Tabooo.id: Life – Malam di kamar kos itu selalu dimulai dengan satu ritual yang sama. Zufa Pasha Sabina menutup laptopnya, merapikan buku-buku yang masih terbuka, lalu meraih ponsel. Ia menekan satu nama yang tak pernah berubah di daftar panggilan terakhir Ibu.
“Pokoknya setiap malam saya selalu menelepon ibu. Senang rasanya kalau sudah mendengar suaranya.” ujarnya.
Di seberang sana, dari rumah sederhana di Kebumen, suara itu hadir seperti jeda di tengah riuh target, tugas, dan tekanan akademik di Yogyakarta. Bagi Zufa, suara ibunya bukan sekadar percakapan rutin. Ia adalah jangkar. Penenang. Pengingat bahwa ada dunia yang lebih luas daripada angka-angka di layar sistem akademik.
Pada 25 Februari 2026, di balairung megah Universitas Gadjah Mada, jangkar itu seakan menjelma menjadi sayap. Zufa, 22 tahun, berdiri sebagai satu-satunya wisudawan dari 1.201 lulusan sarjana yang meraih Indeks Prestasi Kumulatif 4,00. Angka yang bagi sebagian mahasiswa terdengar seperti mitos kampus sempurna, nyaris tak tersentuh.
Ia sendiri tak pernah benar-benar merencanakannya.
Angka yang Datang Tanpa Ambisi Berlebihan
Zufa menempuh studi di Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK). Ia menyelesaikan kuliahnya dalam 3 tahun 6 bulan lebih cepat dari rata-rata masa studi sarjana yang berada di kisaran 4 tahun 2 bulan, dengan IPK rata-rata 3,53.
Namun, di balik statistik yang mengilap itu, Zufa justru bercerita tentang keraguan.
Ia sempat menjalani magang di luar kampus. Ritme belajar berubah. Waktu terasa sempit. “Awalnya pun agak pesimis untuk mendapat nilai segitu,” ujarnya dalam keterangan tertulis Humas UGM. Ia tak memasang target IPK sempurna sejak awal. Ia hanya berusaha menjaga agar nilainya tidak turun. Stabil. Konsisten. Tidak spektakuler, tapi tidak pula ceroboh.
Di pertengahan masa studi, ia mulai membaca polanya sendiri. Ia melihat grafik nilainya seperti membaca detak jantung pasien: naik-turun, tapi terkendali. Dari sana, ia tak lagi terobsesi pada angka 4,00. Ia fokus pada ritme.
Paradoksnya justru di situ. Ketika banyak mahasiswa mengejar IPK sebagai trofi, Zufa memperlakukannya seperti efek samping dari disiplin. Ia belajar mencicil materi karena ujian datang hampir setiap bulan. Ia tak menunggu semalam suntuk sebelum ujian.
“Minimal sehari baca satu atau dua halaman saja itu sudah progres,” tambahnya.
Sederhana. Tapi konsisten.
Terjun ke Jalanan, Bukan Hanya ke Buku
Di tengah padatnya teori dan praktikum, Zufa memilih turun langsung ke lapangan. Ia magang selama tiga bulan di PSC 119 YES (Public Safety Center 119 Yogyakarta Emergency Services). Di sana, ia tidak hanya berhadapan dengan buku dan jurnal, tetapi dengan napas yang terengah, sirene ambulans, dan situasi kedaruratan yang tak memberi ruang untuk ragu.
Ia belajar tentang prehospital care fase krusial sebelum pasien tiba di rumah sakit. Ia menyaksikan bagaimana keputusan dalam hitungan detik bisa menentukan hidup dan mati. Pengalaman itu membuka jejaring, wawasan klinis, dan, mungkin yang lebih penting, empati.
Di titik ini, IPK 4,00 terasa seperti detail kecil dibandingkan keberanian turun ke medan yang sesungguhnya. Dunia kesehatan tak pernah rapi seperti lembar jawaban ujian. Ia berantakan, mendesak, dan sering kali tak adil.
Namun justru di ruang-ruang itulah Zufa menempa dirinya.
