Selasa, Juni 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ngurawan dan Mitos Pejabat yang Tak Bertahan Lama

by dimas
Februari 13, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Ada satu pola menarik di timeline kita generasi sekarang doyan banget konten “kerajaan Nusantara”, teori konspirasi sejarah, sampai wisata horor yang estetik. Kita scroll TikTok, muncul video petilasan. Kita buka YouTube, muncul cerita kerajaan hilang. Seolah-olah masa lalu selalu lebih dramatis daripada rapat anggaran hari ini.

Di Kabupaten Madiun, tepatnya di Desa Ngurawan, Kecamatan Dolopo, ada satu situs yang seperti sengaja bersembunyi dari sorotan besar Situs Ngurawan. Ia tidak sepopuler Trowulan. Ia juga tidak seramai Candi Penataran. Namun tanahnya menyimpan arca, yoni, bejana, kolam bekas petirtaan, hingga fragmen bangunan bata yang membentuk pola pemukiman kuno. Di dekatnya, berdiri makam Kyai Zaenal Abidin, sesepuh dusun, yang menjaga ruang antara sejarah dan keyakinan warga.

Namun Ngurawan bukan sekadar tumpukan batu tua. Ia adalah cerita tentang kerajaan yang pernah berdenyut di selatan Madiun dan mitos yang masih hidup sampai sekarang.

Ngurawan dan Mitos Pejabat yang Tak Bertahan Lama
Yoni yang ditemukan di Situs Ngurawan, Desa Ngurawan, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Rabu (11/2/2026) siang.

Dari Wurawan ke Gelang-Gelang

Sejarah menyebut nama Ngurawan dalam Prasasti Mula Malurung tahun 1255 Masehi. Prasasti itu menuliskan Wurawan sebagai pusat Kerajaan Gelang-Gelang, dengan Nararya Turukbali sebagai ratu. Ia merupakan putri Nararya Seminingrat atau Wisnuwardhana dan menjadi permaisuri Jayakatwang.

Nama Jayakatwang sendiri bukan nama sembarangan. Ia penguasa Kediri yang memberontak kepada Kertanegara pada 1292. Setahun kemudian, Raden Wijaya membalas dan menumbangkan Jayakatwang, membuka jalan bagi lahirnya Majapahit.

Ini Belum Selesai

From Reality to Narrative: Mengubah Tradisi Menjadi Karya

Raden Ronggo Prawirodirjo III: Api Perlawanan dari Madiun

Dengan kata lain, Ngurawan berdiri di simpang sejarah besar Jawa Timur. Ia tidak hanya menjadi latar, tetapi ikut berperan dalam transisi dari era Kediri menuju Majapahit.

Pada periode Majapahit, wilayah Gelang-Gelang berubah nama menjadi Keraton Pandansalas. Sumber seperti Pararaton dan Nagarakertagama menyebut wilayah ini tetap memiliki peran penting hingga abad ke-15. Artinya, kawasan ini tidak sekadar desa kecil ia pernah menjadi pusat kuasa, walau dalam skala regional.

Balai Arkeologi Yogyakarta bersama Pemerintah Kabupaten Madiun menemukan umpak batu bertahun 1320 Caka, arca Dewi Parwati, yoni, serta struktur bata yang diduga sebagai bangunan hidrolik. Temuan tembikar dan wadah tanah liat menguatkan dugaan bahwa Ngurawan pernah menjadi pola pemukiman aktif.

Sejarah tidak hanya tertulis di prasasti. Ia juga tersimpan di aliran Bengawan Solo, Kali Catur, hingga Kali Ngandong yang menghidupi wilayah ini sejak dulu.

Ritual, Mitos, dan Pejabat yang “Tak Bertahan”

Namun cerita Ngurawan tidak berhenti pada abad ke-14. Ia berlanjut dalam bentuk yang lebih kultural mitos.

Setiap Jumat Legi di Bulan Suro, warga Dusun Ngrawan menggelar ritual tolak bala. Mereka menyembelih kambing kendit kambing dengan lingkaran warna berbeda di bagian perut. Warga meyakini ritual ini menjaga keselamatan dusun sejak berdirinya pada 1783.

Di tengah ritual itu, lahir satu cerita yang membuat Ngurawan terasa seperti episode mini series sejarah mistis: konon pejabat yang datang ke situs ini tidak akan bertahan lama di jabatannya.

Cerita yang beredar beberapa pejabat yang datang kemudian lengser. Warga mengaitkan kejadian itu dengan aura sakral peninggalan kerajaan. Sebagian orang percaya. Sebagian lagi tersenyum skeptis.

