Senin, Agustus 24, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

7 Ciri Orang Tulus: Kenapa Mereka Lebih Stabil dan Nyaman Jadi Diri Sendiri

by Anisa
Mei 8, 2026
in Health, Life
A A
Home Life Health
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Lifestyle – Pernah nggak, kamu scroll feed media sosial sambil mikir, “Huh, ini orang beneran apa lagi nge-FOMO sama eksistensi online-nya?” Di tengah dunia yang serba online, ketulusan jadi barang langka. Rasanya seperti nemuin Wi-Fi gratis yang kenceng dan stabil jarang, tapi bikin senang banget.

Tapi, apa sih sebenarnya orang tulus itu? Menurut psikologi, ketulusan lebih dari sekadar sopan atau baik hati. Ada istilah keren: authenticity, alias autentisitas. Psikolog asal London, Dr. Guy Winch, bilang kalau orang yang tulus punya kesehatan mental yang lebih stabil. Kenapa? Karena mereka nggak buang energi untuk pura-pura jadi orang lain. “Kita lebih cenderung percaya orang tulus karena mereka jujur sama diri sendiri, dan otomatis lebih jujur ke orang lain juga,” tulis Winch di Psychology Today (17/1/2026).

Tren Ketulusan: Bukan Sekadar Estetika Feed

Zaman sekarang, influencer dan konten estetik bikin kita terbiasa menilai orang dari highlight reel mereka. Padahal, data riset menunjukkan, Gen Z dan Milenial semakin capek sama performative life. Menurut survei dari Deloitte Global Gen Z & Millennial Survey, 57% responden mengaku lebih menghargai koneksi yang “real” dibandingkan sekadar konten yang Instagrammable.

Ini wajar, sih. Hidup di era online bikin kita sering menaruh topeng dari filter foto sampai narasi hidup yang dipoles. Orang tulus muncul sebagai oasis di gurun kepalsuan digital: mereka nggak peduli kamu nge-like postingannya atau nggak, yang penting mereka jujur sama diri sendiri dan orang lain.

Kenapa Ketulusan Jadi Tren?

Kalau mau ngulik lebih jauh, ketulusan itu nggak cuma soal good vibes. Ada alasan psikologisnya. Orang yang autentik cenderung:

Ini Belum Selesai

Lewat Karnaval, SD Tarakanita Tumbuhkan Kreativitas Anak

Ketika Jadi Camat Berarti Harus Menjawab 21.171 Orang Sekaligus

  1. Tidak haus perhatian – Mereka punya internalized self-esteem, percaya diri datang dari dalam. Dr. Travis Bradberry bilang, orang tulus melakukan sesuatu karena memang percaya itu benar, bukan karena pengin viral atau dapat like.
  2. Konsisten antara ucapan dan tindakan – Psikolog Carl Rogers menyebut ini kongruensi. Mereka nggak punya wajah dua; apa yang diucapkan, itulah yang dirasa.
  3. Tidak menghakimi orang lain – Karena nyaman dengan diri sendiri, mereka nggak merasa terancam sama keberhasilan atau kekurangan orang lain.
  4. Nyaman jadi diri sendiri – Winch menekankan, orang autentik lebih memilih tidak disukai karena jadi diri sendiri daripada disukai karena pura-pura.
  5. Tidak pamer atau flexing – Pencapaian atau materi bukan alat validasi, tapi sumber kepuasan pribadi.
  6. Berani mengakui kesalahan – Mereka bilang “maaf” tanpa drama, karena melihat kesalahan sebagai kesempatan belajar, bukan ancaman harga diri.
  7. Memiliki batasan jelas – Katanya no itu bentuk kejujuran dan penghormatan tertinggi, baik ke diri sendiri maupun orang lain.

Refleksi Santai: Apa Artinya Buat Kamu?

Kalau ditarik ke hidup sehari-hari, mengenali orang tulus itu butuh kesabaran. Mereka nggak selalu mudah terlihat tidak banyak highlight reel, nggak banyak flexing. Tapi, kalau kamu bisa menemukan orang dengan ciri-ciri di atas, itu seperti menemukan oase: aman, menenangkan, dan bikin mental kamu lebih stabil.

Fenomena ini juga bikin kita mikir: kalau orang tulus itu langka, bagaimana dengan diri kita sendiri? Sudahkah kita autentik atau cuma lagi main peran di feed dan grup chat? Menjadi tulus bukan berarti sempurna, tapi berani jujur sama ketidaksempurnaan diri sendiri.

Di era scroll tanpa henti, ketulusan bisa jadi “mata air” yang menyegarkan: energi positif yang menular, hubungan lebih dalam, dan lebih sedikit drama. Jadi, setiap kali kamu ketemu orang yang nggak haus perhatian, konsisten antara kata dan tindakan, serta nyaman jadi diri sendiri, hargai mereka. Mereka nggak cuma rare item di dunia sosial, tapi juga pengingat hal paling dasar dalam hidup: jujur pada diri sendiri itu priceless. (red)

Tags: EstetikaFomoGen ZPsikolog

Kamu Melewatkan Ini

LinkedIn Isinya “Saya Bangga Mengumumkan” Dan Gen Z Mengatakan: Skip Dulu, Kak.

LinkedIn Isinya “Saya Bangga Mengumumkan” Dan Gen Z Mengatakan: Skip Dulu, Kak.

by teguh
Juli 26, 2026

Ketika "Open to Work" seperti yang ada di Linkedin kalah pamor dari "Close Friends". Dunia kerja tak lagi dimulai dari...

Gen Z Menggeser LinkedIn: Dunia Kerja Resmi Masuk Era Algoritma

Gen Z Menggeser LinkedIn: Dunia Kerja Resmi Masuk Era Algoritma

by teguh
Juli 26, 2026

Terlepas dari tampilannya, dunia kerja sedang mengalami perubahan besar. Dunia Kerja Resmi Masuk Era Algoritma. Dulu, satu profil LinkedIn yang...

10 HP Xiaomi Masuk Daftar EOL: Masih Bisa Dipakai, Tapi Sampai Kapan Aman?

10 HP Xiaomi Masuk Daftar EOL: Masih Bisa Dipakai, Tapi Sampai Kapan Aman?

by teguh
Juli 19, 2026

Ponsel yang masuk masa End of Life (EOL) alias discontinue tidak otomatis berubah jadi barang rongsokan. Namun, tanpa pembaruan keamanan,...

Next Post
Konsep Otomatis

ALS dan Realita Hidup Modern: Saat Tubuh Melemah, Tapi Pikiran Tetap Bertahan

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id