Tabooo.id: Film – Lebaran biasanya menghadirkan tiga hal yang sulit dipisahkan ketupat, keluarga besar, dan pertanyaan yang kadang bikin keringat dingin. Pertanyaan seperti “Kerja di mana sekarang?” atau “Kapan nikah?” sering muncul bahkan sebelum opor ayam habis di piring.
Karena itu, banyak orang mencari cara elegan untuk mengambil jeda dari ruang tamu. Salah satu cara paling populer tentu saja menonton film bersama di bioskop.
Industri film Indonesia tampaknya membaca situasi ini dengan cukup jeli. Libur Lebaran tahun ini menghadirkan berbagai film dari genre berbeda mulai dari musikal, sci-fi, drama keluarga, hingga horor. Pilihannya lengkap. Tinggal menyesuaikan mood atau menyesuaikan siapa yang ikut nonton.
Na Willa: Musikal Nostalgia dari Surabaya
Film Na Willa sudah menarik perhatian bahkan sebelum jadwal tayangnya tiba. Sutradara Ryan Adriandhy menggarap film ini setelah sukses dengan film animasi Jumbo.
Cerita film ini mengadaptasi novel karya Reda Gaudiamo dan mengambil latar Surabaya pada era 1960-an. Penonton mengikuti keseharian Na Willa, seorang gadis kecil yang tumbuh di gang kawasan Krembangan.
Na Willa menjalani hidup seperti anak-anak pada umumnya: bermain, bercanda, dan berlari di gang sempit kota. Ia hidup di tengah diskriminasi sosial, tetapi ia belum sepenuhnya memahami arti diskriminasi itu sendiri.
Film musikal ini menghadirkan cerita sederhana yang terasa hangat. Justru dari kesederhanaan itu muncul pesan penting anak-anak sering melihat dunia dengan cara yang jauh lebih jujur dibanding orang dewasa.
Pelangi di Mars: Sci-Fi yang Jarang Hadir
Industri film Indonesia jarang menyentuh genre fiksi ilmiah secara serius. Karena itu, kehadiran Pelangi di Mars terasa cukup segar.
Sutradara Upie Guava menghadirkan film ini dengan pendekatan teknologi extended reality (XR) yang relatif baru dalam produksi film lokal.
Cerita berfokus pada Pelangi, seorang anak yang lahir di planet Mars. Ia tumbuh di dunia yang sunyi dan bertahan hidup bersama robot-robot yang tersisa. Petualangannya membawanya mencari Zeolit Omega, mineral langka yang dipercaya mampu menyelamatkan Bumi di masa depan.
Film ini menghadirkan sejumlah aktor ternama seperti Messi Gusti, Rio Dewanto, dan Lutesha.
Di balik kisah petualangan antariksa, film ini menyelipkan ironi yang cukup tajam. Manusia sibuk mencari harapan di planet lain, padahal banyak masalah besar justru lahir dari cara manusia memperlakukan Bumi.
Tunggu Aku Sukses Nanti: Drama Lebaran yang Terlalu Nyata
Jika ada film yang terasa paling dekat dengan pengalaman Lebaran banyak orang, mungkin jawabannya Tunggu Aku Sukses Nanti.
Sutradara Naya Anindhita mengangkat kisah Arga, anak pertama dalam keluarga yang terus dibandingkan dengan sepupu-sepupunya setiap kali kumpul Lebaran.
Situasi itu sangat familiar. Banyak orang pernah mengalaminya: datang dengan niat silaturahmi, tetapi malah menghadapi sesi “evaluasi hidup” dadakan dari keluarga besar.
Arga mencoba mengubah cerita itu. Ia bekerja keras untuk membuktikan dirinya mampu sukses dan ingin kembali ke meja makan keluarga dengan cerita berbeda.
Film ini menampilkan deretan pemain seperti Ardhit Erwandha, Lulu Tobing, Ariyo Wahab, dan Afgan.
Bagi banyak penonton, cerita Arga mungkin terasa terlalu dekat dengan kehidupan sendiri.
Senin Harga Naik: Komedi yang Menyentil Realitas
Judul Senin Harga Naik langsung terasa akrab dengan realitas ekonomi sehari-hari.
Film komedi ini mengikuti dinamika keluarga Sujono setelah sang ayah meninggal dunia. Keluarga tersebut harus menghadapi perubahan besar dalam kehidupan mereka.
Konflik keluarga muncul bersamaan dengan tekanan ekonomi yang terus meningkat. Meski cerita ini hadir dengan humor, film ini tetap menyentil kehidupan kelas menengah yang sering berada di antara harapan sosial dan realitas keuangan.
Penonton mungkin tertawa. Namun beberapa adegan juga bisa terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Horor Tetap Jadi Menu Favorit
Lebaran tanpa film horor rasanya kurang lengkap. Tahun ini dua judul siap mengisi slot tersebut.
Film pertama adalah Danur: The Last Chapter, yang disebut sebagai penutup dari waralaba Danur. Sutradara Awi Suryadi kembali mengarahkan cerita Risa yang diperankan Prilly Latuconsina.
Risa mencoba menutup kemampuan batinnya agar bisa hidup normal. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama ketika peristiwa aneh muncul menjelang lamaran sang adik.
Di sisi lain, film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa membawa kembali karakter ikonik Suzzanna yang diperankan Luna Maya.
Film ini menyoroti kehidupan Suzzanna sebelum teror supranatural muncul. Cerita tersebut juga mengungkap asal-usul santet yang kemudian menjadi sumber konflik dalam film.
Lebaran, Film, dan Cara Baru Berkumpul
Daftar film Lebaran tahun ini memperlihatkan sesuatu yang menarik. Bioskop kini bukan sekadar tempat hiburan. Banyak orang menjadikannya ruang jeda dari drama keluarga.
Setelah makan ketupat, berbincang dengan saudara, dan menjawab pertanyaan yang sama setiap tahun, menonton film bersama terasa seperti solusi yang cukup bijak.
Lagipula, ketika obrolan di ruang tamu mulai terasa canggung, selalu ada kalimat sederhana yang bisa menyelamatkan situasi:
“Yuk, kita nonton dulu.” @dimas




