Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Setelah 7 Tahun, Bumi Manusia Hadir Lagi dalam Versi Extended

by eko
Mei 8, 2026
in Culture, Film
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Film – Pernah merasa sebuah film terlalu cepat selesai? Baru saja kita tenggelam dalam cerita, eh layar sudah gelap dan kredit penutup berjalan.

Itu juga yang dulu dirasakan banyak pembaca setia novel Bumi Manusia. Rasanya seperti membaca novel tebal 500 halaman, tapi versi filmnya hanya memberi ringkasan.

Nah, tujuh tahun setelah filmnya tayang di bioskop, akhirnya muncul kabar yang membuat para penggemar sedikit lega. Rumah produksi Falcon Pictures melalui platform OTT KlikFilm merilis Bumi Manusia Extended versi panjang dari film adaptasi novel karya maestro sastra Pramoedya Ananta Toer.

Dan ini bukan sekadar “film yang dipanjangkan”. Versi ini membuka kembali kotak berisi potongan cerita yang dulu tertinggal di ruang editing.

Ketika Mahakarya Dipaksa Jadi 120 Menit

Versi extended ini hadir dalam enam bagian dan mulai tayang pada 5 Maret 2026. Setiap Senin dan Kamis, penonton kembali menyusuri dunia Minke, Annelies, dan tentu saja Nyai Ontosoroh.

Ini Belum Selesai

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

Direktur KlikFilm, Frederica, menyebut proyek ini sebagai kado spesial untuk memperingati 100 tahun kelahiran Pramoedya.

Logikanya sederhana: karya sebesar Bumi Manusia memiliki ruang cerita yang terlalu luas jika harus masuk dalam durasi bioskop yang ketat.

Sutradara Hanung Bramantyo bahkan mengakui bahwa hasil syuting awal film ini mencapai enam jam.

Enam jam. Namun realitas industri bioskop saat itu memaksa tim produksi membuat keputusan berat. Film berdurasi panjang berarti jadwal tayang lebih sedikit, layar lebih terbatas, dan risiko komersial lebih besar.

Karena itu, tim produksi akhirnya merangkum cerita tersebut menjadi sekitar dua jam. Bayangkan saja: seperti memadatkan novel sejarah tebal menjadi trailer panjang.

Kenapa Banyak Fans Dulu Menggerutu?

Saat film Bumi Manusia pertama kali tayang, kritik dari pembaca novel muncul cukup keras.

Banyak penonton merasa film tersebut terlalu fokus pada romansa Minke dan Annelies. Sementara itu, lapisan sosial-politik yang menjadi tulang punggung novel terasa jauh lebih tipis.

Padahal dalam buku karya Pramoedya, cerita ini tidak hanya membahas cinta. Novel itu menggali kolonialisme, kelas sosial, identitas, dan pergulatan intelektual.

Melalui versi extended, sejumlah potongan cerita yang dulu hilang kini kembali muncul. Salah satu yang paling menarik adalah relasi antara Minke dan Jean Marais, pelukis asal Prancis yang ikut membentuk cara berpikir Minke tentang dunia.

Relasi tersebut sangat penting. Dari percakapan mereka, kesadaran politik Minke mulai tumbuh.

Ia tidak hanya jatuh cinta. Ia juga belajar berpikir.

Streaming Memberi “Kemerdekaan” Baru

Ada ironi menarik dalam perjalanan film ini. Dulu bioskop menuntut film berdurasi singkat, ritme cepat, dan cerita yang padat.

Sekarang, platform streaming justru memberi ruang lebih luas bagi cerita untuk berkembang. Karakter dapat tumbuh perlahan. Dialog dapat menggali gagasan lebih dalam. Cerita pun dapat bernapas lebih lega.

Dalam konteks itu, format serial seperti Bumi Manusia Extended terasa lebih cocok untuk mengadaptasi novel sastra besar. Format ini bahkan terasa lebih setia pada semangat karya aslinya.

Keluarga Pramoedya juga menyambut format ini dengan optimistis. Mereka berharap generasi muda Gen Z bahkan Gen Alpha mulai mengenal kembali gagasan besar tentang kemanusiaan, keadilan, dan harga diri.

Minke, Nyai Ontosoroh, dan Kita Hari Ini

Kalau dipikir-pikir, kisah Bumi Manusia sebenarnya tidak pernah menua. Cerita tentang hukum yang tidak adil. Tentang identitas yang diperdebatkan. Tentang seseorang yang belajar berpikir kritis terhadap sistem.

Bukankah semua itu masih terasa sangat relevan? Nyai Ontosoroh memang hidup di masa kolonial. Namun perjuangannya mempertahankan martabat sebagai manusia terasa sangat modern.

Di situlah kekuatan karya Pramoedya. Ia tidak sekadar menceritakan masa lalu. Ia juga memantulkan cermin bagi masa kini. Jadi mungkin pertanyaannya sekarang bukan lagi: “Perlukah versi extended ini?”

Pertanyaan yang lebih menarik justru Setelah menonton ulang kisah Minke, apakah kita masih melihat sejarah Indonesia dengan cara yang sama?

Atau justru seperti yang dialami banyak pembaca Pramoedya kita mulai mempertanyakan semuanya. @eko

Tags: Bumi ManusiaFilm

Kamu Melewatkan Ini

Salridan-gil: Budaya Uji Nyali Baru di Korea

Salridan-gil: Budaya Uji Nyali Baru di Korea

by Naysa
Mei 12, 2026

Salridan-gil memperlihatkan bagaimana rasa takut bisa berubah menjadi budaya uji nyali baru di Korea. Setelah Salmokji: Whispering Water viral, anak...

Kritikus dan Fans Mortal Kombat II Bisa Sebegitu Beda? Film Harus Pintar atau Seru?

Kritikus dan Fans Mortal Kombat II Bisa Sebegitu Beda? Film Harus Pintar atau Seru?

by teguh
Mei 11, 2026

Kalau sebuah film dapat nilai “lumayan” dari kritikus tapi dipuja fans sampai susah move on, siapa yang sebenarnya benar? Pertanyaan...

Mortal Kombat II Dipuji Fans, Dihajar Kritikus: Film Buruk atau Fan yang Jujur?

Mortal Kombat II Dipuji Fans, Dihajar Kritikus: Film Buruk atau Fan yang Jujur?

by teguh
Mei 11, 2026

Kalau satu film seperti Mortal Kombat II bikin kritikus mengeluh tapi fans malah tepuk tangan, siapa yang sebenarnya paling benar...

Next Post
Andien Rilis “Manusia Favorit”, Lagu Hangat Tentang Orang yang Selalu Ada

Andien Rilis “Manusia Favorit”, Lagu Hangat Tentang Orang yang Selalu Ada

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id