Tabooo.id: Global – Pemerintah Iran resmi menetapkan 40 hari masa berkabung nasional setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel. Pemerintah juga mengumumkan tujuh hari libur nasional, langkah yang langsung menghentikan banyak aktivitas publik dan ekonomi di tengah situasi keamanan yang belum stabil.
Media resmi Iran, termasuk Press TV, Tasnim, dan Fars, mengonfirmasi kematian Khamenei pada Minggu (1/3/2026). Kantor berita Fars menyebut serangan menghantam kompleks kediamannya di Teheran pada Sabtu (28/2/2026) dini hari. Saat itu, Khamenei berada di kantornya dan disebut tengah menjalankan tugas kenegaraan.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya mengumumkan operasi militer tersebut dan menyatakan serangan menargetkan “ancaman yang akan segera terjadi”. Iran sempat membantah klaim kematian itu dan menyebutnya sebagai perang psikologis. Namun, konfirmasi resmi dari media pemerintah mengakhiri spekulasi.
Kompleks Kediaman Hancur Total
Citra satelit yang dikutip sejumlah media internasional menunjukkan bangunan utama kompleks Beit-e Rahbari hancur total. Struktur utama dan perimeter keamanannya rata dengan tanah. Analis militer menilai pola ledakan konsisten dengan penggunaan amunisi penghancur bunker, senjata yang dirancang menembus beton tebal dan fasilitas bawah tanah.
Serangan ini tidak hanya menewaskan Khamenei. Media Iran juga melaporkan putri, menantu, dan cucunya turut menjadi korban. Otoritas menyebut mereka gugur dalam serangan yang sama. Informasi ini memicu gelombang duka sekaligus kemarahan di dalam negeri.
Di Teheran, asap tebal terlihat mengepul di distrik Pasteur, lokasi kediaman resmi pemimpin tertinggi. Aparat keamanan langsung mengerahkan pasukan dalam jumlah besar. Sementara itu, militer Israel meminta warga sipil menjauhi infrastruktur militer untuk menghindari korban tambahan.
Dampak Politik dan Ekonomi
Kematian Khamenei membuka babak baru dalam politik Iran. Ia memimpin sejak 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini, dan selama lebih dari tiga dekade membentuk arah militer, ideologi, dan kebijakan luar negeri Iran. Di bawah kepemimpinannya, Iran memperkuat jaringan paramiliter regional dan mempertahankan sikap konfrontatif terhadap Barat.
Kini, pertanyaan besar muncul: siapa yang akan mengisi kekosongan kekuasaan? Proses suksesi di Iran berada di tangan Majelis Ahli. Namun di tengah serangan yang masih berlangsung, stabilitas politik menjadi taruhan utama.
Dampaknya langsung terasa pada masyarakat. Libur nasional memperlambat aktivitas ekonomi. Pasar keuangan regional bergejolak. Harga minyak dunia berpotensi melonjak karena risiko gangguan pasokan dari kawasan Teluk. Jika konflik meluas, masyarakat kelas menengah dan pelaku usaha kecil di Iran akan merasakan tekanan paling cepat, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok hingga ketidakpastian lapangan kerja.
Selain itu, ketegangan baru ini meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas. Negara-negara tetangga bersiaga. Investor global menahan napas.
Warisan dan Ketegangan yang Tersisa
Khamenei lahir pada 1939 di Mashhad dan tumbuh dalam lingkungan religius Syiah. Ia memimpin Iran melewati perang dengan Irak pada 1980-an dan memperdalam sikap curiga terhadap Amerika Serikat. Sentimen itu membentuk kebijakan pertahanan dan luar negeri Iran selama puluhan tahun.
Kini, setelah serangan yang menewaskannya, siklus ketegangan itu mencapai titik paling ekstrem. Iran menghadapi ujian politik terbesar sejak revolusi 1979. Dunia pun menanti respons berikutnya.
Di tengah dentuman rudal dan manuver diplomasi, rakyat biasa kembali berada di garis paling rentan. Sejarah bergerak cepat di ruang kekuasaan, tetapi dampaknya selalu mendarat di dapur dan dompet masyarakat. Dan ketika pemimpin jatuh, yang paling dulu merasakan guncangannya sering kali bukan para jenderal melainkan warga yang hanya ingin hidup tenang. @dimas