Namun menariknya, hingga kini tidak banyak pejabat yang benar-benar datang secara resmi ke situs tersebut. Entah karena menghormati keyakinan warga, atau sekadar memilih aman.

Mitos bekerja dengan cara yang unik. Ia tidak perlu dibuktikan secara ilmiah untuk tetap hidup. Ia bertahan karena diceritakan ulang, karena diulang setiap Suro, karena diingat bersama.

Ngurawan di Era Digital: Antara Konten dan Kesadaran

Di era media sosial, situs seperti Ngurawan punya dua kemungkinan tenggelam atau viral. Ia bisa hilang di antara konten hiburan, atau justru meledak sebagai destinasi “hidden gem”.

Masalahnya, perhatian digital sering datang tanpa pemahaman historis yang utuh. Orang bisa datang untuk konten, tetapi lupa konteks. Padahal Ngurawan bukan sekadar spot foto vintage. Ia menyimpan jejak Hindu-Syiwa, prasasti abad ke-12, serta perdebatan panjang antararkeolog tentang lokasi pasti Gelang-Gelang.

Sebagian ahli, seperti Krom, menyamakan Gelang-Gelang dengan Daha atau Kediri. Sementara Poerbatjaraka dan tim arkeologi Yogyakarta melihat toponim dan lokasi geografis yang mengarah ke wilayah Dolopo, termasuk Ngurawan.

Perdebatan itu menunjukkan satu hal: sejarah tidak selalu final. Ia terus ditafsirkan ulang. Dan Ngurawan berdiri di tengah tafsir itu.

Refleksi Tabooo: Kerajaan yang Tidak Ingin Ramai

Ngurawan mengajarkan sesuatu yang pelan tapi dalam. Tidak semua warisan budaya perlu lampu sorot besar untuk tetap berarti. Kadang ia cukup hidup dalam ritual, dalam cerita sesepuh, dalam prasasti yang setengah aus.

Di saat generasi sekarang sibuk mencari identitas lewat nostalgia kerajaan besar, Ngurawan justru menawarkan versi yang lebih sunyi. Ia tidak megah, tetapi ia nyata. Ia tidak viral, tetapi ia bertahan.

Mitos tentang pejabat yang lengser mungkin terdengar absurd bagi sebagian orang. Namun mitos itu sebenarnya menyimpan pesan simbolik kekuasaan itu sementara. Kerajaan runtuh. Penguasa berganti. Yang tersisa hanya tanah, batu, dan cerita.

Dan mungkin, justru di sanalah letak kekuatan Ngurawan.

Suatu hari, mungkin ada pejabat yang datang tanpa rasa takut. Atau mungkin tidak. Namun tanah Ngurawan akan tetap diam, menyimpan lapisan sejarahnya.

Karena pada akhirnya, bukan pejabat yang membuat tempat menjadi sakral. Waktulah yang melakukannya. @dimas

Tags: BudayaJawajejakmadiunMajapahitNusantaraRitualSejarah

Kamu Melewatkan Ini

TABOOO Cultural Production Hadir di Bersih Desa Winongo

TABOOO Cultural Production Hadir di Bersih Desa Winongo

by dimas
Juni 30, 2026

TABOOO Cultural Production hadir di Bersih Desa Winongo untuk mengubah tradisi menjadi dokumentasi, pengetahuan, karya kreatif, dan intellectual property budaya....

Emil Dardak dan Bagus Panuntun Serukan Persaudaraan Pendekar

Emil Dardak dan Bagus Panuntun Serukan Persaudaraan Pendekar

by dimas
Juni 28, 2026

Emil Dardak dan F. Bagus Panuntun mengajak pendekar memperkuat persaudaraan, kepedulian, dan semangat guyub rukun dalam Suran Agung PSHWTM ke-123....

Suran Agung PSHWTM ke-123, Persaudaraan Jadi Kekuatan

Suran Agung PSHWTM ke-123, Persaudaraan Jadi Kekuatan

by dimas
Juni 28, 2026

Suran Agung PSHWTM ke-123 di Madiun menjadi momentum memperkuat persaudaraan, kerukunan, dan komitmen menjaga harmoni masyarakat. Tabooo.id: Madiun - Langkah...

Next Post
Kisah Ida dan Jejak Sungai dalam Setiap Goresan Batik

Kisah Ida dan Jejak Sungai dalam Setiap Goresan Batik

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id