Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

22 Tahun, Wisudawan Terbaik: Rahasia Zufa Menjadi Satu-satunya IPK 4,00

by dimas
Februari 27, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Malam di kamar kos itu selalu dimulai dengan satu ritual yang sama. Zufa Pasha Sabina menutup laptopnya, merapikan buku-buku yang masih terbuka, lalu meraih ponsel. Ia menekan satu nama yang tak pernah berubah di daftar panggilan terakhir Ibu.

“Pokoknya setiap malam saya selalu menelepon ibu. Senang rasanya kalau sudah mendengar suaranya.” ujarnya.

Di seberang sana, dari rumah sederhana di Kebumen, suara itu hadir seperti jeda di tengah riuh target, tugas, dan tekanan akademik di Yogyakarta. Bagi Zufa, suara ibunya bukan sekadar percakapan rutin. Ia adalah jangkar. Penenang. Pengingat bahwa ada dunia yang lebih luas daripada angka-angka di layar sistem akademik.

Pada 25 Februari 2026, di balairung megah Universitas Gadjah Mada, jangkar itu seakan menjelma menjadi sayap. Zufa, 22 tahun, berdiri sebagai satu-satunya wisudawan dari 1.201 lulusan sarjana yang meraih Indeks Prestasi Kumulatif 4,00. Angka yang bagi sebagian mahasiswa terdengar seperti mitos kampus sempurna, nyaris tak tersentuh.

Ia sendiri tak pernah benar-benar merencanakannya.

Ini Belum Selesai

Krisis Identitas Gen Z di Tengah Ambisi Indonesia Emas 2045

Berani Speak Up di Depan Juri: Sikap Kritis atau Tanda Mental Anak Makin Sehat?

Angka yang Datang Tanpa Ambisi Berlebihan

Zufa menempuh studi di Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK). Ia menyelesaikan kuliahnya dalam 3 tahun 6 bulan lebih cepat dari rata-rata masa studi sarjana yang berada di kisaran 4 tahun 2 bulan, dengan IPK rata-rata 3,53.

Namun, di balik statistik yang mengilap itu, Zufa justru bercerita tentang keraguan.

Ia sempat menjalani magang di luar kampus. Ritme belajar berubah. Waktu terasa sempit. “Awalnya pun agak pesimis untuk mendapat nilai segitu,” ujarnya dalam keterangan tertulis Humas UGM. Ia tak memasang target IPK sempurna sejak awal. Ia hanya berusaha menjaga agar nilainya tidak turun. Stabil. Konsisten. Tidak spektakuler, tapi tidak pula ceroboh.

Di pertengahan masa studi, ia mulai membaca polanya sendiri. Ia melihat grafik nilainya seperti membaca detak jantung pasien: naik-turun, tapi terkendali. Dari sana, ia tak lagi terobsesi pada angka 4,00. Ia fokus pada ritme.

Paradoksnya justru di situ. Ketika banyak mahasiswa mengejar IPK sebagai trofi, Zufa memperlakukannya seperti efek samping dari disiplin. Ia belajar mencicil materi karena ujian datang hampir setiap bulan. Ia tak menunggu semalam suntuk sebelum ujian.

“Minimal sehari baca satu atau dua halaman saja itu sudah progres,” tambahnya.

Sederhana. Tapi konsisten.

Terjun ke Jalanan, Bukan Hanya ke Buku

Di tengah padatnya teori dan praktikum, Zufa memilih turun langsung ke lapangan. Ia magang selama tiga bulan di PSC 119 YES (Public Safety Center 119 Yogyakarta Emergency Services). Di sana, ia tidak hanya berhadapan dengan buku dan jurnal, tetapi dengan napas yang terengah, sirene ambulans, dan situasi kedaruratan yang tak memberi ruang untuk ragu.

Ia belajar tentang prehospital care fase krusial sebelum pasien tiba di rumah sakit. Ia menyaksikan bagaimana keputusan dalam hitungan detik bisa menentukan hidup dan mati. Pengalaman itu membuka jejaring, wawasan klinis, dan, mungkin yang lebih penting, empati.

Di titik ini, IPK 4,00 terasa seperti detail kecil dibandingkan keberanian turun ke medan yang sesungguhnya. Dunia kesehatan tak pernah rapi seperti lembar jawaban ujian. Ia berantakan, mendesak, dan sering kali tak adil.

Namun justru di ruang-ruang itulah Zufa menempa dirinya.

Kebumen, Jarak, dan Lelah yang Tak Terucap

Perjalanan Zufa dimulai dari Kebumen, Jawa Tengah. Ia membawa mimpi berkembang di bidang medika bidang yang menuntut ketahanan mental sama besar dengan kecerdasan akademik. Kesibukan kuliah kerap membuatnya lelah. Tugas menumpuk. Praktikum menyita energi. Target pribadi berbisik pelan, tapi konstan.

Dalam kultur mahasiswa berprestasi, lelah sering kali disembunyikan. Kita melihat foto toga dan IPK sempurna, tapi jarang melihat mata yang sembab karena kurang tidur atau kecemasan menghadapi ujian klinik.

Zufa tidak menampik lelah itu. Ia hanya memilih tak membiarkannya tumbuh sendirian.

