simbolisme Mesir Kuno. Wajahnya tidak garang, justru seperti menyimpan emosi. Di dadanya, ada simbol matahari lambang kekuatan, kehidupan, sekaligus kematian.
Di dalamnya, ada mosaik porselen karya Jan Toorop. Visualnya unik: Raja Firaun berdampingan dengan ibu Eropa dan ibu Jawa, masing-masing menggendong anak. Sebuah gambaran lintas budaya yang terasa sangat “Indonesia”, bahkan sebelum Indonesia benar-benar menjadi negara.
Gedung ini seperti berbicara: bahwa identitas tidak pernah tunggal. Ia selalu hasil pertemuan.
Kota, Memori, dan Ilusi Modernitas
Sekarang, coba tarik napas dan lihat sekitar. Kota bergerak cepat. Gedung-gedung baru tumbuh, kafe estetik bermunculan, dan ruang publik berubah jadi konten Instagram.
Di tengah semua itu, Gedung Singa tetap diam.
Ironisnya, justru dalam diam itulah ia paling lantang. Ia mengingatkan bahwa kota bukan hanya tentang apa yang baru, tetapi juga tentang apa yang bertahan.
Kita hidup di era yang suka merayakan “yang fresh”. Namun, tanpa sadar, kita sering lupa menjaga yang lama. Padahal, bangunan seperti ini bukan sekadar estetika vintage. Ia adalah memori kolektif.
Ketika gedung ini sempat dilelang dan tidak ada yang membeli, itu terasa seperti ironi modern. Kita mengagumi sejarah, tetapi ragu untuk merawatnya.
Antara Warisan dan Kepentingan
Kelompok sejarawan seperti Begandring sempat menyuarakan kekhawatiran. Mereka takut gedung ini jatuh ke tangan yang hanya melihat angka, bukan makna.
Kekhawatiran itu masuk akal.
Karena ketika bangunan bersejarah berubah jadi sekadar properti, kita kehilangan konteksnya. Kita tidak lagi melihat cerita di balik dinding, hanya melihat nilai jualnya.
Padahal, Gedung Singa bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah titik temu: antara kolonialisme dan kemerdekaan, antara Timur dan Barat, antara fungsi dan seni.
Lebih dari itu, ia adalah bukti bahwa kota ini pernah menjadi bagian dari percakapan global.
Refleksi: Apa Arti Gedung Tua Hari Ini?
Di tengah dunia yang serba cepat, Gedung Singa seperti mengajukan pertanyaan sederhana: apa arti masa lalu bagi kita?
Apakah kita hanya ingin memotretnya?
Atau kita benar-benar ingin memahaminya?
Tabooo melihat gedung ini bukan hanya sebagai objek sejarah, tetapi sebagai cermin. Ia menunjukkan bagaimana kita memperlakukan warisan—apakah kita merawatnya, atau membiarkannya pelan-pelan hilang.
Karena pada akhirnya, bangunan bukan sekadar batu. Ia adalah cerita yang dibekukan dalam bentuk fisik.
Dan setiap kali kita membiarkan cerita itu hilang, kita sebenarnya sedang menghapus sebagian dari diri kita sendiri.
Dua Singa yang Terus Menjaga
Hingga hari ini, dua singa itu masih duduk di tempatnya. Mereka tidak bergerak, tidak bersuara, tetapi tetap menjaga.
Mungkin mereka tidak hanya menjaga gedung.
Mungkin mereka juga menjaga ingatan.
Dan kita?
Masihkah kita peduli pada apa yang mereka jaga atau kita hanya lewat, mengambil foto, lalu pergi begitu saja? @dimas




