• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Jumat, Maret 27, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Talk

Kota Itu Janji atau Ilusi?

Maret 27, 2026
in Talk
A A
Kota Itu Janji atau Ilusi?

Ilustrasi seorang pemuda melangkah meninggalkan desa, membawa koper dan harapan meyakini kota akan mengubah nasibnya menjadi lebih baik. (Foto ilustrasi Tabooo.id Dimas P)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Setiap Lebaran, kita kembali melihat pemandangan yang sama jalanan padat, koper penuh, dan wajah lelah yang tetap menyimpan harap. Arus balik bukan sekadar soal kemacetan ia menjelma etalase paling jujur tentang mimpi besar bernama “kota”.

Namun di balik hiruk-pikuk itu, satu pertanyaan terus muncul apakah kota benar-benar menjanjikan masa depan, atau kita hanya jatuh cinta pada cerita yang sudah dibaguskan?

Cerita Sukses yang Setengah Jadi

Di ruang tamu, obrolan khas Lebaran terus berulang. Sambil menikmati kue nastar, para perantau berbagi kisah. Mereka mengatakan kerja di kota menjanjikan, asal rajin dan tahan banting. Bahkan, sebagian meyakinkan bahwa peluang terbuka lebar bagi siapa saja.

Sekilas, narasi itu terdengar seperti trailer film sukses. Sayangnya, kita jarang melihat versi lengkapnya. Banyak anak muda berangkat ke kota bukan karena rencana matang, melainkan karena dorongan cerita dari teman, saudara, atau tetangga yang pulang dengan tampilan meyakinkan.

RelatedPosts

Bersua Sang Raja: Silaturahmi atau Ujian Etika?

Langkah di Bali Butuh Lebih dari Sekadar Mata

Sering kali, mereka memoles cerita itu. Mereka melebihkan bagian yang indah dan menutupi sisi gelapnya. Tanpa sadar, kita langsung mempercayainya.

Hitung-hitungan yang Tak Pernah Diceritakan

Jika kita hitung secara sederhana, realitasnya tidak selalu seindah cerita. Gaji Rp4 juta di kota besar memang terlihat menarik. Namun setelah membayar kos, makan, transportasi, dan kebutuhan harian, uang yang tersisa sering kali hampir tidak ada.

Meski begitu, banyak perantau tetap tampil “berhasil” saat pulang kampung. Mereka memakai sepatu baru, menggenggam ponsel mahal, dan menunjukkan gaya hidup kekinian. Padahal, sebagian dari mereka bertahan dengan cicilan, bahkan menyewa barang demi menjaga citra.

Fenomena ini bukan sekadar soal gaya hidup. Di desa, kegagalan terasa lebih keras gaungnya. Karena itu, banyak orang memilih menampilkan versi terbaik dirinya, meski realitasnya tidak seindah itu.

Kota: Peluang atau Panggung?

Pada titik tertentu, kota tidak lagi sekadar ruang mencari peluang. Kota berubah menjadi panggung tempat orang bertahan, bukan selalu berkembang. Harga yang harus dibayar pun tidak murah.

Sebagian orang menguras tenaga dengan pekerjaan serabutan setiap hari. Sebagian lain menghadapi tekanan mental yang perlahan menggerus semangat. Bahkan, tidak sedikit yang mengambil dua hingga tiga pekerjaan sekaligus hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Meski demikian, tidak semua cerita berakhir pahit. Ada juga yang benar-benar berhasil. Mereka datang dengan keterampilan, rencana, dan kesiapan mental. Dalam kondisi seperti ini, kota memang bisa menjadi ruang tumbuh.

Karena itu, kita perlu bersikap adil kota bukan penjahat, tetapi juga bukan penyelamat.

Desa yang Terlalu Sering Diremehkan

Di sisi lain, banyak orang masih memandang desa hanya sebagai tempat pulang, bukan tempat berkembang. Padahal, desa menyimpan potensi besar. Sumber daya tersedia, komunitas kuat, dan akses digital kini semakin terbuka.

Masalah utamanya bukan pada desa, melainkan pada cara pandang kita. Banyak anak muda mulai menyadari hal ini. Mereka memilih tinggal, membangun usaha, dan menciptakan peluang di kampung sendiri.

Sayangnya, kisah mereka jarang terdengar. Cerita “bertahan di desa” memang tidak sepopuler narasi “menaklukkan kota”. Padahal, di sanalah muncul alternatif masa depan yang lebih realistis.

Peran Negara yang Tak Bisa Absen

Sementara itu, pemerintah tidak boleh tinggal diam. Desa tidak bisa terus berperan sebagai penyangga kota. Pemerintah harus mendorong perubahan lewat pelatihan keterampilan, akses permodalan, literasi digital, dan pembukaan jaringan pasar.

Tanpa langkah konkret, urbanisasi akan terus berulang setiap tahun. Kita mungkin menganggapnya tradisi, padahal itu tanda ketimpangan yang belum selesai.

Jadi, Kita Sedang Mengejar Apa?

Pada akhirnya, setiap orang berhak merantau. Kota bisa membuka peluang bagi mereka yang datang dengan bekal cukup. Sebaliknya, tanpa persiapan, kota justru berubah menjadi labirin yang menguras tenaga dan harapan.

Karena itu, kita perlu bersikap jujur. Kota bukan tempat ajaib yang otomatis mengubah nasib. Sukses juga tidak selalu berarti harus pergi jauh.

Kadang, pilihan paling berani justru datang dari mereka yang memilih tinggal dan membangun dari tempat yang sering diremehkan.

Sekarang, pertanyaannya sederhana kita sedang mengejar peluang, atau sekadar mengejar pengakuan?

Lalu, kamu di kubu mana? @dimas

Tags: AnakArus BalikBangundesaGengsihidupIlusiKotaKrisisMimpiNyataPeluangRantauRealitaSosialSuaraUrban

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Prabowo Suruh Bahlil Berburu Minyak, Ada Apa Sebenarnya?

    Prabowo Suruh Bahlil Berburu Minyak, Ada Apa Sebenarnya?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pesugihan Sate Gagak: Bisnis Kuliner Paling Laris, Tapi Customer-nya Bukan Manusia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pukulan di Kamar Hotel: Ketika Ego Remaja Lebih Keras dari Empati

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Di Antara China dan Amerika, Indonesia Tidak Lagi Punya Ruang untuk Diam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Terjawab! Misteri Senyum Mona Lisa: Ini Makna di Baliknya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.