Tabooo.id: Entertainment – Pernah nggak sih, tiap masuk Ramadhan, rasanya timeline dan TV kita punya playlist yang sama? Azan, kultum, promo sirup, dan… lagu dari Wali.
Yes, Wali kembali dengan amunisi religi terbaru berjudul “Romantika Badar dan Uhud.” Seperti biasa, Apoy dkk nggak datang dengan setengah hati. Mereka membawa pop Melayu khas yang sendu tapi nagih, lengkap dengan lirik reflektif yang mengangkat metafora dari dua peristiwa besar dalam sejarah Islam: Badar dan Uhud. Kedengarannya berat? Tenang. Ini tetap Wali bukan kuliah sejarah 3 SKS.
Lagu Religi, Tapi Nggak Sekadar Religi
“Romantika Badar dan Uhud” diciptakan langsung oleh Apoy. Melodinya lembut, diselipi shalawat, sementara liriknya mengaitkan dinamika perang besar di masa lalu dengan perjuangan hidup hari ini. Badar sering dimaknai sebagai simbol kemenangan saat iman kokoh, sedangkan Uhud identik dengan ujian ketika lengah dan goyah.
Dua simbol itu dipinjam Wali untuk menggambarkan hidup modern yang naik-turun. Ada fase ketika rezeki lancar, ibadah rajin, hati tenang. Ada juga momen lalai, futur, dan overthinking tiap malam. Harapannya, lagu ini bisa jadi penyemangat spiritual selama Ramadhan—bukan sekadar didengar, tapi juga direnungkan. Ambisi yang cukup serius untuk ukuran lagu pop, bukan?
Ramadhan dan Industri Hiburan
Lalu muncul pertanyaan klasik: kenapa setiap Ramadhan selalu ada rilisan religi? Secara ideal, jawabannya tentu karena momen spiritual. Secara realistis, ini juga soal momentum emosional.
Di bulan ini, publik lebih reflektif dan mudah tersentuh. Konten bernuansa religi pun lebih dicari. Industri hiburan jelas peka membaca situasi. Namun, menariknya, Wali bukan pemain musiman yang tiba-tiba religius saat kalender berubah. Sejak awal, identitas mereka memang pop Melayu dengan sentuhan dakwah ringan. Liriknya sederhana, pesannya jelas, nadanya tidak menggurui hanya menyentil.
Tahun ini, langkah mereka makin komplet. Selain merilis lagu, Wali juga kembali hadir lewat sinetron Amanah Wali di RCTI, tayang di jam-jam krusial seperti buka puasa dan sahur. Strategis? Tentu. Konsisten? Juga.
Badar, Uhud, dan Kita yang Suka Naik-Turun
Daya tarik utama lagu ini justru ada pada metaforanya. Hidup sekarang serba instan: ingin hasil cepat, doa langsung “acc,” hijrah tapi tetap FOMO. Konsistensi sering jadi PR besar.
Padahal, kisah Badar dan Uhud mengingatkan bahwa kemenangan dan kekalahan adalah bagian dari perjalanan. Hasil akhir bukan satu-satunya ukuran; sikap saat menjalaninya jauh lebih menentukan.
Seolah-olah Wali sedang berbisik, “Kalau lagi di fase Uhud, jangan putus asa. Badar berikutnya bisa saja menunggu.” Terdengar puitis? Mungkin. Klise? Bisa jadi. Tetap relevan? Jelas.
Hiburan yang Mengingatkan
Di tengah banjir konten viral, drama seleb, dan lagu patah hati yang repetitif, karya seperti ini terasa sebagai jeda. Bukan untuk mengubah hidup dalam semalam, melainkan memberi ruang hening di sela scrolling tanpa akhir.
Akhirnya, “Romantika Badar dan Uhud” bisa jadi lebih dari sekadar soundtrack Ramadhan. Ia bisa menjadi cermin kecil—tentang konsistensi, tentang jatuh-bangun, tentang menerima bahwa hidup memang tak selalu menang.
Sekarang tinggal pilih: mau sekadar mendengar, atau benar-benar menyimak?
Karena pada akhirnya, hidup memang penuh Badar dan Uhud. Dan tiap orang sedang berada di fasenya masing-masing. @eko





