Tabooo.id: Global – Iran memasuki babak baru politiknya. Majelis Ahli menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran pada Minggu (8/3/2026). Keputusan itu muncul hanya sepekan setelah konflik besar pecah antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Mojtaba Khamenei lahir di Mashhad pada 8 September 1969. Ia merupakan putra kedua Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran sebelumnya yang tewas dalam serangan Israel pada 28 Februari 2026.
Sebanyak 88 anggota Majelis Ahli mengambil keputusan tersebut dalam situasi geopolitik yang sangat tegang. Dalam pernyataannya, mereka meminta rakyat Iran mendukung kepemimpinan baru dan menjaga persatuan nasional.
Figur Tertutup yang Berpengaruh
Selama bertahun-tahun Mojtaba Khamenei jarang muncul di hadapan publik. Ia juga tidak pernah memegang jabatan resmi dalam pemerintahan Iran. Meski begitu, banyak analis menilai pengaruhnya sangat besar di lingkar kekuasaan negara itu.
Kedekatannya dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memperkuat posisinya. Pasukan elite ini memegang peran penting dalam politik, keamanan, dan ekonomi Iran.
Para pejabat mulai melihat pengaruh Mojtaba meningkat sejak pertengahan 1990-an. Saat itu ia sering berada di sekitar para komandan IRGC yang kembali dari perang Iran-Irak. Hubungan tersebut membentuk jaringan politik yang kuat di dalam struktur kekuasaan.
Namanya semakin mencuat pada pemilihan presiden 2005. Banyak pengamat menilai Mojtaba membantu memperkuat dukungan bagi Mahmoud Ahmadinejad, sosok dari lingkar IRGC yang saat itu belum dikenal luas.
Kontroversi dan Tuduhan Campur Tangan Politik
Kiprah Mojtaba dalam politik Iran tidak pernah lepas dari kontroversi. Sejumlah tokoh politik menuduhnya ikut memengaruhi berbagai proses pemilu.
Mehdi Karroubi, kandidat presiden pada 2005, menulis surat terbuka yang menuduh Mojtaba membantu membuka jalan bagi kemenangan Ahmadinejad. Tuduhan serupa muncul kembali pada pemilu 2009.
Kemenangan Ahmadinejad pada periode kedua memicu protes besar yang dikenal sebagai Gerakan Hijau. Sejumlah laporan menyebut jaringan kekuasaan yang dekat dengan Mojtaba ikut menekan gelombang demonstrasi tersebut.
Reaksi Keras Amerika Serikat dan Israel
Penunjukan Mojtaba langsung memicu respons keras dari luar negeri. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak keputusan tersebut dan menyebutnya tidak dapat diterima.
Trump bahkan meragukan kekuatan politik Mojtaba.
“Mereka membuang waktu. Putra Khamenei bukan figur yang kuat,” ujar Trump seperti dikutip media Amerika, Axios.
Israel mengambil sikap lebih tajam. Menteri Pertahanan Israel sebelumnya menegaskan bahwa siapa pun yang menggantikan Ali Khamenei akan menjadi target eliminasi.
Pernyataan itu memperlihatkan betapa panasnya situasi geopolitik yang mengelilingi pergantian kepemimpinan di Teheran.
Dari Seminari ke Lingkar Kekuasaan
Media pemerintah Iran menggambarkan Mojtaba sebagai ulama yang menjalani kehidupan sederhana. Ia menempuh pendidikan menengah di Sekolah Alavi sebelum melanjutkan studi agama di seminari Qom.
Pada 1987, Mojtaba bergabung dengan IRGC ketika perang Iran-Irak masih berlangsung. Banyak sumber menyebut ia ikut berada di garis depan bersama sebuah batalion militer.
Beberapa anggota batalion tersebut kemudian menempati posisi penting di sektor intelijen dan keamanan Iran. Hubungan lama itu memperkuat jaringan politik Mojtaba di kemudian hari.
Pada 1999, ia kembali memperdalam studi Islam di Qom untuk menempuh jalur ulama.
Sorotan Kekayaan dan Jaringan Bisnis
Investigasi Bloomberg pada 2026 mengungkap jaringan aset Mojtaba di luar negeri. Laporan itu menyebut properti bernilai tinggi di London dan Dubai serta keterkaitan bisnis di sektor pelayaran, perbankan, dan perhotelan di Eropa.
Sebagian besar aset tersebut tidak tercatat langsung atas namanya. Jaringan perusahaan perantara di berbagai yurisdiksi mengelola kepemilikan tersebut.
Temuan ini menambah kontroversi di sekitar sosok Mojtaba, terutama karena media pemerintah Iran kerap menonjolkan citra kesederhanaannya.
Awal Kepemimpinan di Tengah Krisis
Kini Mojtaba Khamenei memegang posisi tertinggi dalam struktur kekuasaan Iran. Ia memulai kepemimpinannya di tengah konflik militer dengan Israel dan Amerika Serikat serta tekanan ekonomi internasional yang berat.
Bagi rakyat Iran, pergantian pemimpin bukan sekadar perubahan figur. Di tengah sanksi dan perang yang berkepanjangan, mereka menunggu satu hal sederhana: apakah pemimpin baru membawa stabilitas, atau hanya memperpanjang badai yang sudah lama mereka hadapi. @dimas




