Hari keempat pencarian, lima jurnalis yang hilang saat meliput Anak Krakatau belum ditemukan. SAR kembali menemukan pelampung oranye.
Tabooo.id – Laut tidak selalu memberi jawaban. Kadang, laut hanya melemparkan satu benda kecil ke permukaan.
Pada hari keempat pencarian, tim SAR kembali menemukan sebuah life jacket berwarna oranye. Tim mencari lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Temuan itu tentu memunculkan harapan. Namun, petugas belum menemukan kepastian.
Pelampung Oranye dari Laut
Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad mengatakan KAL Anyer berangkat dari Dermaga Pelindo Ciwandan pukul 09.00 WIB.
Kapal itu kemudian menyisir perairan sekitar Gunung Anak Krakatau. Sekitar pukul 14.45 WIB, awak kapal melihat satu life jacket berwarna oranye.
KAL Anyer membawa temuan tersebut kembali ke Dermaga Ciwandan. Setelah itu, awak kapal menyerahkan pelampung kepada tim SAR di posko Anjungan Ciwandan.
Kini, tim terkait memeriksa identitas dan spesifikasi pelampung tersebut.
Danlanal Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani mengatakan pelampung itu muncul sekitar 16,2 nautical mile dari Gunung Anak Krakatau.
Lokasinya berada di sebelah timur gunung. Posisi itu juga berbeda dari lokasi penemuan pelampung pertama.
Namun, Wawan belum mengaitkan pelampung tersebut dengan rombongan yang hilang.
Tim SAR bersama Polairud dan Polri akan memeriksa temuan itu lebih lanjut.
Artinya sederhana pelampung sudah ditemukan, tetapi delapan orang yang dicari belum.
Berangkat Membawa Kamera, Pulang Menjadi Pertanyaan
Peristiwa ini bermula pada Senin, 7 September 2026.
Sekitar pukul 14.00 WIB, rombongan berangkat menggunakan speedboat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang.
Mereka menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas vulkanik.
Lima jurnalis ikut dalam perjalanan tersebut.
Mereka ialah M. Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita Antara, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews.id, Firdaus Wajidi dari Kantor Berita Anadolu, dan Donal Husni, pewarta foto lepas.
Selain lima jurnalis, tiga orang lain ikut berada di dalam kapal.
Mereka terdiri atas nakhoda, seorang ABK, dan seorang pemandu.
Total delapan orang kini menjadi fokus pencarian tim SAR.
Mereka berangkat untuk bekerja. Namun, perjalanan itu berubah menjadi operasi pencarian.
Ketika Benda Lebih Dulu Ditemukan daripada Manusia
Ada ironi dalam pencarian ini.
Tim menemukan benda yang dirancang untuk membantu manusia bertahan di laut. Namun, manusia yang mungkin menggunakan benda itu belum ditemukan.
Pelampung tersebut menjadi petunjuk baru. Tetapi, petunjuk belum sama dengan jawaban.
Tim masih harus memeriksa asal-usul dan spesifikasinya.
Karena itu, publik belum bisa menganggap pelampung tersebut sebagai bukti keberadaan rombongan.
Di sinilah pencarian memasuki bagian paling berat setiap temuan bisa menyalakan harapan, tetapi juga bisa melahirkan pertanyaan baru.
Hari berganti.
Operasi pencarian terus berjalan.
Sementara itu, keluarga, rekan kerja, dan publik menunggu kabar dari laut.
Ini Bukan Sekadar Pencarian
Sekilas, kasus ini terlihat seperti operasi SAR biasa.
Namun, delapan orang hilang membuat cerita ini jauh lebih besar.
Lima dari mereka datang sebagai jurnalis. Mereka membawa pekerjaan, kamera, dan tujuan liputan.
Lalu, komunikasi terputus.
Kini, tim SAR mencoba menyusun kembali jejak perjalanan mereka melalui berbagai temuan di laut.
Satu pelampung bisa menjadi petunjuk.
Satu lokasi bisa membuka arah pencarian.
Namun, satu benda belum cukup untuk menjawab nasib delapan manusia.
Ini bukan sekadar kejadian. Ini pertarungan melawan ketidakpastian.
Laut memberi petunjuk sedikit demi sedikit. Waktu justru terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.
Laut Tidak Mengenal Deadline
Jurnalis terbiasa mengejar deadline.
Berita harus naik. Foto harus terkirim. Peristiwa harus segera sampai kepada publik.
Namun, laut tidak mengenal deadline.
Laut tidak peduli siapa yang sedang mengejar berita. Laut juga tidak peduli kamera siapa yang sedang dibawa.
Karena itu, setiap temuan harus melalui pemeriksaan.
Pelampung oranye tersebut boleh menghadirkan harapan. Tetapi, harapan tidak boleh menggantikan proses identifikasi.
Sebab dalam pencarian orang hilang, kesimpulan yang terlalu cepat bisa sama berbahayanya dengan ketidakpastian yang terlalu panjang.
Untuk saat ini, satu fakta tetap berdiri.
Tim SAR masih mencari lima jurnalis dan tiga awak kapal.
Pelampung oranye menjadi petunjuk terbaru. Namun, laut masih menyimpan jawaban yang dicari banyak orang.
Bagi publik, mereka mungkin hanya nama dalam berita. Namun, bagi redaksi, mereka adalah rekan yang seharusnya kembali membawa hasil liputan.
Sementara bagi keluarga, mereka bukan angka dalam operasi SAR. Mereka adalah orang-orang yang hingga kini masih ditunggu kepulangannya.
Dan sampai saat ini, pertanyaannya masih sama kapan mereka pulang?
Mereka adalah orang yang ditunggu pulang.
Dan sampai saat ini, pertanyaannya masih sama:
Kapan mereka pulang? @dimas








