Minggu, September 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Menyusuri Ampel: Jejak Islam Tertua dan Kehidupan Kota Surabaya

by dimas
Februari 18, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Pagi itu, aroma rempah dan roti Arab tipis-tipis menyusup di sepanjang jalan Ampel. Pedagang kaki lima menata dagangan dengan rapi, sementara suara azan bersahutan dari Masjid Agung Ampel. Di sela hiruk-pikuk itu, wisatawan menatap mosaik kuno yang seolah berbisik “Ini hidup.” Kawasan ini terasa seperti kapsul waktu, di mana masa lalu dan masa kini berpadu menjadi harmoni urban yang unik.

Jejak Sunan Ampel dan Awal Ampel

Sekitar tahun 1400 Masehi, Raden Rahmat, atau Sunan Ampel, menerima tanah luas dari Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Ia menempuh perjalanan dari Majapahit menuju Ampeldenta, melintasi Pari, Kriyan, Wonokromo, Kembang Kuning, hingga Peneleh. Perjalanan itu bukan sekadar migrasi; ia menjadi misi dakwah sekaligus membangun komunitas yang menandai awal jejak Islam kokoh di Surabaya.

Sunan Ampel mendirikan masjid dan pesantren. Hingga kini, ribuan peziarah datang setiap tahun menziarahi kompleks makamnya. Mereka tidak hanya berdoa, tapi juga menapaktilasi sejarah yang membentuk identitas kota melalui interaksi spiritual dan sosial.

Nama, Kolonial, dan Migrasi

Kata “Ampel” muncul dari ngampel, yang berarti meminjam atau memanfaatkan sebagian lahan. Filosofi ini menekankan prinsip hidup sambil merawat tanah.

Pada masa kolonial Belanda, pemerintah menata Ampel menggunakan wijkenstelsel, sistem pemukiman berbasis etnis. Kawasan ini menjadi Arabische-kamp, berdampingan dengan Chineesche-kamp dan Maleische-kamp. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan dekat Pelabuhan Perak membuat Ampel menarik banyak pendatang. Bahkan etnis Arab Hadramaut dari Yaman datang signifikan setelah Terusan Suez dibuka pada 1869.

Ini Belum Selesai

Ketika Wayang Tak Lagi Cuma Milik Masa Lalu

Dari Kelapa ke Sawit: Siapa yang Mengubah Isi Wajan Kita?

Komunitas Arab mempertahankan akar budaya dan agama mereka. Mereka terbagi menjadi dua golongan Syeh, keturunan sahabat Nabi, yang memelihara kemurnian ibadah, dan Sayyid, keturunan Nabi Muhammad SAW, yang memadukan ritual dengan tradisi lokal. Hasilnya, atmosfer khas Timur Tengah tetap terasa di tengah kota Surabaya.

Ampel Hari Ini: Spiritual dan Sosial Menyatu

Kini, Ampel bukan hanya tujuan ziarah. Masjid Agung Ampel menarik wisatawan religius, sedangkan pasar tradisional di sekitarnya menyuguhkan kehidupan lokal penuh warna dan aroma. Pengunjung menapaki jalan sempit yang dipenuhi kios rempah, kain, dan roti khas Arab sambil menyimak cerita masyarakat yang menjaga tradisi berabad-abad.

Setiap sudut Ampel memancarkan kehidupan multidimensi. Anak-anak berlarian di pelataran masjid, jamaah tua membaca Al-Qur’an, sementara pedagang menawar dagangan. Budaya dan spiritualitas berjalan seiring. Kehidupan sehari-hari menjadi pameran kecil toleransi dan akulturasi.

Selain itu, masyarakat Arab membangun jaringan sosial, pendidikan, dan ekonomi. Para pedagang dan komunitas setempat mempertahankan identitas mereka sambil berkembang, sehingga Pasar Ampel kini menjadi simbol keberlanjutan budaya.

Makna Budaya Ampel

Melihat Ampel hari ini, kita menyadari bahwa sejarah bukan sekadar masa lalu. Tradisi menjadi sumber kehidupan sosial dan budaya yang berkelanjutan. Fenomena ini menegaskan bahwa tradisi bisa hidup berdampingan dengan modernitas. Wisata religi yang tadinya kaku kini dikemas dengan pengalaman visual, digital, dan multisensorial, sehingga generasi muda tetap tertarik tanpa mengorbankan nilai historis.

Penutup

Ampel adalah narasi yang berjalan, seperti mosaik kuno yang terus diperbarui. Setiap langkah di jalan sempitnya menjadi dialog antara masa lalu dan kini, antara doa dan tawar-menawar di pasar. Kawasan ini membisikkan pesan sederhana kita bisa modern tanpa melupakan akar, urban tanpa kehilangan jiwa sejarah, dan religius tanpa kehilangan kemanusiaan.

Di Ampel, waktu berputar perlahan, tetapi cerita yang disimpan terus bergema. Sejarah bukan sekadar catatan ia adalah pengalaman yang bisa dirasakan, dihirup, dan diserap dalam setiap napas kehidupan kota. @Sabrina Fidhi – Surabaya

Tags: BudayaHarmoniIslamPasar TradisionalReligiSejarahsurabaya

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

by teguh
September 10, 2026

Polemik “goblok” hanya permukaan. Di bawahnya ada benturan antara kebebasan, kenyamanan publik, otoritas, dan negara. Kata “goblok” tiba-tiba masuk ke...

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

by teguh
September 3, 2026

Sisil meninggalkan dunia penerbangan untuk menempa keris. Pilihan itu membawa pertanyaan lebih besar siapa yang akan menjaga pengetahuan leluhur ketika...

Sisil: Wanita 25 Tahun Memilih Jadi Empu Keris Warisan Leluhur

Sisil: Wanita 25 Tahun Memilih Jadi Empu Keris Warisan Leluhur

by teguh
Agustus 29, 2026

Hashilatun Nasifah atau lebih akrab dipanggil Sisil pulang dari dunia penerbangan untuk menjadi Empu keris. Pilihannya membuka cerita tentang perempuan,...

Next Post
Dunia Tidak Lagi Netral, Indonesia di Persimpangan Tekanan Ekonomi

Dunia Tidak Lagi Netral, Indonesia di Persimpangan Tekanan Ekonomi

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id