Tabooo.id: Nasional – Siang itu, antrean kendaraan di Simpang Gadog, Kabupaten Bogor, tidak bergerak ke arah Puncak. Petugas kepolisian menghentikan laju mobil dan sepeda motor dari Jakarta sejak pukul 12.00 WIB, Minggu (15/2/2026). Mereka mengalihkan prioritas jalan sepenuhnya untuk kendaraan yang turun dari kawasan wisata menuju ibu kota.
Kebijakan satu arah atau one way itu langsung mengubah ritme lalu lintas. Kendaraan dari arah Puncak mengalir deras menuju Jakarta. Sebaliknya, wisatawan yang baru ingin naik harus menunggu tanpa kepastian.
Situasi ini menunjukkan satu hal yang berulang setiap musim libur Puncak tetap menjadi magnet, tetapi jalan menuju ke sana tidak pernah benar-benar siap menampung semua orang.
Lonjakan Wisatawan Dorong Rekayasa Lalu Lintas
Sejak pagi, volume kendaraan di Jalur Puncak terus meningkat. Pelaksana Tugas Kanit Gakkum Satlantas Polres Bogor, Ipda Ares Rahman, melihat lonjakan itu sebagai dampak langsung libur panjang Imlek.
“Hari ini situasi arus lalu lintas di jalur wisata Puncak terpantau mengalami peningkatan terkait adanya kegiatan masyarakat yang akan berwisata,” ujar Ares.
Lonjakan tersebut tidak terjadi di satu titik saja. Kepadatan muncul di sejumlah simpul utama seperti Simpang Pasir Muncang, Simpang Megamendung, Lokawiratama, dan Pasar Cisarua. Titik-titik ini sejak lama dikenal sebagai simpul kemacetan, terutama saat musim liburan.
Melihat kondisi itu, polisi langsung menerapkan sistem one way untuk mengurai tekanan kendaraan. Namun, petugas tidak menetapkan batas waktu pasti. Mereka menyesuaikan durasi kebijakan dengan kondisi di lapangan.
Dengan kata lain, arah jalan bisa berubah sewaktu-waktu, tergantung seberapa parah kemacetan terjadi.
Wisatawan Tertahan, Pelaku Usaha Ikut Menunggu
Kebijakan ini paling terasa dampaknya bagi wisatawan yang baru berangkat dari Jakarta. Banyak dari mereka harus berhenti di sekitar Simpang Gadog tanpa kepastian kapan bisa melanjutkan perjalanan.
Sebagian memilih menunggu. Sebagian lain memutar arah dan membatalkan rencana liburan.
Bagi pelaku usaha di kawasan Puncak, situasi ini juga membawa konsekuensi. Restoran, vila, dan pedagang lokal bergantung pada kedatangan wisatawan. Ketika akses tertutup, potensi pendapatan ikut tertahan.
Di sisi lain, sistem one way membantu wisatawan yang sudah selesai berlibur. Mereka bisa pulang lebih cepat tanpa terjebak macet berjam-jam.
Pemerintah, melalui kepolisian, mencoba menyeimbangkan dua kepentingan memperlancar arus pulang dan mengendalikan kepadatan.
Jalan Terbatas, Minat Wisata Tidak Pernah Surut
Polisi menyatakan akan bersiaga hingga Selasa untuk mengantisipasi lonjakan lanjutan selama libur panjang.
“Kami bersiaga sampai dengan Selasa mengantisipasi lonjakan terkait wisatawan yang akan menuju Puncak,” tambahnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa kepadatan belum akan berakhir dalam waktu dekat. Setiap musim liburan selalu menghadirkan pola yang sama: jumlah kendaraan melonjak jauh di atas kapasitas jalan.
Fenomena ini bukan sekadar soal liburan. Ini mencerminkan ketimpangan antara pertumbuhan mobilitas masyarakat dan kesiapan infrastruktur.
Jalur Puncak masih memikul beban sebagai destinasi wisata favorit warga Jabodetabek. Namun jalan yang sama, dengan lebar yang hampir tidak berubah, harus menampung jumlah kendaraan yang terus meningkat setiap tahun.
Pada akhirnya, rekayasa lalu lintas seperti one way hanya menjadi solusi sementara.
Sebab di negeri ini, keinginan orang untuk berlibur selalu bergerak lebih cepat daripada kemampuan jalan untuk menampungnya. @dimas




