Tabooo.id: Lifestyle – Pernah nggak, kamu scroll feed media sosial sambil mikir, “Huh, ini orang beneran apa lagi nge-FOMO sama eksistensi online-nya?” Di tengah dunia yang serba online, ketulusan jadi barang langka. Rasanya seperti nemuin Wi-Fi gratis yang kenceng dan stabil jarang, tapi bikin senang banget.
Tapi, apa sih sebenarnya orang tulus itu? Menurut psikologi, ketulusan lebih dari sekadar sopan atau baik hati. Ada istilah keren: authenticity, alias autentisitas. Psikolog asal London, Dr. Guy Winch, bilang kalau orang yang tulus punya kesehatan mental yang lebih stabil. Kenapa? Karena mereka nggak buang energi untuk pura-pura jadi orang lain. “Kita lebih cenderung percaya orang tulus karena mereka jujur sama diri sendiri, dan otomatis lebih jujur ke orang lain juga,” tulis Winch di Psychology Today (17/1/2026).
Tren Ketulusan: Bukan Sekadar Estetika Feed
Zaman sekarang, influencer dan konten estetik bikin kita terbiasa menilai orang dari highlight reel mereka. Padahal, data riset menunjukkan, Gen Z dan Milenial semakin capek sama performative life. Menurut survei dari Deloitte Global Gen Z & Millennial Survey, 57% responden mengaku lebih menghargai koneksi yang “real” dibandingkan sekadar konten yang Instagrammable.
Ini wajar, sih. Hidup di era online bikin kita sering menaruh topeng dari filter foto sampai narasi hidup yang dipoles. Orang tulus muncul sebagai oasis di gurun kepalsuan digital: mereka nggak peduli kamu nge-like postingannya atau nggak, yang penting mereka jujur sama diri sendiri dan orang lain.
Kenapa Ketulusan Jadi Tren?
Kalau mau ngulik lebih jauh, ketulusan itu nggak cuma soal good vibes. Ada alasan psikologisnya. Orang yang autentik cenderung:
- Tidak haus perhatian – Mereka punya internalized self-esteem, percaya diri datang dari dalam. Dr. Travis Bradberry bilang, orang tulus melakukan sesuatu karena memang percaya itu benar, bukan karena pengin viral atau dapat like.
- Konsisten antara ucapan dan tindakan – Psikolog Carl Rogers menyebut ini kongruensi. Mereka nggak punya wajah dua; apa yang diucapkan, itulah yang dirasa.
- Tidak menghakimi orang lain – Karena nyaman dengan diri sendiri, mereka nggak merasa terancam sama keberhasilan atau kekurangan orang lain.
- Nyaman jadi diri sendiri – Winch menekankan, orang autentik lebih memilih tidak disukai karena jadi diri sendiri daripada disukai karena pura-pura.
- Tidak pamer atau flexing – Pencapaian atau materi bukan alat validasi, tapi sumber kepuasan pribadi.
- Berani mengakui kesalahan – Mereka bilang “maaf” tanpa drama, karena melihat kesalahan sebagai kesempatan belajar, bukan ancaman harga diri.
- Memiliki batasan jelas – Katanya no itu bentuk kejujuran dan penghormatan tertinggi, baik ke diri sendiri maupun orang lain.
Refleksi Santai: Apa Artinya Buat Kamu?
Kalau ditarik ke hidup sehari-hari, mengenali orang tulus itu butuh kesabaran. Mereka nggak selalu mudah terlihat tidak banyak highlight reel, nggak banyak flexing. Tapi, kalau kamu bisa menemukan orang dengan ciri-ciri di atas, itu seperti menemukan oase: aman, menenangkan, dan bikin mental kamu lebih stabil.
Fenomena ini juga bikin kita mikir: kalau orang tulus itu langka, bagaimana dengan diri kita sendiri? Sudahkah kita autentik atau cuma lagi main peran di feed dan grup chat? Menjadi tulus bukan berarti sempurna, tapi berani jujur sama ketidaksempurnaan diri sendiri.
Di era scroll tanpa henti, ketulusan bisa jadi “mata air” yang menyegarkan: energi positif yang menular, hubungan lebih dalam, dan lebih sedikit drama. Jadi, setiap kali kamu ketemu orang yang nggak haus perhatian, konsisten antara kata dan tindakan, serta nyaman jadi diri sendiri, hargai mereka. Mereka nggak cuma rare item di dunia sosial, tapi juga pengingat hal paling dasar dalam hidup: jujur pada diri sendiri itu priceless. (red)