Setiap malam, ia menelepon ibunya. Percakapan itu mungkin sederhana: kabar hari ini, cerita tentang pasien, keluhan soal tugas. Namun di sanalah ia mengisi ulang tenaganya. Dukungan keluarga dan teman-teman menjadi bantalan ketika ekspektasi akademik terasa menekan.

Di negeri yang masih memuja ranking dan angka, kisah Zufa menyentil satu hal: keberhasilan akademik jarang berdiri sendiri. Ia tumbuh di atas relasi, doa, dan percakapan-percakapan kecil yang tak pernah masuk transkrip nilai.

Nilai Hanya Menjadi Simbol

IPK 4,00 memang istimewa. Ia adalah simbol disiplin, konsistensi, dan kecermatan. Namun Zufa menolak memahkotainya terlalu tinggi. Ia menyebut nilai akademik hanyalah representasi dari proses dan kerja keras. Bukan identitas. Bukan harga diri.

“Nilai itu bisa menunjukkan prosesmu, tetapi jangan sampai membuatmu lupa untuk tetap rendah hati, membumi, dan tidak sombong,” katanya.

Di tengah budaya kompetisi yang kerap menjadikan kampus seperti arena balap, pernyataan itu terasa relevan. Kita hidup di zaman ketika angka sering menjadi ukuran tunggal IPK, skor tes, jumlah pengikut, gaji pertama. Kita lupa bahwa manusia tak pernah sesederhana statistik.

Zufa, dengan segala pencapaiannya, justru berbicara tentang manajemen waktu, prioritas, dan keseimbangan. Ia menekankan pentingnya memilah tugas: mana yang harus segera dikerjakan, mana yang bisa menunggu. Tanpa pengaturan waktu, katanya, seseorang mudah kewalahan.

Ia tak menjual kisahnya sebagai dongeng kejeniusan. Ia menawarkannya sebagai cerita tentang konsistensi kecil yang dirawat setiap hari.

Di Antara Prestasi dan Kerendahan Hati

Kisah Zufa bisa saja dibaca sebagai narasi klasik tentang mahasiswa berprestasi dari daerah yang menaklukkan kampus besar. Namun ada lapisan lain yang lebih sunyi: tentang bagaimana ia merawat dirinya di tengah tekanan.

Ia tidak memasang target sempurna sejak awal. Ia menyesuaikan ekspektasi dengan realitas. Ia menerima bahwa proses bisa berubah arah. Ia mengakui sempat pesimis. Kejujuran itu membuat ceritanya terasa manusiawi, bukan heroik berlebihan.

Barangkali justru di situlah letak pelajaran terbesarnya. Prestasi bukan hanya soal mencapai titik tertinggi, tetapi tentang bagaimana seseorang bertahan dalam perjalanan menuju ke sana tanpa kehilangan empati pada diri sendiri dan orang lain.

Ketika wisuda usai, ketika angka 4,00 tercetak di transkrip, hidup tentu tidak berhenti. Dunia kesehatan tetap menunggu tenaga-tenaga muda yang tak hanya cerdas, tetapi juga tangguh dan peka.

Dan mungkin, di suatu malam setelah euforia itu reda, Zufa akan kembali melakukan ritual lamanya. Menekan satu nama di ponsel. Mendengar suara yang sama dari Kebumen. Suara yang mengingatkannya bahwa di balik angka sempurna, ada perjalanan yang sangat manusia.

IPK 4,00 memang langka. Tetapi keberanian untuk tetap rendah hati setelah meraihnya mungkin jauh lebih sulit.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana ketika angka-angka itu memudar, nilai apa yang benar-benar tinggal? @dimas

Tags: BelajarhidupInspiratifKeluargaKisahKonsistenManajemenPerjalananPrestasi

Kamu Melewatkan Ini

Sertifikasi Naik, Tekanan Ikut Naik: Kisah Sunyi di Balik Profesi Guru

Sertifikasi Naik, Tekanan Ikut Naik: Kisah Sunyi di Balik Profesi Guru

by teguh
Mei 2, 2026

Pagi itu, di sebuah ruang kelas sederhana pada masa awal kemerdekaan, seorang guru berdiri tanpa seragam resmi, tanpa tunjangan, bahkan...

Ayah ini Arahnya Kemana ya? Ketika anak perempuan yang kehilangan sosok jiwa sang ayah

Ayah ini Arahnya Kemana ya? Ketika anak perempuan yang kehilangan sosok jiwa sang ayah

by jeje
April 23, 2026

Banyak film keluarga memilih cara mudah, menghilangkan sosok ayah untuk menciptakan tragedi. Film ini justru melakukan sebaliknya. Ia mempertahankan ayah...

Anak Lolos Kampus, Dompet Menangis: Alumni Menjaga Mimpi Siswa Pamekasan

Anak Lolos Kampus, Dompet Menangis: Alumni Menjaga Mimpi Siswa Pamekasan

by teguh
April 21, 2026

Selasa, 21/04/2026, kabar baik datang dari SMA Negeri 2 Pamekasan. Sebanyak 76 siswa lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026....

Next Post
Duel Dua Set, Janice/Piter Kunci Tiket Empat Besar Merida Open 2026

Duel Dua Set, Janice/Piter Kunci Tiket Empat Besar Merida Open 2026

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id