Tabooo.id: Talk – Menjelang Lebaran, ada pemandangan yang mungkin tak kamu duga: bukan cuma toko baju dan parsel yang kebanjiran order, tapi juga persewaan iPhone. Di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tren ini benar-benar terasa. Pertanyaannya sederhana, tapi menggelitik orang-orang menyewa iPhone karena butuh, atau karena ingin terlihat “naik kelas”?
Coba kita bahas pelan-pelan, seperti obrolan santai di kafe sambil nunggu azan magrib.
Lonjakan Pesanan Menjelang Lebaran
Setiap mendekati Lebaran, permintaan iPhone sewaan meningkat drastis. Riyan Andi Setiyawan, pemilik usaha Ras Kamera di Playen, merasakan langsung lonjakan itu. Ia menyediakan 45 unit iPhone dari berbagai seri, mulai dari XR hingga 17 Pro Max. Saat ini, pelanggan sudah memesan sekitar 20 unit.
Ia mematok harga sewa antara Rp100 ribu hingga Rp500 ribu per hari, tergantung tipe. Menurutnya, sebagian besar pelanggan menyewa iPhone untuk acara buka bersama, membuat konten, atau merekam momen spesial bersama teman dan keluarga. Selain itu, banyak orang memilih iPhone karena sistemnya simpel dan kameranya stabil.
Awalnya, Riyan hanya menyewakan kamera sejak 2018. Namun, seiring waktu, pelanggan justru lebih sering menanyakan iPhone. Karena itu, ia menyesuaikan model bisnisnya. Ia tetap menyewakan kamera, tetapi kini iPhone menjadi primadona.
Artinya apa? Pasar bergerak. Dan pelaku usaha yang sigap membaca tren akan bertahan.
Konten, Citra, dan Tekanan Sosial Digital
Sekarang kita masuk ke bagian yang lebih sensitif.
Hari ini, orang tidak hanya menikmati momen; mereka juga menyiarkan momen. Bukber bukan sekadar makan dan ngobrol. Orang-orang ingin mengunggah story dengan kualitas tajam, warna cerah, dan video stabil. Feed Instagram dan FYP TikTok ikut menentukan rasa percaya diri.
Karena itu, sebagian orang merasa perlu “upgrade” perangkat, meski hanya sehari.
Salah satu pelanggan, Rasyaddin, mengaku menyewa iPhone 17 Pro Max untuk merekam kegiatan buka bersama. Ponsel lamanya sudah tidak mampu menghasilkan gambar yang ia inginkan. Ia ingin kualitas yang lebih baik, terutama untuk video.
Alasan itu masuk akal. Jika seseorang ingin hasil maksimal tanpa harus membeli perangkat mahal, menyewa menjadi solusi logis. Daripada mencicil dua tahun, ia cukup membayar satu hari.
Namun, di sisi lain, kita juga tidak bisa menutup mata. iPhone membawa simbol tertentu. Banyak orang mengaitkannya dengan status, selera, bahkan kelas sosial. Maka, wajar jika publik bertanya: apakah ini murni soal kualitas, atau ada dorongan ingin terlihat lebih keren?
Risiko Nyata di Balik Tren
Menariknya, tren ini juga memunculkan risiko. Riyan menerapkan sistem keamanan ganda. Ia tidak menghapus iCloud dari perangkat. Selain itu, ia meminta penyewa meninggalkan identitas, terutama jika berasal dari luar daerah.
Meski begitu, beberapa pelanggan tetap membawa kabur unit sewaan. Fakta ini menunjukkan bahwa sebagian orang rela mengambil risiko besar demi gengsi atau keuntungan sesaat.
Di sinilah ironi muncul. Demi konten 24 jam, seseorang bisa mempertaruhkan reputasi bertahun-tahun. Demi tampil impresif di media sosial, ada yang melanggar kepercayaan.
Apakah validasi digital memang sebesar itu nilainya?
Perspektif Lain: Sewa Bukan Dosa
Namun, kita juga perlu adil. Di era ekonomi berbagi, orang terbiasa menyewa banyak hal. Kita menyewa mobil untuk mudik. Kita menyewa pakaian untuk wisuda. Bahkan, kita menyewa rumah lewat platform digital. Jadi, mengapa menyewa iPhone langsung dianggap pamer?
Sebaliknya, tren ini bisa menunjukkan fleksibilitas ekonomi masyarakat. Orang tidak memaksakan diri membeli barang mahal. Mereka memilih opsi jangka pendek yang lebih terjangkau. Dengan kata lain, mereka beradaptasi.
Selain itu, kreator konten pemula sering memanfaatkan sewa iPhone untuk meningkatkan kualitas karya mereka. Mereka menguji pasar tanpa harus mengeluarkan modal besar. Strategi ini justru cerdas.
Karena itu, tidak semua penyewa ingin pamer. Sebagian orang hanya ingin solusi praktis.
Jadi, Kita Sedang Apa?
Fenomena ini memperlihatkan satu hal gaya hidup digital kita semakin performatif. Kita hidup di era visual. Orang menilai momen dari tampilan, bukan hanya makna. Akibatnya, kualitas kamera ikut memengaruhi rasa percaya diri.
Namun, kita tetap harus bertanya pada diri sendiri. Apakah kita menyewa alat, atau menyewa citra? Apakah kita meningkatkan kualitas dokumentasi, atau sekadar mengejar pengakuan?
Tabooo melihat tren ini sebagai cermin zaman. Kami tidak ingin menghakimi. Sebaliknya, kami ingin mengajak kamu berpikir lebih dalam. Selama seseorang sadar akan pilihannya dan tidak merugikan orang lain, menyewa iPhone bukan masalah besar.
Akan tetapi, masalah muncul ketika harga diri ikut bergantung pada logo di belakang ponsel.
Karena pada akhirnya, momen Lebaran akan tetap hangat meski direkam dengan kamera sederhana. Tawa teman, pelukan keluarga, dan obrolan panjang tidak bergantung pada megapiksel.
Sekarang pertanyaannya kembali ke kamu.
Kalau ada bukber besar dan kamu ingin hasil video yang estetik, kamu akan menyewa iPhone?
Atau kamu tetap percaya diri dengan perangkat yang kamu punya?
Lalu, kamu di kubu mana? @dimas




