Sabtu, Mei 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

MBG Populer, Tapi Problem Guru Honorer Belum Terselesaikan

by dimas
Februari 16, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pasangan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka terus menuai pujian sekaligus kritik. Di satu sisi, publik melihat program ini sebagai langkah berani. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar negara ingin dikenal sebagai pemberi bantuan cepat, atau sebagai pembangun fondasi pendidikan jangka panjang?

Coba kita bayangkan situasi sederhana. Kita duduk di kafe, ngobrol santai soal masa depan pendidikan. Di satu meja, seorang siswa menikmati makan siang gratis dari program negara. Sementara itu, di meja sebelah, seorang guru honorer baru selesai mengajar, lalu bergegas mencari pekerjaan tambahan karena gajinya belum cukup membayar kebutuhan dasar.

Pertanyaan ini langsung terasa menohok. Jika pendidikan menjadi pondasi bangsa, lalu kenapa negara baru memperkuat nutrisi murid, tetapi belum memperkuat kesejahteraan gurunya?

Program Besar yang Terlihat Nyata, Tapi Apakah Menjawab Masalah Utama?

Pemerintah mengalokasikan sekitar Rp335 triliun untuk MBG dalam RAPBN 2026. Angka ini sangat besar. Selain itu, program ini juga memiliki daya tarik politik yang kuat karena manfaatnya langsung terlihat masyarakat.

Secara komunikasi publik, program seperti ini memang mudah diterima. Orang tua melihat anaknya makan gratis. Murid merasa diperhatikan negara. Media juga mendapatkan visual yang kuat. Karena itu, narasi yang terbentuk sangat sederhana: negara hadir dan bekerja.

Ini Belum Selesai

Saat Inovator Mulai Menjauh dari Negara

Kampus atau Katering? Ketika Ruang Ilmu Mulai Sibuk Urus Dapur

Selain itu, data dari Indikator Politik Indonesia menunjukkan lebih dari 70 persen penerima manfaat merasa puas. Artinya, dari sisi persepsi publik, program ini berhasil membangun citra positif pemerintah.

Namun demikian, kita tidak boleh berhenti pada angka kepuasan saja. Sebaliknya, kita perlu melihat kondisi pendidikan secara utuh. Karena itu, mari kita geser fokus ke ruang guru.

Survei dari IDEAS menunjukkan 74,3 persen guru honorer menerima gaji di bawah Rp2 juta per bulan. Bahkan lebih jauh lagi, sekitar 20 persen menerima kurang dari Rp500 ribu per bulan.

Dengan kata lain, banyak guru harus bekerja ganda. Mereka mengajar di pagi hari, lalu mencari penghasilan tambahan di sore atau malam hari. Akibatnya, kita tidak bisa berharap kualitas pengajaran tetap maksimal jika kondisi ekonomi guru terus tertekan.

Di Sisi Lain, MBG Tetap Punya Logika Kuat

Meski begitu, kita juga harus adil melihat sisi lain. MBG bukan program yang lahir tanpa alasan. Secara kesehatan publik, program ini masuk akal. Anak dengan gizi baik memiliki peluang belajar lebih optimal. Selain itu, risiko stunting bisa menurun. Konsentrasi belajar juga cenderung meningkat.

Selain itu, dari sisi politik kebijakan, MBG merupakan janji kampanye. Karena itu, pemerintah harus menjalankannya agar menjaga kepercayaan publik. Jika pemerintah gagal mengeksekusi janji besar seperti ini, publik bisa meragukan konsistensi kepemimpinan.

Lebih jauh lagi, MBG juga membangun kedekatan emosional antara negara dan masyarakat. Dalam politik modern, kedekatan emosional sering menjadi faktor penting dalam membangun legitimasi kekuasaan.

Namun, Pendidikan Tidak Bisa Berdiri di Atas Satu Program Saja

Meski MBG memiliki banyak manfaat, pendidikan tetap merupakan sistem yang kompleks. Murid memang membutuhkan gizi. Akan tetapi, guru juga membutuhkan kehidupan yang layak.

