Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

80% Anak Indonesia Online: Negara Berlakukan Aturan baru Mulai 28 Maret 2026

by teguh
Mei 8, 2026
in Reality, Teknologi
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Sports – Pernah kepikiran nggak kalau kamu lahir tahun 2015, apakah hidupmu akan tetap sama tanpa media sosial sampai umur 16 tahun?

Pertanyaan itu tiba-tiba jadi relevan setelah pemerintah Indonesia mengumumkan aturan baru. Mulai 28 Maret 2026, anak-anak dan remaja tidak lagi bebas mengakses semua platform digital seperti sebelumnya. Bukan berarti internet dilarang. Tapi ada rem baru yang mulai dipasang.

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi membatasi usia akses ke platform digital berisiko tinggi. Aturan ini tertuang dalam PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Pelindungan Anak di Ruang Digital atau yang dikenal sebagai PP Tunas.

Sederhananya:

  • Platform berisiko tinggi minimal usia 16 tahun
  • Platform risiko lebih rendah minimal usia 13 tahun

Dan menariknya, aturan ini tidak menghukum anak atau orang tua. Target utama justru perusahaan teknologi yang selama ini membuka akses terlalu luas.

Ini Belum Selesai

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Internet Bukan Lagi “Mainan Orang Dewasa”

Kalau kita mundur 15 tahun ke belakang, internet dulu terasa seperti dunia orang dewasa. Forum, blog, atau website berita memang ada, tapi anak-anak belum benar-benar masuk ke sana. Sekarang situasinya kebalik.

Menurut data pemerintah, sekitar 80 persen anak Indonesia sudah terhubung ke internet. Itu berarti sebagian besar anak sudah memiliki akses ke dunia digital sebelum mereka benar-benar siap secara mental. Angka lain bahkan lebih mengejutkan.

Data dari UNICEF menunjukkan:

  • 50 persen anak Indonesia pernah melihat konten seksual di internet
  • 42 persen anak merasa takut atau tidak nyaman akibat pengalaman digital
  • Kasus eksploitasi anak secara online mencapai 1,45 juta kasus

Angka-angka ini bukan cuma statistik. Ini tanda bahwa dunia digital yang terlihat “seru dan bebas” ternyata juga membawa risiko yang sangat nyata. Dan mungkin kita jarang menyadarinya.

Kenapa Aturan Ini Muncul Sekarang?

Jawaban sederhananya karena generasi digital lahir terlalu cepat. Anak-anak sekarang tumbuh dengan layar di tangan mereka.

Sebelum bisa naik sepeda, mereka sudah bisa swipe layar. Sebelum mengerti konsep privasi, mereka sudah punya akun. Media sosial sebenarnya dirancang untuk orang dewasa.

Algoritma mengejar perhatian. Notifikasi dirancang supaya kamu terus kembali. Sistem “like” membuat otak merasa dihargai. Masalahnya, otak remaja masih berkembang.

Psikolog menyebut fase ini sebagai periode pencarian identitas. Anak-anak sangat sensitif terhadap penilaian sosial. Ketika mereka hidup di dunia yang penuh komentar, perbandingan, dan viralitas, tekanan psikologisnya bisa jauh lebih besar.

Itulah mengapa pemerintah mencoba memperlambat akses. Bukan memutus internet. Tapi memberi waktu agar anak-anak tumbuh dulu sebelum masuk ke arena digital yang keras.

Platform Digital Juga Kena “Teguran”

Hal yang menarik dari aturan ini adalah sasaran utamanya bukan anak-anak. Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan bahwa perusahaan teknologi harus ikut bertanggung jawab.

Artinya, platform digital yang beroperasi di Indonesia wajib memastikan sistem mereka tidak membuka akses bebas untuk pengguna di bawah umur.

Jika mereka mengabaikan aturan ini, sanksi bisa diberikan langsung kepada perusahaan. Ini semacam pesan tegas ruang digital bukan lagi wilayah tanpa hukum.

Negara mulai masuk dan berkata “Kalau kamu beroperasi di sini, kamu harus melindungi anak-anak di sini.”

Tapi Ada Pertanyaan Besar

Meski terdengar ideal, banyak orang masih bertanya apakah aturan ini bisa benar-benar berjalan?

Karena realitanya, membuat akun media sosial sering hanya butuh satu hal mengubah tanggal lahir. Banyak anak bahkan sudah punya akun sejak SD.

Selain itu, teknologi berkembang lebih cepat daripada regulasi. Platform baru terus muncul. Aplikasi baru terus viral. Jadi aturan ini kemungkinan besar bukan solusi sempurna.

Namun setidaknya ini adalah langkah awal untuk mengakui satu hal penting Internet bukan tempat yang sepenuhnya aman bagi anak-anak.

Lalu Apa Dampaknya Buat Kamu?

Kalau kamu Gen Z atau milenial muda, mungkin kamu tumbuh bersama media sosial. Instagram, TikTok, YouTube, semuanya terasa seperti bagian dari kehidupan sehari-hari.

Tapi aturan ini mengajak kita berhenti sebentar dan berpikir, Apakah hidup kita terlalu bergantung pada layar?, Apakah generasi setelah kita perlu mengalami hal yang sama?

Mungkin pembatasan usia ini bukan sekadar aturan teknis. Ini juga semacam pengingat bahwa teknologi seharusnya melayani manusia, bukan sebaliknya. Dan pertanyaan terakhirnya sederhana Kalau suatu hari anakmu nanti belum boleh main media sosial sampai umur 16 tahun apakah itu terasa seperti larangan, atau justru sebuah perlindungan?. @teguh

Tags: AnakDewasaDigitalForumGen ZGenerasiInstagraminternetMedsosMenkomdigiMilenialNasionalNegaraOnlinePerlindunganPlatformPP TunasRegulasiRuangTikTok

Kamu Melewatkan Ini

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

by jeje
Mei 13, 2026

Di banyak kota, aroma kopi kini terasa lebih mudah ditemukan di coffee Shop daripada ruang bicara yang jujur. Sudut jalan...

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

by jeje
Mei 12, 2026

Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa...

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

by Anisa
Mei 11, 2026

Seblak pedas kini bukan lagi sekadar tren jajanan kaki lima. Di tengah ledakan budaya kuliner pedas Indonesia, ia perlahan berubah...

Next Post
Gol Nishioka Bungkam Dewa United di Manila

Gol Nishioka Bungkam Dewa United di Manila

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Film Pesta Babi Kembali Dibubarkan, Kini Terjadi di Ternate

Mei 10, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id