1.750 pesilat mengikuti Open Turnamen Pencak Silat Piala Panglima TNI di Solo, lengkap dengan coaching clinic dan door prize sepeda listrik.
Tabooo.id: Surakarta – GOR Manahan, Surakarta, dipenuhi 1.750 pesilat dari berbagai daerah, Jumat (11/9/2026) siang. Mereka bertarung dalam Open Turnamen Pencak Silat Piala Panglima TNI.
Sebanyak 320 kontingen mengikuti turnamen berskala nasional ini. Kejuaraan berlangsung selama tiga hari, 11-13 September 2026.
TNI menggelar turnamen ini untuk menyambut HUT ke-81 TNI pada 5 Oktober 2026. Ajang tersebut juga menjadi ruang bagi atlet untuk mengejar prestasi.
1.750 Pesilat Adu Kemampuan
Komandan Korem 074/Warastratama Kolonel Inf M. Arry Yudistira membuka turnamen di GOR Manahan.
Sejumlah Komandan Kodim dan Komandan Lanud Adi Soemarmo turut menghadiri pembukaan.
Arry mengatakan turnamen ini memiliki target lebih besar dari sekadar perayaan HUT TNI.
Menurutnya, Piala Panglima TNI ikut mendorong perkembangan olahraga pencak silat di tingkat nasional.
“Event ini skala nasional, Open Turnamen Pencak Silat Piala Panglima TNI untuk mendukung prestasi olahraga nasional,” kata Arry.
Para peserta akan bertanding selama tiga hari. Mereka membawa target masing-masing, mulai dari pengalaman hingga peluang meraih prestasi.
Kategori TNI-Polri dan Umum Dipisah
Panitia membagi peserta dalam kategori TNI-Polri dan kategori umum.
Pembagian ini membuat proses pembinaan atlet lebih terarah. Panitia juga ingin menemukan pesilat potensial untuk pembinaan lanjutan.
“Kami juga nanti mencari atlet-atlet yang mungkin bisa dibina lagi lebih jauh dan lebih intensif,” ujar Arry.
Meski begitu, personel TNI-Polri tetap bisa mengikuti kategori umum. Aturan tersebut membuka kesempatan bagi peserta untuk menghadapi lawan dengan latar belakang berbeda.
Ada Coaching Clinic dan Door Prize
Turnamen ini punya sisi menarik di luar pertandingan.
Panitia menghadirkan coaching clinic bersama praktisi pencak silat sekaligus atlet Indonesia, Deni Aprisani.
Sesi tersebut memberi kesempatan peserta untuk mendapat pengalaman dan wawasan langsung dari praktisi pencak silat.
Tak berhenti di situ, panitia juga menyiapkan berbagai door prize untuk peserta dan pengunjung.
Hadiah yang tersedia cukup beragam, mulai dari sepeda hingga sepeda listrik.
Kehadiran coaching clinic dan door prize membuat suasana turnamen terasa lebih hidup. Ajang ini tidak hanya menghadirkan pertandingan, tetapi juga pengalaman bagi peserta dan masyarakat yang datang.
Pemkot Soroti Nilai Budaya
Pemerintah Kota Surakarta ikut menyambut positif turnamen tersebut.
Mewakili Wali Kota Surakarta Respati Ardi, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Surakarta Purwanti menghadiri pembukaan.
Purwanti menilai turnamen ini bisa memperkuat hubungan antara TNI, Polri, atlet, pelatih, dan masyarakat.
“Selain menjadi ajang untuk mengasah kemampuan dan meningkatkan prestasi olahraga, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi,” kata Purwanti.
Menurut Pemkot Surakarta, pencak silat tidak hanya soal menang dan kalah.
Olahraga ini memiliki akar kuat dalam budaya Indonesia. Pencak silat juga mengajarkan disiplin, keberanian, ketangguhan, pengendalian diri, dan sportivitas.
Bukan Cuma Soal Podium
Sebanyak 1.750 peserta membuat turnamen ini lebih dari sekadar agenda tiga hari.
Arena Manahan menjadi tempat para pesilat menguji kemampuan. Di saat yang sama, panitia mencari bibit atlet yang punya potensi untuk berkembang.
Coaching clinic memberi warna lain dalam turnamen. Door prize juga membuat peserta punya pengalaman berbeda di luar arena pertandingan.
Pertandingan selesai dalam tiga hari. Namun, pembinaan atlet harus berjalan jauh lebih lama.
Piala Panglima TNI akhirnya bukan hanya tentang siapa yang berdiri di podium.
Ajang ini juga tentang siapa yang terus berlatih, berkembang, dan membawa pencak silat ke level berikutnya.
GOR Manahan menjadi panggung. Pesilat menjadi pemainnya. Masa depan pencak silat menjadi pertaruhannya.@eko








