Tabooo.id: Musik – Pernah nggak sih kamu sadar, lagu lama kadang lebih setia daripada mantan? Sekali diputar, kita langsung terseret ke masa ketika cinta ditulis di kartu pos dan patah hati belum butuh caption estetik. Musik punya cara ajaib untuk bertahan. Bahkan saat penciptanya sudah lebih dulu pergi.
Dunia hiburan kembali kehilangan satu nada penting. Neil Sedaka, legenda rock and roll dunia, meninggal dunia di usia 86 tahun. Ia mengembuskan napas terakhir setelah tim medis membawanya ke rumah sakit di Los Angeles pada Jumat (27/2/2026) waktu setempat.
Keluarga menyampaikan langsung kabar duka itu kepada TMZ. Mereka mengenang Sedaka sebagai suami, ayah, dan kakek tercinta serta legenda sejati yang menginspirasi jutaan orang. Pagi itu, sekitar pukul 08.00, ambulans menjemputnya dari kediaman pribadi setelah ia mengeluh tidak enak badan. Dokter sempat merawatnya, namun kondisinya tidak tertolong. Hingga kini, keluarga memilih tidak membeberkan detail penyakitnya.
Duka terasa personal. Kehilangan terasa kolektif.
Hitmaker yang Menaklukkan Zaman
Bagi generasi 60-an, Sedaka bukan sekadar penyanyi. Ia menjadi soundtrack masa muda. Lewat “Breaking Up Is Hard to Do”, ia mengubah patah hati menjadi lagu kebangsaan global. Melalui “Calendar Girl”, ia merayakan cinta sepanjang dua belas bulan tanpa terasa usang.
Sepanjang kariernya, ia mengumpulkan lima nominasi Grammy pada rentang 1959–1977. Industri musik kemudian memasukkan namanya ke Songwriters Hall of Fame sebagai penghormatan atas kontribusinya dalam dunia penulisan lagu.
Yang menarik, Sedaka membangun reputasi tanpa mengejar sensasi. Ia duduk di depan piano. Ia menulis melodi. Ia menyempurnakan lirik. Puluhan tahun ia menjaga kualitasnya.
Bandingkan dengan hari ini. Lagu viral lahir dari potongan 15 detik. Tren datang dan pergi secepat scroll layar. Banyak musisi mengejar algoritma, bukan kedalaman rasa.
Sedaka memilih jalan berbeda. Ia mengejar keabadian karya.
Pelajaran dari Sebuah Kepergian
Kepergian Sedaka bukan hanya kabar duka, melainkan pengingat keras. Industri hiburan berubah cepat. Selera publik bergeser drastis. Namun karya yang jujur tetap menemukan jalannya.
Kita hidup di era instan. Banyak orang ingin cepat terkenal, cepat kaya, cepat diakui. Sedaka justru mencontohkan sebaliknya. Ia menanam perlahan. Ia merawat kariernya. Ia membiarkan waktu yang membuktikan nilainya.
Alih-alih membuat kontroversi, ia fokus mencipta. Alih-alih mengejar panggung sensasional, ia memperkuat fondasi musikalitasnya.
Ironisnya, di tengah kebisingan industri modern, publik justru merindukan ketulusan seperti itu.
Kini konsernya memang usai. Namun lagu-lagunya terus berputar di radio klasik, di mobil ayah kita, atau di kamar seseorang yang baru saja patah hati.
Karena benar, putus cinta itu sulit.
Tetapi melepas legenda yang menemani jutaan kisah cinta? Jauh lebih sulit.
Sekarang pertanyaannya sederhana: di zaman yang bergerak secepat swipe, masih adakah musisi yang mau membangun warisan selama enam dekade? Atau kita terlalu sibuk mengejar viral untuk menjadi abadi?





