Pagi itu, perhatian tidak hanya tertuju pada halaman Pondok Modern Darussalam Gontor. Ribuan santri, alumni, tamu undangan, dan tokoh pendidikan berkumpul untuk menandai 100 tahun perjalanan pesantren yang berdiri sejak 1926.
Tabooo.id – Pada Sabtu, 19 September 2026, Presiden Prabowo Subianto menghadiri resepsi kesyukuran 100 tahun Gontor di Ponorogo, Jawa Timur. Sebelum menuju kompleks pondok, Presiden dijadwalkan meresmikan Fakultas Kedokteran Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor.
Dua agenda itu terlihat sederhana jika dibaca sebagai seremoni. Namun, jika ditarik lebih jauh, keduanya memperlihatkan perubahan posisi pesantren dalam lanskap pendidikan Indonesia.
Gontor tidak hanya sedang merayakan usia. Pesantren juga sedang menunjukkan bagaimana tradisi pendidikan Islam berusaha membaca kebutuhan zaman.
100 Tahun Gontor: Ketika Negara Datang ke Halaman Pesantren
Kehadiran Presiden memberi dimensi lain pada peringatan satu abad Gontor. Pemerintah menyebut kunjungan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan pendidikan pesantren dan sumber daya manusia. Pada saat yang sama, hubungan negara dan pesantren sebenarnya bukan cerita baru.
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren memberi dasar hukum bagi pengakuan, afirmasi, dan fasilitasi negara terhadap pesantren. Regulasi itu juga mengakui tiga fungsi pesantren: pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Artinya, negara tidak lagi melihat pesantren hanya sebagai institusi pendidikan keagamaan dalam pengertian sempit. Pesantren memperoleh ruang yang lebih jelas dalam sistem pendidikan nasional. Namun, pengakuan hukum saja belum menjawab seluruh persoalan.
Tantangan berikutnya justru berada di dalam ruang pendidikan itu sendiri. Bagaimana pesantren mempertahankan karakter, tradisi, dan nilai yang menjadi identitasnya sambil menghadapi tuntutan ilmu pengetahuan, teknologi, profesi, serta kebutuhan dunia kerja? Di titik inilah perjalanan Gontor menjadi menarik.
Yang Berubah Bukan Ruhnya, Melainkan Ruang Geraknya
Selama puluhan tahun, pesantren identik dengan kitab, asrama, masjid, kiai, santri, dan kehidupan komunal. Sekarang, lanskap itu semakin luas.
Pemerintah sendiri mendorong pesantren agar mampu melahirkan generasi yang menguasai ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan dan teknologi. Wakil Menteri Agama Muhammad Syafi’i pada April 2026 menyebut arah tersebut sebagai upaya menjadikan pesantren pusat ilmu dan karakter.
Menteri Agama Nasaruddin Umar juga menekankan pentingnya kemampuan pesantren beradaptasi tanpa meninggalkan nilai keislaman yang menjadi fondasi pendidikan.
Pesan itu penting karena modernisasi pesantren tidak sesederhana menambah gedung, laboratorium, atau program studi baru.
Modernisasi menyentuh pertanyaan yang lebih dalam untuk apa pendidikan pesantren disiapkan?
Jika jawabannya hanya untuk mengejar standar akademik, pesantren berisiko kehilangan kekhasannya. Sebaliknya, jika pesantren menolak perubahan, jarak dengan kebutuhan masyarakat modern bisa semakin lebar.
Karena itu, persoalannya bukan memilih tradisi atau modernitas. Persoalannya adalah menemukan cara agar keduanya bisa berjalan dalam satu ekosistem pendidikan.
Fakultas Kedokteran dan Pertanyaan yang Lebih Besar
Peresmian Fakultas Kedokteran UNIDA Gontor menjadi simbol paling konkret dari perubahan tersebut.
UNIDA Gontor tidak sekadar membuka ruang belajar baru. Program pendidikan kedokterannya menggabungkan ilmu kedokteran modern dengan nilai Islam dan prinsip pendidikan pesantren. Program profesinya juga menekankan kompetensi klinis, etika medis, kemampuan analitis, serta pengabdian kepada masyarakat.
Di sinilah narasi tentang pesantren memasuki babak berbeda. Seorang santri tidak lagi harus memilih antara lingkungan pendidikan pesantren dan bidang ilmu modern. Secara kelembagaan, ruang itu mulai dipertemukan.
