Rabu, Oktober 21, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mepe Kasur: Strategi Budaya Osing Merawat Identitas di Era Modern

by eko
Februari 22, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Pernah melihat satu desa menjemur kasur bersama-sama? Ini bukan adegan pindahan massal atau promo cuci gudang spring bed. Warga melakukannya sebagai tradisi. Mereka berbicara pada matahari lewat ritual yang sederhana namun bermakna.

Di Desa Kemiren, warga memaknai kasur lebih dari sekadar alas tidur. Mereka menjadikannya ruang mimpi dan tempat menyelipkan doa sebelum terlelap. Setiap menjelang perayaan adat, warga menggelar mepe kasur ritual menjemur kasur secara massal. Jalan desa yang biasanya sunyi berubah menjadi galeri warna. Warga menyandarkan kasur kapuk berbalut lurik khas Osing di pagar, teras, dan pinggir jalan. Mereka turut menjemur bantal dan guling. Sejak pukul 08.00 hingga 11.00 WIB, matahari menyinari seluruh desa, dan suasana terasa hidup serempak.

Latar Sejarah dan Makna Tradisi Mepe Kasur

Suku Osing mewariskan mepe kasur dari generasi ke generasi. Mereka menjaga tradisi ini secara konsisten tanpa kehilangan relevansi.

Sebelum menjemur kasur, warga membersihkannya dengan lerak, buah alami yang berfungsi sebagai disinfektan tradisional. Mereka mengandalkan bahan alami dan mempertahankan cara lama. Bagi masyarakat Osing, kebersihan tidak hanya menyangkut debu, tetapi juga energi.

Warga menggunakan kasur kapuk tradisional yang mereka buat dengan tangan. Mereka membungkusnya dengan kain lurik bermotif khas Osing. Melalui ritual ini, warga berharap dapat mengusir energi negatif dan menghadirkan keberkahan bagi keluarga. Banyak yang merasakan tidur lebih nyenyak setelah prosesi selesai.

Ini Belum Selesai

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

Pameran Keris Keluar dari Museum, Solo Mengajak Wisatawan Menyentuh Ingatan

Tradisi ini menunjukkan bahwa tindakan sederhana dapat membawa makna mendalam.

Transformasi Tradisi dalam Konteks Pariwisata Budaya

Pemerintah menetapkan Desa Kemiren sebagai desa cagar budaya. Keputusan itu mendorong mepe kasur tampil di ruang publik yang lebih luas. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memasukkan tradisi ini ke dalam agenda seperti Festival Banyuwangi. Wisatawan pun datang untuk menyaksikan langsung ritual tersebut.

Warga tetap memegang kendali atas tradisi mereka. Mereka membuka akses bagi pengunjung, tetapi tetap menjaga nilai dan tata cara adat. Selain mepe kasur, warga menampilkan rumah adat Osing, pertunjukan tari gandrung, dan menyajikan kuliner khas seperti sego tempong.

Kemiren tidak sekadar menjadikan tradisi sebagai tontonan. Warga terus mempraktikkannya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Relevansi Mepe Kasur di Era Digital dan Sosial Kontemporer

Di tengah ritme digital yang serba cepat, mepe kasur menghadirkan jeda. Saat masyarakat sibuk memperbarui gawai dan membersihkan memori digital, warga Kemiren justru membersihkan ruang tidur mereka secara kolektif.

Tradisi ini menegaskan pentingnya kebersamaan. Satu desa bergerak dalam waktu yang sama tanpa dorongan algoritma atau tren media sosial. Warga melakukannya karena mereka menghargai warisan leluhur.

Melalui tindakan sederhana itu, mereka memperkuat solidaritas sosial. Mereka menunjukkan bahwa komunitas tumbuh dari partisipasi nyata, bukan sekadar percakapan daring.

Refleksi Budaya: Simbolisme dan Makna Kekinian

Warga Osing memandang kasur sebagai saksi kehidupan domestik tempat beristirahat, memulihkan tenaga, dan menyimpan cerita. Ketika mereka menjemurnya, mereka membuka ruang privat kepada cahaya.

Tradisi ini mengajak kita meninjau kembali kebiasaan modern yang gemar menampilkan pencapaian, tetapi enggan mengakui kelelahan. Mepe kasur menyiratkan ajakan untuk membersihkan diri, baik secara fisik maupun batin.

Kemiren membuktikan bahwa tradisi dapat beradaptasi tanpa kehilangan makna. Warga mengelola perubahan dengan sadar dan tetap memegang nilai inti budaya mereka.

Tradisi, Cahaya, dan Kesadaran Kolektif

Menjelang pukul 11 siang, warga mengangkat kembali kasur-kasur yang telah kering. Jalan desa kembali lapang. Warna lurik masuk ke dalam rumah, tetapi semangat kebersamaan tetap terasa.

Warga Kemiren menjadikan matahari sebagai simbol pembaruan. Mereka memanfaatkan cahaya untuk membersihkan, merawat, dan merawat kembali warisan budaya.

Tradisi ini mengajukan pertanyaan sederhana kepada kita kapan terakhir kali kita membersihkan ruang hidup secara sadar dan bersama?

Karena untuk beristirahat dengan tenang, kita perlu merawat apa yang menopang kehidupan baik kasur, rumah, maupun batin kita sendiri. @eko

Tags: banyuwangiBudaya

Kamu Melewatkan Ini

JABFest 2026: Seni Melawan Pendangkalan, Buku Menjaga Ingatan

JABFest 2026: Seni Melawan Pendangkalan, Buku Menjaga Ingatan

by dimas
Oktober 13, 2026

JABFest 2026 di Yogyakarta menghadirkan seni, buku, film, dan diskusi untuk melawan pendangkalan berpikir serta menjaga ingatan kolektif. Tabooo.id: Yogyakarta...

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

by teguh
September 10, 2026

Polemik “goblok” hanya permukaan. Di bawahnya ada benturan antara kebebasan, kenyamanan publik, otoritas, dan negara. Kata “goblok” tiba-tiba masuk ke...

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

by teguh
September 3, 2026

Sisil meninggalkan dunia penerbangan untuk menempa keris. Pilihan itu membawa pertanyaan lebih besar siapa yang akan menjaga pengetahuan leluhur ketika...

Next Post
Bulog Perkuat Stok MinyaKita hingga 100 Ribu Ton Saat Ramadhan dan Lebaran

Bulog Perkuat Stok MinyaKita hingga 100 Ribu Ton Saat Ramadhan dan Lebaran

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id