Guru honorer sering menjadi tulang punggung sekolah, terutama di daerah terpencil. Bahkan dalam banyak kasus, sekolah tetap berjalan karena kehadiran guru honorer, bukan karena ketersediaan guru ASN.

Jika tekanan ekonomi terhadap guru terus berlangsung, maka kualitas pendidikan akan ikut menurun. Motivasi kerja bisa melemah. Fokus mengajar bisa terpecah. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas generasi masa depan.

Ironisnya, negara mampu merancang program raksasa untuk puluhan juta murid. Namun hingga sekarang, negara belum menemukan solusi sistematis untuk meningkatkan kesejahteraan ratusan ribu guru honorer.

Saatnya Negara Berhenti Memilih yang Populer Saja

Secara jujur, pemerintah sering tergoda menjalankan program yang cepat membangun persepsi publik. Pola ini tidak hanya terjadi sekarang. Sebaliknya, ini sudah lama menjadi pola dalam kebijakan publik.

Padahal, program populis tidak selalu buruk. Namun, jika program populis berdiri tanpa fondasi struktural, dampaknya hanya terasa dalam jangka pendek.

Karena itu, jika negara benar-benar ingin membangun generasi unggul, maka investasi harus berjalan dua arah. Negara harus memperkuat gizi murid sekaligus memperkuat kesejahteraan guru.

Jika kedua hal ini berjalan bersamaan, dampaknya akan jauh lebih besar. Murid sehat. Guru fokus. Sistem pendidikan stabil. Pada akhirnya, negara akan memperoleh keuntungan jangka panjang.

Jadi Negara Mau Disukai, atau Mau Kuat?

Pada akhirnya, perdebatan ini bukan soal mendukung atau menolak MBG. Sebaliknya, ini soal keseimbangan prioritas kebijakan.

Negara kuat bukan hanya negara yang cepat memberi bantuan. Negara kuat adalah negara yang berani membangun fondasi, meskipun hasilnya tidak langsung viral atau populer.

Karena faktanya sederhana. Anak mungkin bisa makan gratis hari ini. Namun jika gurunya tetap hidup dalam tekanan ekonomi, maka masa depan pendidikan tetap rapuh.

Jadi sekarang pertanyaannya kembali ke kita semua. Negara sedang membangun generasi unggul atau hanya membangun kepuasan publik jangka pendek?

Lalu, kamu di kubu mana? @dimas

Tags: anggaranguruHonorerKeadilanKebijakanKesejahteraanMakan Bergizi GratisMBGPendidikanPrioritasProgramReformasi

Kamu Melewatkan Ini

Kampus atau Katering? Ketika Ruang Ilmu Mulai Sibuk Urus Dapur

Kampus atau Katering? Ketika Ruang Ilmu Mulai Sibuk Urus Dapur

by dimas
Mei 15, 2026

Kampus mulai masuk ke dapur MBG dan rantai distribusi pangan nasional. Ketika ruang ilmu berubah jadi operator kebijakan, siapa yang...

Hukum Pasca-Reformasi: Dari Pelindung Warga Menjadi Alat Pengatur Kritik

Hukum Pasca-Reformasi: Dari Pelindung Warga Menjadi Alat Pengatur Kritik

by Tabooo
Mei 15, 2026

Reformasi melahirkan banyak instrumen hukum. Namun hukum sering bergerak lambat untuk korban, cepat untuk kritik, dan dingin saat warga berhadapan...

Reformasi: Cara Kekuasaan Belajar Bertahan

Reformasi: Cara Kekuasaan Belajar Bertahan

by Tabooo
Mei 15, 2026

Reformasi dulu datang dengan janji besar, bahwa negara tidak boleh lagi terlalu kuat di hadapan warganya. Namun, lebih dari dua...

Next Post
Konflik Pertemanan Jadi Pembunuhan, KPAI Soroti Darurat Kekerasan Anak

Konflik Pertemanan Jadi Pembunuhan, KPAI Soroti Darurat Kekerasan Anak

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Mei 15, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id