Gontor sendiri mencatat sejumlah agenda akademik sebagai bagian dari perjalanan menuju abad kedua. Selain Fakultas Kedokteran, lembaga tersebut menyebut akreditasi unggul UNIDA Gontor, Global Islamic Holistic Education Summit, serta World Muslim Scout Jamboree sebagai bagian dari legasi strategis.
Dengan begitu, Fakultas Kedokteran bukan sekadar tambahan daftar fakultas. Ia menjadi pertanyaan tentang sejauh mana nilai pesantren dapat masuk ke profesi yang membutuhkan standar keilmuan, teknologi, riset, dan kompetensi tinggi.
Pesantren Sedang Bernegosiasi dengan Zaman
Ini bukan sekadar pesantren yang membuka fakultas kedokteran. Ini adalah gambaran tentang bagaimana institusi pendidikan tradisional sedang bernegosiasi dengan kebutuhan zaman. Negosiasi itu tidak selalu mudah.
Pesantren harus menjaga tradisi sekaligus memenuhi tuntutan akademik. Mereka harus mempertahankan karakter sambil membuka ruang bagi riset dan teknologi. Pada saat yang sama, lembaga pendidikan juga harus memastikan lulusannya memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, ukuran keberhasilan transformasi tidak cukup dilihat dari jumlah fakultas atau megahnya fasilitas.
Pertanyaan yang lebih penting justru berada di baliknya. Apakah modernisasi tersebut benar-benar memperluas manfaat pendidikan bagi santri dan masyarakat?
Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika negara mulai memberikan perhatian lebih besar kepada ekosistem pesantren.
UU Pesantren memberikan landasan untuk kesetaraan akses pendidikan dan kesempatan kerja bagi lulusan pesantren. Regulasi tersebut juga membuka ruang bagi dukungan pendanaan untuk pengembangan pesantren.
Dengan demikian, ekspansi pendidikan pesantren membawa konsekuensi baru. Semakin besar ruang yang diberikan, semakin besar pula tuntutan terhadap kualitas, tata kelola, akuntabilitas, dan kemampuan beradaptasi.
Dari Halaman Pesantren ke Masa Depan Indonesia
100 tahun Gontor akhirnya bukan hanya cerita tentang masa lalu. Ia juga menjadi cermin perubahan pendidikan Indonesia.
Pesantren telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kini, institusi tersebut semakin aktif memasuki ruang pendidikan tinggi, profesi, teknologi, kesehatan, dan jaringan global.
Namun, ekspansi itu tidak harus berarti meninggalkan akar. Justru tantangannya adalah membuktikan bahwa nilai lama masih bisa menjawab persoalan baru.
Gontor memasuki 100 tahun dengan simbol yang kuat Al-Qur’an tetap berada di pusat perayaan, sementara Fakultas Kedokteran berdiri sebagai salah satu penanda ekspansi akademik. Gontor sendiri menyebut peluncuran Mushaf Al-Qur’an karya ustaz dan santrinya sebagai simbol kesiapan memasuki abad kedua.
Di situlah paradoks menariknya. Pesantren ingin bergerak maju, tetapi tidak ingin kehilangan alasan mengapa ia berdiri.
Bagi santri, orang tua, dan masyarakat, pertanyaannya akhirnya menjadi sangat sederhana di mana generasi berikutnya belajar ilmu, membangun karakter, dan menyiapkan masa depan?
Jawabannya mungkin tidak lagi hanya sekolah atau kampus. Pesantren juga sedang mengambil bagian di dalamnya.
Dan ketika pesantren masuk semakin jauh ke panggung pendidikan nasional, tantangannya bukan lagi sekadar membuktikan bahwa ia mampu bertahan.
Tantangannya adalah membuktikan bahwa tradisi bisa tumbuh tanpa kehilangan ruhnya.
Ketika Tradisi Memilih Jalan ke Depan
100 tahun Gontor bukan hanya tentang seberapa lama pesantren bertahan. Ini tentang seberapa jauh sebuah tradisi pendidikan mampu membaca masa depan tanpa menghapus jejak masa lalunya.
Pesantren kini tidak hanya menjaga warisan. Ia juga sedang memperluas ruang geraknya—dari pendidikan agama menuju ilmu pengetahuan, kesehatan, teknologi, hingga ruang pengabdian yang lebih luas.
Pada akhirnya, tantangannya bukan sekadar menjadi modern. Tantangannya adalah bergerak maju tanpa kehilangan ruh yang membuat pesantren tetap berarti. @teguh








