Kamis, Juli 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sunyi Nyepi, Riuh Lebaran: Dua Jalan, Satu Makna tentang Manusia

by dimas
Maret 19, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Langit belum sepenuhnya gelap ketika suara terakhir perlahan menghilang. Satu per satu, lampu kota padam. Jalanan yang biasanya riuh berubah lengang. Tak ada klakson, tak ada langkah tergesa, bahkan layar ponsel ikut meredup.

Namun, di sisi lain, takbir mulai menguat pelan, lalu bergema.

Dalam satu waktu, dua suasana yang tampak berlawanan itu hadir bersamaan. Tahun ini, Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri berdampingan sunyi dan riuh berjalan bersebelahan tanpa saling meniadakan.

Karena itu, Indonesia kembali menghadapi ujian lama bukan tentang perbedaan, melainkan tentang cara memaknainya.

Di Antara Puasa dan Sunyi

Ramadan selalu membawa ritmenya sendiri. Ia menghadirkan jeda di tengah hidup yang bergerak terlalu cepat. Selama sebulan, orang-orang menahan lapar, meredam amarah, dan mengendalikan dorongan yang sering luput dari perhatian.

Ini Belum Selesai

Mengajarkan Hasil atau Menghargai Proses?

Mengapa Orang Tetap Memburu Burung Meski Tahu Itu Dilarang?

Dengan begitu, puasa tidak sekadar mengosongkan perut. Ia membuka ruang memaksa manusia melihat ke dalam dirinya sendiri.

Sementara itu, Nyepi menghadirkan jeda dalam bentuk yang lebih tegas. Ia tidak hanya menghentikan tubuh, tetapi juga meredam dunia di sekitarnya.

Umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian. Mereka tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak menikmati hiburan. Mereka menghentikan aktivitas, menahan dorongan, lalu memusatkan perhatian sepenuhnya ke dalam diri.

Jika Ramadan melatih pengendalian di tengah aktivitas, maka Nyepi melatih pengendalian dengan menghentikan hampir seluruh aktivitas itu sendiri.

Pada akhirnya, dua jalan yang berbeda itu bermuara pada tujuan yang sama: kembali pada diri.

Paradoks yang Justru Menyatukan

Di atas kertas, dua perayaan ini tampak bertolak belakang. Yang satu penuh suara, sementara yang lain dipenuhi keheningan. Yang satu merayakan kemenangan bersama, sedangkan yang lain merayakan kesadaran dalam kesendirian.

Namun demikian, realitas di lapangan justru bergerak berbeda.

Di sejumlah daerah, umat Muslim memilih mengecilkan takbir. Sementara itu, warga non-Hindu turut menjaga ketenangan selama Nyepi. Tidak ada aturan kaku yang memaksa. Sebaliknya, kesadaran tumbuh dan bekerja secara diam-diam.

Di sinilah paradoks Indonesia menemukan bentuknya. Perbedaan tidak selalu selesai melalui kesepakatan formal, melainkan melalui rasa yang sama-sama dijaga.

Bahkan, di tengah dunia yang sibuk memperdebatkan identitas, Indonesia justru menunjukkan hal sederhana: toleransi tidak selalu perlu dijelaskan panjang lebar ia cukup dijalankan.

Dunia Terlalu Bising, Sunyi Jadi Kebutuhan

Hari ini, manusia hidup dalam kebisingan tanpa jeda. Notifikasi datang terus-menerus. Media sosial berbicara tanpa henti, bahkan saat seseorang ingin diam.

Dalam situasi seperti itu, Ramadan dan Nyepi hadir sebagai bentuk perlawanan.

Ramadan mengajak manusia menahan diri di tengah arus. Sebaliknya, Nyepi mendorong manusia keluar dari arus itu sepenuhnya.

Dengan cara berbeda, keduanya menyampaikan pesan yang sama: manusia membutuhkan jeda.

Namun ironisnya, di era digital, jeda justru menjadi barang langka. Orang lebih mudah kehilangan sinyal daripada kehilangan distraksi.

Karena itu, pertemuan dua perayaan ini terasa relevan. Ia mengingatkan kita untuk memperlambat hidup sesuatu yang justru semakin sulit dilakukan.

Toleransi yang Bekerja dalam Diam

Selama ini, banyak orang berbicara tentang toleransi. Istilah itu muncul dalam pidato, kampanye, hingga linimasa media sosial. Namun dalam praktiknya, toleransi menuntut lebih dari sekadar kata-kata.