Kebumen, Jarak, dan Lelah yang Tak Terucap
Perjalanan Zufa dimulai dari Kebumen, Jawa Tengah. Ia membawa mimpi berkembang di bidang medika bidang yang menuntut ketahanan mental sama besar dengan kecerdasan akademik. Kesibukan kuliah kerap membuatnya lelah. Tugas menumpuk. Praktikum menyita energi. Target pribadi berbisik pelan, tapi konstan.
Dalam kultur mahasiswa berprestasi, lelah sering kali disembunyikan. Kita melihat foto toga dan IPK sempurna, tapi jarang melihat mata yang sembab karena kurang tidur atau kecemasan menghadapi ujian klinik.
Zufa tidak menampik lelah itu. Ia hanya memilih tak membiarkannya tumbuh sendirian.
Setiap malam, ia menelepon ibunya. Percakapan itu mungkin sederhana: kabar hari ini, cerita tentang pasien, keluhan soal tugas. Namun di sanalah ia mengisi ulang tenaganya. Dukungan keluarga dan teman-teman menjadi bantalan ketika ekspektasi akademik terasa menekan.
Di negeri yang masih memuja ranking dan angka, kisah Zufa menyentil satu hal: keberhasilan akademik jarang berdiri sendiri. Ia tumbuh di atas relasi, doa, dan percakapan-percakapan kecil yang tak pernah masuk transkrip nilai.
Nilai Hanya Menjadi Simbol
IPK 4,00 memang istimewa. Ia adalah simbol disiplin, konsistensi, dan kecermatan. Namun Zufa menolak memahkotainya terlalu tinggi. Ia menyebut nilai akademik hanyalah representasi dari proses dan kerja keras. Bukan identitas. Bukan harga diri.
“Nilai itu bisa menunjukkan prosesmu, tetapi jangan sampai membuatmu lupa untuk tetap rendah hati, membumi, dan tidak sombong,” katanya.
Di tengah budaya kompetisi yang kerap menjadikan kampus seperti arena balap, pernyataan itu terasa relevan. Kita hidup di zaman ketika angka sering menjadi ukuran tunggal IPK, skor tes, jumlah pengikut, gaji pertama. Kita lupa bahwa manusia tak pernah sesederhana statistik.
Zufa, dengan segala pencapaiannya, justru berbicara tentang manajemen waktu, prioritas, dan keseimbangan. Ia menekankan pentingnya memilah tugas: mana yang harus segera dikerjakan, mana yang bisa menunggu. Tanpa pengaturan waktu, katanya, seseorang mudah kewalahan.
Ia tak menjual kisahnya sebagai dongeng kejeniusan. Ia menawarkannya sebagai cerita tentang konsistensi kecil yang dirawat setiap hari.
Di Antara Prestasi dan Kerendahan Hati
Kisah Zufa bisa saja dibaca sebagai narasi klasik tentang mahasiswa berprestasi dari daerah yang menaklukkan kampus besar. Namun ada lapisan lain yang lebih sunyi: tentang bagaimana ia merawat dirinya di tengah tekanan.
Ia tidak memasang target sempurna sejak awal. Ia menyesuaikan ekspektasi dengan realitas. Ia menerima bahwa proses bisa berubah arah. Ia mengakui sempat pesimis. Kejujuran itu membuat ceritanya terasa manusiawi, bukan heroik berlebihan.
Barangkali justru di situlah letak pelajaran terbesarnya. Prestasi bukan hanya soal mencapai titik tertinggi, tetapi tentang bagaimana seseorang bertahan dalam perjalanan menuju ke sana tanpa kehilangan empati pada diri sendiri dan orang lain.
Ketika wisuda usai, ketika angka 4,00 tercetak di transkrip, hidup tentu tidak berhenti. Dunia kesehatan tetap menunggu tenaga-tenaga muda yang tak hanya cerdas, tetapi juga tangguh dan peka.
Dan mungkin, di suatu malam setelah euforia itu reda, Zufa akan kembali melakukan ritual lamanya. Menekan satu nama di ponsel. Mendengar suara yang sama dari Kebumen. Suara yang mengingatkannya bahwa di balik angka sempurna, ada perjalanan yang sangat manusia.
IPK 4,00 memang langka. Tetapi keberanian untuk tetap rendah hati setelah meraihnya mungkin jauh lebih sulit.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana ketika angka-angka itu memudar, nilai apa yang benar-benar tinggal? @dimas




