Minggu, September 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Istana Beri Tanggapan soal Intimidasi terhadap Ketua BEM UGM

by dimas
Februari 19, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Pemerintah akhirnya angkat suara soal teror yang menimpa Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto. Namun, alih-alih memberi kepastian perlindungan, Istana justru mengaku tidak mengetahui siapa pelakunya. Pernyataan itu memunculkan pertanyaan baru: siapa yang menjaga mahasiswa ketika intimidasi datang?

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyampaikan langsung respons tersebut di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, pada Rabu (18/2/2026). Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak mengetahui identitas peneror.

“Kalau teror, kita enggak tahu siapa yang meneror,” ujar Prasetyo.

Jawaban itu terasa singkat. Namun, dampaknya panjang. Sebab, publik kini melihat kontras yang tajam antara pengakuan atas hak kritik dan ketidakjelasan perlindungan terhadap pengkritik.

Pemerintah Mengakui Kritik, Tetapi Menekankan Etika

Di satu sisi, Prasetyo mengakui hak mahasiswa untuk menyampaikan kritik. Bahkan, ia mengaitkan pengalamannya sebagai mantan aktivis mahasiswa UGM untuk memperkuat pernyataannya. Ia menegaskan bahwa mahasiswa berhak memberi masukan kepada pemerintah.

Ini Belum Selesai

Pahlawan Street Centre, Jalan yang Pernah Jadi Nadi Madiun

12 Penyelam Turun ke Laut Jawa, 126 Korban KM Virgo Masih Dicari

Namun demikian, ia langsung menekankan pentingnya etika.

Ia meminta mahasiswa memilih kata dengan sopan. Selain itu, ia mengingatkan semua pihak agar menjaga adab ketimuran saat menyampaikan pendapat. Menurutnya, cara penyampaian menentukan apakah kritik akan memberi dampak positif atau justru memicu masalah baru.

Karena itu, ia mendorong mahasiswa menggunakan jalur yang bijak dan diksi yang tepat. Ia percaya kritik yang disampaikan dengan baik akan membantu pemerintah melakukan perbaikan.

Meski begitu, ia tidak menjelaskan langkah konkret untuk menghentikan teror. Sebaliknya, ia memisahkan isu kritik dan intimidasi tanpa memberi solusi yang jelas.

Akibatnya, publik melihat pemerintah lebih cepat mengatur cara bicara mahasiswa daripada memastikan keamanan mereka.

Tiyo Menghadapi Ancaman Nyata, Bukan Sekadar Perdebatan

Sementara pemerintah berbicara soal etika, Tiyo menghadapi ancaman langsung. Ia menerima pesan ancaman penculikan dari nomor tak dikenal. Ancaman itu muncul setelah ia mengkritik tragedi kematian seorang anak di Nusa Tenggara Timur.

“Saya mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang mengancam mau menculik,” kata Tiyo.

Selain itu, dua pria tak dikenal menguntitnya pada 11 Februari 2026. Mereka memotret dirinya dari kejauhan saat ia duduk di sebuah kedai. Tiyo segera menyadari kehadiran mereka. Ia dan rekannya langsung mencoba mengejar. Namun, kedua pria itu melarikan diri dan menghilang.

Teror tidak berhenti di situ. Pelaku juga mengirim pesan intimidasi kepada ibunya. Mereka menuduh Tiyo menggelapkan uang. Pesan itu datang pada tengah malam.

Ibunya merasa takut. Situasi itu memperlihatkan bahwa tekanan tidak hanya menyasar aktivis, tetapi juga keluarga mereka.

Dengan demikian, kasus ini sudah melampaui perbedaan pendapat. Teror itu bertujuan menciptakan rasa takut.

Kritik ke UNICEF Memicu Gelombang Tekanan

Sebelumnya, Tiyo dan BEM UGM mengirim surat resmi kepada UNICEF. Mereka menyoroti kematian tragis seorang anak berusia 10 tahun di Ngada, NTT. Anak itu diduga bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis.

Melalui surat tersebut, Tiyo mengajukan pertanyaan tajam:

“What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book?”

Pertanyaan itu mengguncang. Sebab, kalimat itu tidak hanya menyuarakan duka. Kalimat itu juga menuntut tanggung jawab.

Selain itu, Tiyo menyebut tragedi itu sebagai bukti kegagalan sistemik. Ia menilai negara gagal melindungi warganya yang paling rentan. Oleh karena itu, ia meminta UNICEF memperkuat perlindungan anak dan mendorong perbaikan kebijakan pendidikan.

Langkah itu segera menarik perhatian luas. Isu lokal berubah menjadi sorotan nasional, bahkan internasional. Namun, bersamaan dengan itu, tekanan terhadap Tiyo juga meningkat.

Demokrasi Diuji Saat Mahasiswa Mulai Diteror

Kasus ini memperlihatkan posisi rentan mahasiswa. Mereka tidak memiliki kekuasaan politik. Mereka juga tidak memiliki perlindungan struktural yang kuat. Namun, mereka tetap bersuara.

Karena itu, teror terhadap mahasiswa tidak hanya menyerang individu. Teror itu juga menyerang ruang kritik.

Selain itu, situasi ini menguji komitmen negara terhadap demokrasi. Negara mengakui kebebasan berpendapat. Akan tetapi, kebebasan itu kehilangan makna ketika intimidasi muncul tanpa perlindungan.

Pada akhirnya, publik menunggu tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan normatif. Sebab, demokrasi tidak runtuh karena kritik.

Sebaliknya, demokrasi runtuh ketika orang mulai takut berbicara dan negara memilih diam. @dimas

Tags: AktivisBerpendapatDemokrasiIntimidasiKebebasanketuaKritikMahasiswaNTTSuara

Kamu Melewatkan Ini

Program Bantuan Smart TV Sudah Sampai, Listriknya Kapan?

Program Bantuan Smart TV Sudah Sampai, Listriknya Kapan?

by teguh
September 14, 2026

Ada satu pemandangan yang membuat program digitalisasi pendidikan terasa seperti sedang berjalan dengan dua kecepatan. Di SD Negeri Mboeng, Manggarai...

Smart TV di Sekolah, Listrik Masih Jadi Soal: Negara Sedang Membangun Apa?

Smart TV di Sekolah, Listrik, Internet Masih Jadi Soal: Negara Sedang Membangun Apa?

by teguh
September 12, 2026

Layar interaktif kini masuk ke ruang kelas hingga pelosok Nusa Tenggara Timur dengan hadirnya bantuan Smart TV di sekolah melalui...

Program Digitalisasi Harus jalan, Smart TV untuk Sekolah Rusak, Listriknya?

Program Digitalisasi Harus jalan, Smart TV untuk Sekolah Rusak, Listriknya?

by teguh
September 12, 2026

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menjelaskan polemik bantuan program digitasasi perangkat digital untuk SD Negeri Mboeng, Manggarai...

Next Post
Gas Melon Langka Saat Ramadhan, Warga Palopo Berburu ke Kota

Gas Melon Langka Saat Ramadhan, Warga Palopo Berburu ke Kota

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id