Ia menuntut kesediaan untuk menahan diri. Ia meminta seseorang mengalah, bahkan ketika ia tidak merasa bersalah.

Momentum Nyepi dan Idul Fitri memperlihatkan wajah toleransi yang nyata. Orang memadamkan lampu lebih awal. Mereka mengecilkan suara. Mereka menunda perayaan. Atau setidaknya, mereka memilih untuk tidak mengganggu.

Memang, tindakan-tindakan itu terlihat kecil. Ia jarang muncul sebagai tren. Ia tidak pernah viral.

Namun justru di situlah toleransi bekerja paling jujur tanpa panggung, tanpa sorotan.

Di Antara Keyakinan dan Kehidupan Bersama

Sejak awal, Indonesia tidak pernah kekurangan perbedaan. Agama, budaya, dan bahasa terus bersinggungan dalam ruang yang sama.

Meski begitu, yang menjaga semuanya tetap utuh bukan keseragaman. Sebaliknya, kemampuan untuk hidup di tengah perbedaanlah yang menjadi kuncinya.

Dalam konteks itu, Nyepi dan Idul Fitri yang hadir berdekatan menjadi cermin yang nyata. Keduanya membuktikan bahwa keyakinan tidak harus saling bertabrakan.

Sebaliknya, perbedaan justru bisa saling memberi ruang.

Setelah Nyepi berlalu, umat Hindu kembali beraktivitas. Sementara itu, setelah Idul Fitri tiba, umat Muslim bersilaturahmi dan saling memaafkan.

Pada akhirnya, keduanya bergerak menuju tujuan yang sama: memperbaiki hubungan baik dengan diri sendiri maupun dengan sesama.

Belajar dari Sunyi dan Suara

Ada pelajaran sederhana yang sering terlewat.

Hidup tidak selalu harus dipenuhi suara. Sebaliknya, tidak semua keheningan berarti kesepian.

Kadang, manusia perlu diam agar benar-benar bisa mendengar. Namun di waktu lain, manusia juga perlu merayakan agar bisa benar-benar merasa hidup.

Nyepi mengajarkan manusia untuk berhenti. Sementara itu, Idul Fitri mengajarkan manusia untuk kembali.

Di antara berhenti dan kembali, manusia menemukan keseimbangan.

Maka, di tengah dunia yang semakin cepat, semakin bising, dan semakin mudah terpecah, momen seperti ini terasa langka.

Dua perayaan besar hadir bersamaan tanpa saling meniadakan, tanpa saling mengalahkan.

Pertanyaannya kini menjadi sederhana, meski tidak mudah dijawab: jika sunyi dan takbir bisa berjalan berdampingan, mengapa dalam keseharian kita justru sering gagal melakukannya? @dimas

Tags: 1447 H2026BeragamaDamaiHarmoniIdul FitriKeberagamanNasionalNusantaraNyepiPerbedaanRamadanSpiritualitasSunyi

Kamu Melewatkan Ini

Nama Jampidsus Disebut, Febrie Pertanyakan Kaitannya dengan Blackout PLN

Nama Jampidsus Disebut, Febrie Pertanyakan Kaitannya dengan Blackout PLN

by Tabooo
Juli 11, 2026

Nama Jampidsus Febrie Adriansyah ikut disebut dalam pusaran pengusutan dugaan korupsi BUMN. Ia mempertanyakan kaitannya dengan kasus blackout PLN yang...

Kirab Perdana Perkuat Identitas Madiun sebagai Kota Pendekar

Kirab Perdana Perkuat Identitas Madiun sebagai Kota Pendekar

by dimas
Juni 25, 2026

Kirab Pencak Silat perdana memperkuat identitas Madiun sebagai Kota Pendekar dengan menghadirkan harmoni 14 perguruan dalam semangat persaudaraan. Tabooo.id: Madiun...

Sesaji, Tradisi, atau Syirik? Perdebatan Bersih Desa Tak Pernah Usai

Bersih Desa: Antara Tradisi, Sesaji, dan Tuduhan Syirik

by dimas
Juni 17, 2026

Perdebatan Bersih Desa tak pernah usai. Tradisi sesaji, ajaran agama, dan identitas Jawa terus bertemu dalam ritual yang memicu pro...

Next Post
UU Pensiun DPR Dinyatakan Bermasalah, DPR Diminta Segera Susun Aturan Baru

UU Pensiun DPR Dinyatakan Bermasalah, DPR Diminta Segera Susun Aturan Baru

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id