Tabooo.id: Nasional – Presiden Prabowo Subianto mulai menyiapkan langkah konkret untuk menghadapi tekanan pasokan energi global. Ia mengumpulkan jajaran menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka dan langsung membahas strategi penghematan energi di tengah situasi global yang memanas.
Pemerintah melihat dinamika geopolitik dunia mulai berdampak pada harga dan distribusi energi. Karena itu, Prabowo menekankan pentingnya efisiensi lintas sektor agar Indonesia tidak terlalu terpukul oleh gejolak eksternal.
WFH Jadi Instrumen Hemat Energi
Salah satu langkah yang langsung mengemuka adalah rencana penerapan kerja dari rumah atau work from home (WFH) satu hari dalam sepekan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut kebijakan ini sebagai cara cepat menekan konsumsi bahan bakar minyak.
Pemerintah menargetkan pengurangan mobilitas harian masyarakat, terutama perjalanan kerja yang selama ini menyerap konsumsi BBM dalam jumlah besar. Airlangga memperkirakan kebijakan ini bisa memangkas penggunaan bahan bakar hingga sekitar seperlima dari konsumsi normal.
Langkah ini tidak hanya menyasar aparatur sipil negara. Pemerintah juga mendorong sektor swasta dan pemerintah daerah ikut menerapkan skema serupa agar dampaknya lebih luas.
Efisiensi Tanpa Mengorbankan Produktivitas
Pemerintah kini menyusun detail teknis agar kebijakan WFH tidak mengganggu produktivitas. Skema ini harus tetap menjaga kinerja ekonomi sambil menekan konsumsi energi.
Pendekatan ini menunjukkan arah kebijakan yang lebih hati-hati. Pemerintah memilih langkah efisiensi daripada kebijakan ekstrem seperti pembatasan distribusi BBM atau kenaikan harga energi yang berisiko memicu gejolak sosial.
Rencana ini akan mulai berjalan setelah Lebaran 2026. Namun, pemerintah masih mematangkan waktu pelaksanaan agar transisi berjalan mulus di semua sektor.
Dampak Langsung ke Masyarakat dan Ekonomi
Kebijakan ini akan langsung terasa bagi pekerja, terutama di perkotaan. Bagi sebagian orang, WFH memberi keuntungan berupa penghematan biaya transportasi dan waktu. Namun bagi sektor tertentu yang bergantung pada mobilitas, kebijakan ini bisa menuntut penyesuaian pola kerja.
Di sisi lain, pengurangan konsumsi BBM berpotensi menekan biaya logistik dan menjaga stabilitas harga barang. Jika berhasil, langkah ini bisa membantu meredam tekanan inflasi yang sering muncul akibat kenaikan harga energi.
Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada partisipasi luas dari dunia usaha dan masyarakat. Tanpa dukungan tersebut, penghematan yang diharapkan bisa sulit tercapai.
Pada akhirnya, kebijakan ini menunjukkan satu hal ketika tekanan global tak bisa dikendalikan, pemerintah mulai mengatur ulang kebiasaan domestik. Pertanyaannya sederhana apakah kita siap mengubah rutinitas demi menahan dampak krisis, atau justru menunggu sampai dampaknya terasa di dompet? @dimas



