Dua pelampung ditemukan Tim SAR di Selat Sunda saat mencari lima jurnalis yang hilang kontak ketika meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
Tabooo.id: Banten – Dua pelampung oranye muncul di sekitar perairan Selat Sunda, Kamis (10/9/2026). Tim SAR menemukan benda itu saat mencari lima jurnalis yang hilang kontak ketika meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
Temuan tersebut memberi titik terang bagi operasi pencarian. Namun, tim belum memastikan apakah kedua pelampung itu berkaitan dengan para jurnalis.
Pencarian pun terus berlanjut.
Hari Ketiga, Area Pencarian Makin Luas
Tim SAR memasuki hari ketiga operasi dengan kekuatan lebih besar. Mereka menyisir pesisir pulau-pulau kecil di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.
KAL Anyer 1-3-64 mulai bergerak sejak pukul 07.00 WIB. Kapten Laut (P) Edi Widada memimpin pengerahan kapal tersebut.
Edi membenarkan penemuan pelampung itu.
“Pelampung warna oranye ditemukan Tim SAR di sekitar perairan Selat Sunda,” ujar Edi, Kamis.
Namun, temuan benda tidak otomatis menjawab keberadaan korban. Tim masih harus mencari petunjuk lain untuk memastikan posisi mereka.
Karena itu, operasi terus bergerak dari satu sektor ke sektor berikutnya.
Enam Sektor, 11 Kapal, Lebih dari 300 Personel
Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengatakan tim terus memperluas pola pencarian.
Pada hari pertama, tim membagi operasi ke tiga sektor. Hari kedua, mereka memperluasnya menjadi lima sektor.
Kini, tim mengembangkan pencarian hingga enam sektor.
Basarnas mengerahkan 11 kapal dalam operasi tersebut. Kekuatan itu mencakup KRI, kapal TNI Angkatan Laut, kapal kepolisian, kapal Basarnas, dan unsur SAR lainnya.
Lebih dari 300 personel ikut bergerak di lapangan.
Syafii menjelaskan bahwa seluruh unsur bekerja di bawah koordinasi SAR Mission Coordinator. Kepala Kantor SAR Banten menjalankan fungsi tersebut.
Dua kantor SAR juga ikut memperkuat operasi. Keduanya berasal dari Banten dan Lampung.
Bukan Cuma Lima Jurnalis
Basarnas mencari delapan orang dalam operasi ini. Lima di antaranya merupakan jurnalis yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
Tiga orang lainnya juga masuk dalam daftar pencarian.
Pemerintah daerah ikut mendukung operasi tersebut. Aparat keamanan dan BPBD juga mengerahkan kekuatan untuk membantu tim SAR.
Syafii mengatakan pemerintah memberi perhatian khusus terhadap pencarian ini. Ia berharap tim segera menemukan seluruh korban dan membawa mereka keluar dalam kondisi selamat.
Namun, hingga Kamis, tim belum mengumumkan penemuan korban.
Cuaca Ekstrem Jadi Tantangan
Tim SAR juga harus menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Situasi itu membuat pencarian di perairan Selat Sunda membutuhkan kewaspadaan tinggi. Tim tidak hanya mengandalkan jumlah kapal.
Mereka harus menentukan sektor pencarian dengan cermat. Mereka juga harus menyesuaikan pergerakan armada dengan kondisi laut.
Setiap temuan kemudian menjadi petunjuk baru.
Dua pelampung oranye menjadi salah satunya.
Tetapi, petunjuk tetap membutuhkan verifikasi.
Ketika Pelampung Menjadi Harapan
Bagi tim SAR, sebuah pelampung bisa menjadi petunjuk penting. Bagi keluarga korban, benda kecil itu bisa membawa harapan besar.
Namun, harapan tidak boleh berubah menjadi kesimpulan sebelum tim menemukan bukti yang cukup.
Di sinilah operasi pencarian memasuki fase paling menegangkan.
Tim harus membaca setiap kemungkinan. Mereka harus menyisir wilayah lebih luas sambil mempertahankan koordinasi antarkapal.
Sementara itu, keluarga dan rekan kerja para jurnalis masih menunggu satu hal sederhana.
Kabar bahwa mereka ditemukan.
Ini Bukan Sekadar Operasi SAR
Peristiwa ini bukan sekadar cerita tentang kapal yang menyisir laut.
Di balik peta sektor pencarian, ada manusia yang menunggu. Ada keluarga yang belum mendapat kepastian. Ada pula ruang redaksi yang kehilangan orang-orangnya di tengah tugas jurnalistik.
Para jurnalis itu datang untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Mereka menjalankan pekerjaan untuk mencari dan menyampaikan informasi kepada publik.
Kini, pencarian justru mengubah mereka menjadi pusat perhatian.
Ironinya sulit diabaikan.
Mereka berangkat untuk mencari berita. Sekarang, publik menunggu berita tentang mereka.
Dampaknya Buat Kamu
Peristiwa ini menunjukkan satu hal penting: kerja jurnalistik di wilayah bencana memiliki risiko nyata.
Keberanian mengejar informasi saja tidak cukup. Jurnalis juga membutuhkan perencanaan keselamatan, perlengkapan yang sesuai, komunikasi, dan koordinasi lapangan.
Sebab, satu keputusan di wilayah berbahaya bisa mengubah seluruh cerita.
Bagi publik, kasus ini juga menjadi pengingat agar tidak menyebarkan informasi yang belum jelas.
Basarnas meminta masyarakat mengikuti perkembangan melalui posko SAR terpadu. Posko tersebut melakukan rapat koordinasi pada pagi hari dan evaluasi pada sore hari.
Langkah itu penting untuk mencegah informasi simpang siur.
Selat Sunda Belum Memberi Jawaban
Dua pelampung sudah ditemukan. Delapan orang masih dalam pencarian.
Tim SAR terus memperluas penyisiran. Kapal bergerak di enam sektor dengan dukungan ratusan personel.
Namun, satu pertanyaan masih menggantung.
Di mana mereka?
Untuk saat ini, belum ada jawaban.
Yang ada baru jejak oranye di tengah laut. Dan bagi mereka yang menunggu, jejak itu adalah harapan yang belum berubah menjadi kepastian.
Selat Sunda belum mengembalikan mereka. Pencarian masih berlangsung. @dimas








