Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ketua BEM UGM Diteror Usai Kritik Prabowo, Pemerintah Bantah Terlibat

by dimas
Februari 18, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, melontarkan kritik keras kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai pemerintah bersikap pasif menghadapi berbagai intimidasi terhadap kelompok kritis, termasuk mahasiswa.

Dalam konferensi pers daring bersama Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik, Selasa (17/2/2026), Tiyo tidak menyembunyikan kekecewaannya. Ia bahkan menyebut pemerintah saat ini sebagai rezim yang pengecut.

“Rezim hari ini memang kita kenal sebagai rezim yang pengecut,” ujar Tiyo.

Ucapan itu bukan sekadar retorika mahasiswa. Kritik tersebut muncul setelah dirinya menerima ancaman langsung dari orang tak dikenal, hanya beberapa hari setelah BEM UGM mengirim surat terbuka yang mengkritik kebijakan pemerintah.

Ancaman WhatsApp dan Tuduhan “Agen Asing”

Tekanan itu datang melalui pesan WhatsApp dari nomor asing berkode Inggris. Isi pesannya tidak hanya mengancam, tetapi juga mencoba mendeligitimasi.

Ini Belum Selesai

Bukan Cuma Soal Motor, Ketika Komunitas Jadi Tempat Mencari Arah

Desa Adat Sade Terbakar, Ratusan Rumah Sasak Ludes dalam Semalam

Pengirim menuduh Tiyo sebagai agen asing dan menudingnya mencari panggung.

“Agen asing. Jangan cari panggung jual narasi sampah,” tulis pesan tersebut.

Ancaman itu bahkan menyebut kemungkinan penculikan.

Situasi ini langsung memicu kekhawatiran di kalangan mahasiswa. Mereka melihat teror tersebut bukan sekadar serangan personal, melainkan ancaman terhadap kebebasan menyampaikan kritik.

Bagi aktivis kampus, intimidasi seperti ini menghidupkan kembali trauma lama: ketika kritik dibalas dengan tekanan.

Kritik Lebih Dalam: Dari Konstitusi hingga Program Makan Gratis

Tiyo tidak hanya berbicara soal teror. Ia juga menggugat arah kebijakan pemerintah secara lebih luas.

Menurutnya, sikap pemerintah saat ini sudah terlihat sejak proses politik sebelumnya. Ia menyinggung perubahan aturan batas usia calon presiden dan wakil presiden melalui Mahkamah Konstitusi, yang membuka jalan bagi Gibran Rakabuming Raka maju dalam kontestasi nasional.

“Untuk menang saja, mereka harus mengakali konstitusi. Itu adalah kepengecutan pertama,” tambahnya.

Selain itu, BEM UGM juga mengkritik program makan bergizi gratis yang menjadi andalan pemerintah. Program tersebut dinilai tidak menyentuh akar persoalan pendidikan.

Menurut Tiyo, masalah utama bangsa bukan sekadar gizi, melainkan akses pendidikan.

Ia bahkan menyinggung tragedi seorang siswa sekolah dasar di Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang diduga bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis.

Peristiwa itu menjadi simbol ironi. Negara mampu mengalokasikan anggaran besar untuk program ambisius, tetapi masih ada anak yang tidak mampu membeli pena.

Anggaran Triliunan dan Pertanyaan Prioritas Negara

Kritik mahasiswa juga menyoroti keputusan Indonesia bergabung dengan Dewan Perdamaian atau Board of Peace, yang memerlukan dana sekitar US$ 1 miliar atau setara Rp 16,7 triliun.

BEM UGM melihat keputusan tersebut sebagai paradoks.

Di satu sisi, negara menunjukkan ambisi besar di panggung global. Namun di sisi lain, sebagian rakyat masih berjuang untuk kebutuhan pendidikan dasar.

Bagi mahasiswa, persoalannya bukan sekadar angka. Persoalannya terletak pada prioritas.

Pertanyaan yang muncul sederhana siapa yang sebenarnya didahulukan?

Pemerintah Membantah, Sebut Kritik Bagian dari Demokrasi

Pemerintah langsung merespons tuduhan tersebut. Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai membantah keterlibatan pemerintah dalam teror terhadap Ketua BEM UGM.

Ia menegaskan pemerintah tidak menggunakan intimidasi untuk membungkam kritik.

“Itu menggiring opini seakan-akan pemerintah menekan oposisi atau mahasiswa. Tidak begitu,” ujar Pigai.

Ia juga menegaskan Presiden Prabowo melarang penggunaan hukum untuk menekan pihak kritis.

Menurutnya, pemerintah justru menganggap kritik sebagai bagian penting dari koreksi publik.

Pigai bahkan meminta aparat kepolisian mengusut kasus tersebut. Ia menilai nomor telepon pelaku dapat ditelusuri.

“Polisi yang akan menentukan siapa pelakunya,” tambahnya.

Saat Kritik Bertemu Kekuasaan

Kasus ini memperlihatkan ketegangan klasik dalam demokrasi hubungan antara kekuasaan dan kritik.

Mahasiswa melihat intimidasi sebagai ancaman kebebasan.

Pemerintah melihat tuduhan sebagai penggiringan opini.

Di tengah tarik-menarik itu, masyarakat menjadi saksi.

Bagi mahasiswa, ini soal keberanian berbicara.

Bagi pemerintah, ini soal menjaga legitimasi.

Namun bagi publik, pertanyaannya lebih sederhana.

Jika kritik saja memicu ancaman, yang perlu ditakuti bukan suara mahasiswa melainkan alasan mengapa suara itu dianggap berbahaya. @dimas

Tags: AktivisBerpendapatDemokrasiGibran Rakabuming RakaKebebasanKritikMahasiswaNasionalNatalius PigaipemerintahPolitik IndonesiaPrabowo SubiantoSuara

Kamu Melewatkan Ini

Korporasi Diduga Main Api, Prabowo: Tindak Tegas Kalau Terbukti!

Korporasi Diduga Main Api, Prabowo: Tindak Tegas Kalau Terbukti!

by dimas
Agustus 22, 2026

Korporasi diduga terlibat karhutla di Kalimantan. Prabowo menegaskan akan menindak tegas jika keterlibatan mereka terbukti secara hukum. Tabooo.id - Negara...

81 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Merdeka untuk Siapa?

81 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Merdeka untuk Siapa?

by Tabooo
Agustus 20, 2026

Sehari setelah perayaan HUT ke-81 RI, mahasiswa turun ke jalan membawa delapan tuntutan. Di sana, makna kemerdekaan kembali dipertanyakan lewat...

Kartu Kredit Indonesia Meluncur, MDR QRIS 0% Diperluas

Kartu Kredit Indonesia Meluncur, MDR QRIS 0% Diperluas

by Tabooo
Agustus 18, 2026

Excerpt: Kartu Kredit Indonesia resmi meluncur. Bersamaan dengan itu, BI memperluas MDR QRIS 0% mulai 1 Oktober 2026 untuk transaksi...

Next Post
MBG Tambah Beban Sampah, Pemprov Jateng Minta Dapur Bertanggung Jawab

MBG Tambah Beban Sampah, Pemprov Jateng Minta Dapur Bertanggung Jawab

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id